Ternyata aku dan Diaz memiliki umur terpaut jauh! Aku 31, sedangkan dirinya masih 24 tahun. Aku saja kaget! Kukira kami sepantaran. Mungkin rilisan gen z, berbadan besar, memiliki pembawaan supel, maka mudahlah bergaul dengan lintas usia manapun. Bahkan aku sering memergokinya gemar berbincang dengan tukang parkir, ketika kami pulang berbelanja di Indoapril. Membahas isu perekonomian negara saat tukang sempol menggoreng, depan kampusku, juga pernah. Diaz kebetulan gabut selepas waktu kosong jeda dua jam perpindahan ke mata kuliah berikutnya, menyempatkan mampir menengok ke kampusku. Mengantri di penjual gorengan masih mengadoni pisang, tetiba obrolan sudah menjurus ke muasal illuminati dan tatanan freemason sebagai gawangnya. Prinsipnya cukup simpel, ‘cowo mah temenan ama siapa aja, hayuk, asalkan bernyawa!’ Ya ga papa sih, asal bukan lintas dimensi aja.
2D misalnya.
Kampusku berada di Hayam Wuruk, sementara dia di Renon. Hanya perlu lima menit waktu ditempuh memisahkan kampus kami.
Aku sedang di masa penyusunan Laporan Tugas Akhir (LTA) Diploma 1 Desain Grafis dan Animasi. Bab demi bab kuselesaikan tanpa ada rintangan berarti. Mengenai kendalanya, justru di tempat magang. Di sana ternyata lebih mementingkan kinerja fisik ketimbang otak. Bulan pertama, bertepatan pesta rakyat pencoblosan tiap 5 tahun sekali, tempat magangku ditunjuk menjadi sarana segala cetak-mencetak undangan mencoblos juga kebutuhan pemilu, nantinya dikirimkan ke setiap keluarga di desa se-Bali. Dan terjadilah selama dua minggu lembur berturut-turut tanpa absen seharipun! Aku, yang memang sedari kecil memiliki fisik terbilang rapuh, tetap bersikeras masuk magang apapun resikonya. Tersedianya kertas absensi di akhir jilid LTA, tentu nantinya menjadi pertanyaan bagi siapa saja yang mengintipnya sebagai referensi. Malu.
Setelah tiga bulan lamanya, LTA rampung ditandai pembubuhan ACC tanda tangan dosen pembimbing. Dosenku lumayan komunikatif. Lucunya, dosen Tipografi bernama Bu Ellis ini, ternyata mengajar pula di kampus Diaz, berbeda matkul. Otomatis seminggu sekali gantian aku menyambangi kampus Diaz, biasanya setelah Bu Ellis selesai mengajar pukul 13.00 WITA. Awalnya aku minder, namun karena terlampau sering, hilang rasa malunya. Dari parkiran menuju gedung utama, sudah takjub dibuatnya. Melihat kampus besar seperti mini mall, tiap lantai dibekali lift (besar kemungkinan untuk sepuh, kendatipun remaja jompo turut menjejali). Ramai sekali. Aku senang mendengar keriuhan mahasiswa, terutama ketika membicarakan tugas, acara UKM hingga dari kejauhan kulihat segerombolan mahasiswa bermuka beringsut diomeli Ibu dosen perihal absensi berpengaruh besar terhadap nilai.
Tak butuh waktu lama menemui Diaz, bertepatan jam makan siang. Aku diperkenalkan kawan-kawan akrabnya dari zaman ospek, rata-rata berpencar lain jurusan. Kami makan di warung Padang belakang kampus. Aku berjanji padanya, setelah lulus nanti bakal sering-sering menengok keluarganya. Diapun mengiyakan, menasehatiku agar tak terlalu mengambil pusing.
Hari sidang jurusanku ditentukan Sabtu malam. Deg-deg-an sudah pasti. Terlebih teman-temanku duduk di luar kelas sambil menguping mahasiswa dicecar dosen pembimbing dan perwakilan akademik, makin pendiam mereka. Padahal, jurusan kami merupakan salah satu kelas terkenal bandel biang ribut, hingga harus rela didatangi langsung oleh kepala akademik, ditegur kesekian kalinya. Maklum jurusanku hanya berjumlah sebelas orang, lima orang diantaranya Diploma 1, sisanya Diploma 2. Aku sengaja mengambil undian sidang paling akhir–membiarkan teman-temanku maju duluan supaya mereka lebih lega. Justru akulah yang resah bila harus maju pada urutan awal.
