Permainan Tujuh Nyawa

Bobby Mahmud
Chapter #39

PTN37 — TUJUH PILAR

Ruangan pilar itu jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan, langit-langitnya tinggi menjulang dengan pencahayaan temaram yang menambah kesan mencekam, tujuh pilar besi besar berdiri berjajar dalam formasi setengah lingkaran, masing-masing terhubung dengan mekanisme rumit yang mengarah ke pintu besar di ujung ruangan.

Mereka mengambil posisi masing-masing sesuai yang telah ditentukan, tangan mereka menempel pada permukaan dingin pilar besi itu, jantung berdebar menunggu instruksi untuk memulai. Wulan, di posisi tersulit, merasakan beban psikologis yang berat mengetahui kegagalannya bisa menghancurkan peluang semua orang, namun ia juga merasakan sesuatu yang menguatkan—kesadaran bahwa Bhirawa dan Hendra telah memposisikan diri mereka tepat di sampingnya, siap membantu kapan pun dibutuhkan.

"Mulai!" suara dari pengeras suara memberi aba-aba, dan ketujuh orang itu mulai mendorong pilar masing-masing dengan sekuat tenaga, otot-otot mereka menegang, keringat mulai membasahi wajah mereka dalam hitungan detik.

Layar hitung mundur di dinding menunjukkan sepuluh menit yang harus mereka lalui tanpa henti, angka yang terasa begitu panjang ketika setiap otot dalam tubuh mereka mulai berteriak protes akibat tekanan yang terus-menerus.

Dua menit pertama berjalan relatif lancar, tujuh pilar bergerak dengan kecepatan yang hampir seragam, namun pada menit ketiga, Wulan mulai merasakan lengannya gemetar hebat, kekuatannya mulai berkurang drastis dibandingkan tuntutan yang harus ia berikan pada pilar tersulit itu.

"Aku tidak sanggup," Wulan berteriak, panik mulai menguasai suaranya, membayangkan kegagalan yang akan menghancurkan peluang mereka semua.

"Bertahan!" Bhirawa berteriak balik, segera melepaskan sebagian tenaganya dari pilar sendiri untuk membantu mendorong pilar Wulan, gerakan yang berisiko mengurangi tenaga pada pilarnya sendiri namun perlu dilakukan demi menjaga keseimbangan kolektif.

Hendra, menyadari situasi itu, juga bergerak mendekat, tangannya ikut menekan pilar Wulan dari sisi lain, sementara Damar berteriak memberi semangat dari kejauhan, matanya tak lepas dari indikator kekuatan yang ditampilkan di layar kecil di atas setiap pilar.

"Empat menit tersisa!" suara dari pengeras suara mengingatkan, menambah tekanan psikologis yang sudah begitu berat pada tubuh mereka yang mulai kelelahan.

Marlina, yang berada di pilar sebelahnya, merasakan lengannya juga mulai lemas, namun ia mengingat kembali kata-kata Andi kemarin, tentang bagaimana ayahnya bekerja keras hingga akhir hayatnya demi keluarga—kenangan itu memberinya kekuatan tambahan yang tak ia sangka masih tersimpan dalam dirinya, mendorong pilarnya dengan tenaga yang bahkan melampaui batas yang ia kira mungkin.

Alya, yang merasakan tubuhnya mulai gemetar kelelahan, mengingat kembali janjinya kepada Bu Wati, tekad untuk menerbitkan kebenaran yang telah lama terpendam memberinya dorongan tambahan untuk terus bertahan meski setiap otot dalam tubuhnya berteriak untuk berhenti.

Slamet, di posisi yang relatif lebih ringan namun tetap menuntut, merasakan air mata bercampur keringat mengalir di wajahnya, teringat kembali wajah ibu tua di desanya, bertekad bahwa kali ini ia tidak akan mengecewakan siapa pun lagi, tidak dalam ujian sepenting ini.

Lihat selengkapnya