Permainan Tujuh Nyawa

Bobby Mahmud
Chapter #38

PTN36 — SEMUA ATAU TIDAK SAMA SEKALI

Malam keenam di dalam bangunan itu terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya—bukan lagi dipenuhi kecemasan individual tentang ronde berikutnya, melainkan sesuatu yang menyerupai kebersamaan yang telah mengeras menjadi fondasi baru di antara ketujuh orang yang dulu adalah orang-orang asing penuh kecurigaan. Mereka makan malam bersama untuk pertama kalinya sejak permainan dimulai, duduk mengelilingi meja kecil di sudut ruangan, berbagi cerita tentang keluarga mereka masing-masing, tentang kehidupan yang menunggu di luar sana jika mereka berhasil keluar dengan selamat.

Damar bercerita tentang anaknya yang berusia empat tahun, tentang rencana untuk mengajaknya bertemu dengan anak Sari suatu hari nanti, dua anak yang kehilangan sosok penting dalam hidup mereka namun mungkin bisa menemukan semacam persaudaraan baru lewat hubungan yang akan ia bangun dengan keluarga sahabatnya. Bhirawa mendengarkan dengan penuh perhatian, sesuatu yang jauh berbeda dari kebiasaannya dulu yang selalu sibuk dengan pikirannya sendiri di setiap pertemuan sosial.

"Kau akan jadi ayah yang baik untuk anakmu," Marlina berkata kepada Damar, senyum tulus terukir di wajahnya yang masih menyimpan kelelahan dari ronde-ronde sebelumnya.

Pagi keenam datang dengan cara yang sama seperti biasa, namun kali ini disertai perasaan berbeda—bukan lagi ketakutan murni, melainkan campuran kewaspadaan dan kepercayaan yang telah mereka bangun bersama selama lima hari terakhir. Mereka berkumpul di ruangan utama, duduk berdekatan satu sama lain, sebuah perubahan kecil namun bermakna dari formasi terpisah yang mereka tunjukkan di hari pertama.

Layar raksasa menyala, siluet yang sama muncul, nadanya kali ini terdengar berbeda, lebih berat, seolah menyadari bahwa mereka telah mendekati titik krusial dari seluruh permainan ini.

"Selamat pagi," suara itu menyapa. "Lima ronde telah kalian lewati dengan cara yang, saya akui, jauh melampaui ekspektasi saya ketika merancang permainan ini. Hari ini, ronde keenam akan menguji sesuatu yang paling fundamental—apakah solidaritas yang kalian bangun bisa bertahan ketika nasib kalian benar-benar sepenuhnya terikat satu sama lain, tanpa ruang sedikit pun untuk keputusan individual."

Sebuah dinding di sisi ruangan bergeser, memperlihatkan sebuah lorong baru, berbeda dari lorong replika tambang di ronde pertama—kali ini berupa sebuah ruangan luas dengan tujuh pilar besar yang harus didorong secara bersamaan untuk membuka pintu keluar di ujungnya.

"Ronde ini disebut Semua atau Tidak Sama Sekali," suara itu melanjutkan. "Ketujuh pilar itu harus didorong dengan kekuatan yang seimbang, dalam waktu yang bersamaan, selama sepuluh menit penuh tanpa henti. Jika satu orang saja berhenti, atau tidak mengerahkan kekuatan yang cukup, seluruh mekanisme akan gagal, dan kalian semua—tanpa kecuali—akan kehilangan tiga nyawa sekaligus. Namun jika kalian berhasil bersama-sama, kalian semua akan mendapatkan tiga nyawa tambahan, dibagi rata di antara kalian."

Hendra, yang mendengarkan penjelasan itu, langsung menghitung dalam kepalanya implikasi matematisnya—sebuah taruhan besar yang menguntungkan kolektif namun menghukum kolektif pula jika ada satu kegagalan individu, sebuah desain yang secara eksplisit menghapus kemungkinan strategi individual yang telah mewarnai ronde-ronde sebelumnya.

"Bagaimana jika salah satu dari kami secara fisik tidak cukup kuat untuk mendorong dengan kekuatan yang sama?" Slamet bertanya, mengingat kondisi fisiknya yang jauh dari prima setelah bertahun-tahun hidup nyaman sebagai kepala desa.

Lihat selengkapnya