Karena aku tidak memiliki problematika akan karya tulis begitupun karya fisikku, menciptakan logo diaplikasikan kemudian diukir dalam wujud tiga dimensi berbahan styrofoam, jadilah dosen penguji hanya sekelumit menghujani pertanyaan. Aku menyeruak membusungkan dada berperasaan plong menyusul riuh rendah teman-teman sejurusan. Kami semua dinyatakan lulus meski ternodai revisi. Sebelum pulang, kami menyempatkan diri berfoto bersama Bapak Ibu dosen sebagai kenang-kenangan terakhir.
Acara prom nite diadakan dua minggu setelahnya, di salah satu hotel terbesar dan terkenal berlokasi di Sanur, pukul 19.00 WITA. Semua datang memakai setelan hitam mutlak. Tahu tak? Dandananku tak ubahnya ayam cemani. Minus tak berjengger dan berparuh. Aku tak begitu menikmatinya. Kewajibanku hanya datang, sesekali mengobrol dengan teman sesama UKM Fotografi juga Mapala–menyaksikan atraksi tarian api sebagai penutup pertunjukan. Kebetulan di penghujung acara tadi sempat gerimis, berubah menjadi hujan rintik-rintik. Banyak dari kami memutuskan berhamburan kabur, berteduh di pinggiran belakang hotel karena acara diadakan outdoor menghadap langsung ke pantai Sanur. Aku, merupakan salah satu dari sekian banyak orang tak peduli dengan guyuran hujan ini, meski suasana mampu mengubah badan jadi menggigil sekali pun, tetap nekat, cuek menikmati dessert di mejaku, berisi maksimal lima kursi, kondisi hairdo rambut berjel telah ambyar. Kemeja tadinya hitam legam, berubah pulau-pulau kecil putih–nyeplak tanda air. Aku tetap menguliti fruit tart, berekspresi datar berupaya gigih menghabiskan cupcakes, hingga salah satu teman UKM Mapala, Tria, menarik pergelangan tanganku, menurutinya ikut berteduh. Dia bilang aku sinting, ini kan cuma makanan, kau bisa beli kapan saja jika kau punya uang, kau bisa sakit! Tria, salah satu teman lumayan akrab, kami seminggu sekali bertemu di rapat UKM meski beda jurusan, dia Teknik Komputer dan Jaringan. Aku merespon angkuh, menaikkan kedua pundak. Dia tak mengetahui perekonomianku. Dan bukan tugasku jugalah menjelaskan. Toh, setelah ini kita takkan bertemu lagi, jadi mengapa harus repot-repot menjelaskan ini itu? Lagipula ini ramuan hasil dapur hotel, tidak akan aku sia-siakan sejumputpun! Setelah hujan mereda, tiada menarik lagi bagiku, hanya saling pamit berperasaan kosong ke semua teman-teman. Berjanji jumpa di acara wisuda, kujawab ‘ya’! Aku hanya ingin pulang menyudahi semuanya. Batu baterai sosialku sekarat. Huhu.
Sebulan kemudian, hari penentuan wisuda di kawasan hotel elit di Nusa Dua, akhirnya resmi digelar! Pintu masuk telah dipenuhi mobil-mobil mengilap cat mewah berisikan tamu-tamu undangan keluarga mahasiswa–antri menurunkan tumpangan. Pagi jam 08.00 WITA, suasana sejuk menyingsingkan topi toga. Aku masuk ke ballroom paling megah pernah kulihat seumur hidup. Sebenarnya tak sekaget itu, karena sehari sebelumnya diadakan technical meeting di tempat sama. Berhubung aku penggiat ukiran, seni, estetika, bangunan, cukuplah terhibur di hotel mewah ini. Bagian mahasiswa dan orang tua pintu masuknya terpisah. Setelah turun dari mobil mereka berbondong-bondong berjalan bangga lengkap satu paket sekeluarga. Jatah biaya wisuda diperuntukkan bagi empat orang, kedua orang tua dan satu saudara, termasuk mahasiswa. Selebihnya dikenakan biaya ekstra. Aku lupa tepatnya berapa.
Aku tersenyum getir. Jauh-jauh bulan, sadar hari ini pasti akan terjadi.
Dadaku sedikit memanas. Terjebak rasa pilu di sana. Entahlah, mengapa harus bangkit di saat tak tepat. Please dong… Jangan sekarang, please!
Kuteguhkan hati menepuk-nepuk jas, menghempaskan debu halus, merapikan ulang letak topi toga. Melangkahkan kaki masuk dengan pijakan sedikit berat, namun harus segera menuju kursi sesuai urutan nomor dada.
