Ruang mediasi Pengadilan Agama Jakarta Selatan memiliki efisiensi tata ruang yang sangat buruk. Jarak antara kursi pemohon dan termohon terlalu dekat—hanya empat puluh sentimeter—memaksa lutut untuk berbagi oksigen yang sama. AC di sudut atas ruangan berbunyi mendengung, bocor meneteskan air tepat di atas pot tanaman plastik yang warnanya sudah memudar.
Prasetya Wirawan mengabaikan tetesan itu. Perhatiannya sepenuhnya terfokus pada menyejajarkan ujung kertas dokumen Spreadsheet di atas meja kayu agar sejajar sempurna dengan tepi meja. Milimeter demi milimeter.
Di seberang meja, sang Mediator—seorang pria paruh baya dengan kopiah yang sedikit miring ke kiri—berdehem.
"Bapak Prasetya, Ibu Arini. Tujuan mediasi ini adalah mencari titik temu. Mungkin masih ada ruang untuk memperbaiki komunikasi demi masa depan—"
"Tiga puluh persen," potong Prasetya. Suaranya rata, dingin, dan bebas dari getaran emosi. Ia tidak menatap sang Mediator. Matanya tertuju pada baris ke-14 di dokumen Excel yang dicetaknya.
Mediator itu mengerjap bingung. "Maksudnya, Pak?"
Prasetya mengangkat wajahnya perlahan, menatap Arini yang duduk di sebelahnya. Pria itu membenarkan letak kacamatanya.
"Nilai depresiasi mesin cuci front-loading merek Bosch yang kita beli tiga tahun lalu. Arini," Prasetya menyebut nama istrinya tanpa embel-embel, seolah memanggil nama vendor yang gagal memenuhi Service Level Agreement (SLA). "Kamu mencantumkan nilai akuisisi mesin cuci itu sebesar dua belas juta rupiah di daftar klaim asetmu. Itu angka pembelian awal. Sesuai standar penyusutan aset rumah tangga, nilainya saat ini hanya tinggal delapan koma empat juta. Jika kamu ingin mengambilnya, potong nilai itu dari porsi pencairan reksa dana bersama kita."
Ruangan itu hening. Mediator mematung, mulutnya sedikit terbuka. Ini adalah sidang cerai, bukan rapat dewan direksi perusahaan akuntan publik.
Tapi bagi Prasetya, ini adalah hal yang sama. Pernikahannya dengan Arini adalah sebuah institusi korporat yang telah mengalami kebangkrutan operasional. Dan sebagai Manajer Risiko yang kompeten, tugasnya sekarang hanyalah melikuidasi sisa aset dengan presisi maksimal agar kerugian di pihaknya bisa ditekan hingga ke angka nol. Tidak ada waktu untuk bernostalgia tentang pelukan di depan mesin cuci itu saat mereka baru pindah. Itu data usang.
"Dan saya harap," lanjut Prasetya, mengetuk dokumen itu dengan ujung pena Montblanc-nya, "kamu tidak lupa bahwa biaya servis motherboard mesin cuci itu bulan lalu menggunakan kartu kredit saya. Saya sudah melampirkan kuitansinya di halaman empat. Jika ditotal, pengambilalihan unit itu olehmu akan membuat saya surplus tiga ratus ribu rupiah."
Prasetya menyandarkan punggungnya ke kursi. Posturnya tegak. Ia tidak mencari kemenangan moral. Ia mencari kebenaran matematis. Baginya, angka tidak pernah berbohong, tidak seperti wanita di sebelahnya.