Permainan Tujuh Nyawa

Bobby Mahmud
Chapter #40

PTN38 — RONDE TERAKHIR DAN KEBENARAN

Ketujuh orang itu, masih terengah-engah namun dipenuhi kelegaan, duduk kembali di kursi masing-masing, token baru yang mereka terima berkilau di panel lengan kursi mereka, sebuah simbol kecil namun bermakna dari perjuangan kolektif yang baru saja mereka menangkan bersama.

Layar raksasa menyala kembali, namun kali ini sesuatu terasa berbeda—siluet yang selama ini menyembunyikan identitasnya mulai bergerak, perlahan melangkah lebih dekat ke arah kamera, bayangan yang selama ini samar mulai menunjukkan detail yang lebih jelas.

Ketujuh orang itu, yang baru saja duduk kembali setelah kemenangan kolektif di ronde keenam, merasakan ketegangan baru muncul menyaksikan perubahan tak terduga ini, menyadari bahwa mereka akan segera menyaksikan sesuatu yang tak pernah mereka duga sepanjang enam hari mengerikan namun juga transformatif ini.

Wulan, yang duduk paling dekat dengan layar, merasakan jantungnya berdegup kencang, insting yang telah terasah sepanjang permainan ini memberitahunya bahwa momen ini akan menjadi titik balik paling penting dari seluruh perjalanan mereka.

Marlina, yang duduk di sampingnya, menggenggam tangan Wulan erat, sebuah gestur kecil namun menenangkan yang telah menjadi kebiasaan baru di antara mereka sejak beberapa ronde terakhir, simbol solidaritas yang tak lagi memerlukan kata-kata untuk diungkapkan.

"Kalian telah mencapai ronde terakhir," suara itu berkata, nadanya kini terdengar berbeda, lebih lembut, hampir menyerupai kelelahan emosional yang serupa dengan yang mereka rasakan. "Ronde ketujuh ini sederhana namun akan menjadi ujian tersulit dari semuanya—satu dari kalian harus secara sukarela menyerahkan seluruh token yang dimiliki, kembali ke titik nol, sebagai simbol pengorbanan total yang akan mengakhiri permainan ini bagi kalian semua. Tanpa pengorbanan itu, permainan akan terus berlanjut tanpa batas waktu yang jelas. Kalian punya waktu dua menit untuk memutuskan siapa."

Keheningan yang menyelimuti ruangan itu terasa begitu berat, masing-masing menyadari beratnya pilihan yang harus mereka buat—siapa yang akan mengorbankan segalanya yang telah mereka perjuangkan demi mengakhiri penderitaan kolektif mereka.

Bhirawa adalah yang pertama berdiri, wajahnya tenang meski matanya menyimpan kesedihan. "Aku akan melakukannya. Aku sudah mendapatkan lebih dari yang aku layak dapatkan sepanjang permainan ini, dan aku pikir sudah saatnya aku memberikan kembali."

"Tidak," Damar memotong, berdiri juga. "Kau sudah berkorban banyak di ronde lelang. Biar aku yang melakukannya kali ini."

Perdebatan kecil namun penuh kasih itu berlanjut, masing-masing dari mereka menawarkan diri secara bergantian, sebuah pemandangan yang membuat siluet di layar terdiam lama, seolah menyaksikan sesuatu yang tak pernah ia duga akan terjadi.

"Cukup," suara itu akhirnya berkata, dan sesuatu dalam nadanya terdengar begitu berbeda, hampir menyerupai keharuan yang tulus. "Kalian baru saja lulus ronde ketujuh, meski kalian tidak menyadarinya. Ronde ini tidak pernah benar-benar tentang siapa yang menyerahkan tokennya. Ronde ini tentang apakah, di hadapan pilihan untuk saling mengorbankan demi keselamatan sendiri, kalian justru berebut untuk saling melindungi. Enam hari lalu, kalian akan saling menuding. Hari ini, kalian saling berebut untuk berkorban. Itu jawaban yang saya butuhkan. Permainan ini resmi berakhir sekarang."

Kebingungan menyelimuti wajah mereka semua, mencoba mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan.

Layar itu bergeser, memperlihatkan sosok yang selama ini tersembunyi di balik siluet—seorang pria muda, wajahnya menunjukkan bekas luka bakar yang serius di sisi kirinya, duduk di kursi roda, matanya menatap mereka dengan campuran kelegaan dan air mata yang mengalir tanpa bisa ia tahan.

Lihat selengkapnya