Acara pembuka menyuguhkan tarian Pendet khas Bali. Sambutan Bapak ketua yayasan meneruskan acara. Kegiatan berlanjut pemanggilan seluruh mahasiswa sesuai antrian menuju ke atas panggung, sebagai penanda resmi kelulusan kami. Jantungku berpacu kencang ketika kaki menapaki tangga. Takut sepatuku terselip karpet lah, takut salah gerakan salam lah, takut menunduknya terlalu rendah lah, ah… Pokoknya banyak dah!
Oh iya, aku sampai lupa! Toh tak ada satupun orang tua siswa mengenaliku, paling hanya teman kukenal saja, lantas untuk apa aku berimajinasi demikian? Ternyata benar, tak ada satupun ketakutanku itu terbukti!
Acara beralih ke pembacaan ‘ter’. Mahasiswa teraktif mengikuti acara kampus, mahasiswa nilai IPK nilai tertinggi, dan dosen terfavorit dipersilahkan naik panggung satu per satu menerima piagam penghargaan. Penonton bersorak sorai riuh rendah. Mahasiswa teraktif adalah temanku anggota UKM Mapala dari jurusan bisnis, Shen, panggilannya. Penghargaan kedua, aku tak mengenal mahasiswa itu, hanya pernah berjumpa sekali waktu ospek. Sementara jajaran ketiga? Itu dosenku sendiri, mengajar matkul desain grafis, Pak Wayan namanya. Demi mencairkan ketegangan suasana, sebuah drama komedi berbahasa lokal dipentaskan. Menjelang akhir, tarian daerah kembali hadir sebagai penutup perhelatan akbar kebersamaan. Seluruh hadirin dipersilahkan oleh pembawa acara ke ruangan sebelah persis, menikmati prasmanan.
Setelah aku membuka pintu kayu berukiran rumit dengan ukuran sangat menjulang tinggi besar nan berat, meja-meja oval ukuran jumbo mengitari ruangan telah dipenuhi keluarga-keluarga asyik bersantap. Tangan cekatan mengambil apa yang diperlukan, makan, bergegas pulang. Yap, itu adalah rencanaku!
Sebenarnya satu meja mampu memuat hingga dua keluarga sekaligus. Setelah menargetkan meja setengahnya kosong, aku meminta izin bergabung. Aku pun tak mengenal mahasiswa ini dari jurusan mana dan tingkatan berapa. Mungkin dia kuliah jam pagi, sementara aku kuliah jam malam.
“Di hari begitu sebahagia ini, kok sendirian Dek? Keluarganya....” tanya Ibu di depanku menggantung, “mana?” sambungnya keheranan melihat sekeliling berharap muncul anggota keluargaku menyusul bersantap khidmat. Dirinya sibuk berfoto-foto ria lalu membagikan whatsapp story pula.
“Orang tua saya tidak bisa hadir Bu, kampung saya jauh di pelosok luar pulau,” tepisku tersenyum berusaha tegar. Aku tahu, nantinya di hari wisudaku pasti akan ada saja pertanyaan-pertanyaan usil menjebol privasi semacam ini. Aku enggan menceritakan sebab aslinya, karena aku sangat tidak membutuhkan simpati dari kalangan mana pun.
Aku menolak basa-basi. Aku hanya ingin makan, lalu segera pergi.
"Adik atau kakaknya ngga’ ada yang mewakili?" Bapaknya kini menimpali. Aku tak merasa dilempari api bertubi-tubi. Biasa saja.
Aku menelengkan kepala dan menaikkan bahu serempak, seraya menelan suapan sup ayam. Kuah hangat agak keruh namun nikmat mengalir lancar di tenggorokan. Sayuran pelengkapnya berwarna-warni, bumbunya tak terlalu asin. Gurih sekali! Sebenarnya aku belum pernah mengonsumsi masakan restoran hotel mewah selain sebulan lalu. Ini taraf lebih waow daripada prom nite kemarin! Beruntung sekali aku memiliki kesempatan emas. Tangan kanan sudah mengamankan sepiring penuh kudapan pencuci mulut aneka rupa juga rasa. Lantas kulirik mahasiswa berjubah kembar denganku. Keheranan melirikku, namun segan mengucur sepatah nada pun. Apa baginya, aku sudah terlalu tua untuk ditegur? Aku cuek bebek lanjut menggapai puding karamel hasil jarahan. Mereka akhirnya mengobrol tanpa memedulikan keberadaanku.