Menyeberangi Danau Beku
Hingga suatu malam jemari membeku
Bertahan lama menunggu penantianmu
Atas apa yang kau janjikan sedari lama
Perasaan begitu lapuk mulai saat itu
Senyum sendu gagal disembunyikan
Rintik air mata hangat terbasuh cemas
Hendakkah kau menghampiri sekali ini saja?
Hanya butuh bersandar diharapanku
Lembaran kertas diari kusam hanyalah hampa
Tak tahu harus mengejarmu seberapa lama lagi
Retaknya perlahan menggerus perlahan menyakiti
Hubungan saling menyandera keluh kiasan.
31 Desember 2022, nyaris 2 tahun lalu.
"Azka akhirnya pergi juga Ma…” Bibir getirku terpeleset, berekspresi datar. “Mama di mana, pulang Ma, Randy butuh Mama.”
Aku tertunduk kuyu, bersandar kepala lemah ke jendela kaca toko pengganti dinding. Memperhatikan pantulan sendiri–menyedihkan. Pukul 21.30 WITA, satu setengah jam lagi Vaneela Ice Cream akan segera menutup jam operasional, kendati pengunjung terlihat cukup meriah. Vanila parfait sebagai kompensasi atas kekalahanku, sebenarnya hanya kucolek bagian permukaan, sisa roti tengah hingga bawah tak pernah tersentuh ujung sendok. Padahal ini menu paling kesukaan. Aslinya kupesan atas harapan sungguh besar akan membalikkan suasana hati hancur lebur tiada bersisa. Bahkan sepatah kata ‘maaf’ pun tidak? Kubiarkan menggulung cair seiring waktu. Bentuknya kini tak beraturan.
Seperti kondisiku kini.
Lowong. Kebingungan, perasaan terluntang-lantung. Tiada tempat ingin dituju. Hari esok, apa masih sudi menyambutku? Menatap langit-langit plafon kuning gading, serupa pencahayaan kafe memang temaram, menambah aura dramatis. Jika pagi, tempat ini jauh lebih ceria, bernuansa cat dinding pastel lavender. Sepasang bola mata ini tetap terpatri memandangi kaca es tanpa disadari. Fungsi otak kian menurun, berpikiran positif ‘aku ini masih baik-baik saja’.