Lantai empat belas gedung perkantoran di kawasan SCBD itu memancarkan aroma kesuksesan yang sangat spesifik . Aroma campuran antara kopi cold brew artisan, parfum niche, dan keputusasaan yang disembunyikan di balik jas mahal. Arini melangkah keluar dari lift dengan postur sempurna, mengabaikan fakta bahwa hak sepatunya yang setinggi sembilan sentimeter mulai menyiksa tulang keringnya.
Di meja resepsionis, ia menyebutkan nama Clara. Account Director dari agensi digital yang memegang masa depan finansialnya.
Lima menit kemudian, ia duduk di sebuah ruang rapat berdinding kaca yang menghadap ke gedung pencakar langit lain. Clara, seorang wanita tiga puluhan dengan potongan rambut bob asimetris dan kacamata berbingkai merah, masuk dengan tergesa, membawa map tebal dan iPad.
"Arini, Darling," sapa Clara tanpa benar-benar tersenyum. Ia menjatuhkan map itu ke atas meja. "Kita punya masalah dengan timeline campaign."
Arini mempertahankan senyum simetrisnya. Ia melipat kedua tangannya di pangkuan. "Masalah apa, Clara? Terakhir kali kita diskusi, moodboard untuk campaign 'Janda Tangguh' dari brand kosmetik itu sudah disetujui, kan?"
"Memang disetujui," balas Clara, duduk dan langsung menatap tajam. "Tapi ada perubahan dari pihak Brand Manager. Mereka ingin launching dimajukan ke awal bulan depan. Bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional. Momentumnya lebih pas untuk engagement."
Jantung Arini berdegup sedikit lebih cepat, namun ia menahan napasnya agar dadanya tidak terlihat naik turun. "Awal bulan depan? Itu berarti... dua minggu lagi."
"Tepat," Clara mengetuk layar iPad-nya. "Brand tidak mau ambil risiko dengan skandal. Mereka ingin representasi yang real. Artinya, statusmu sudah harus resmi Single Mom sebelum materi promosi rilis. Bukan 'sedang proses mediasi', bukan 'pisah ranjang'. Resmi. Ketuk palu pengadilan."
Hening. Arini memutar cincin kawin di jarinya tanpa sadar. Proses mediasi dengan Prasetya hari ini berjalan alot. Pria itu menahan setiap aset seperti naga yang menjaga emasnya. Dua minggu adalah waktu yang tidak masuk akal untuk menyelesaikan pertempuran sengketa dengan seorang Risk Manager.
"Saya rasa, Clara," Arini mulai merangkai kata, nadanya tetap lembut dan terkendali. "Kita bisa menggunakan narasi perjalanan menuju kebebasan. Itu lebih dramatis, bukan? Proses persidangan bisa dijadikan serial konten yang menguras emosi followers."
"Ini bukan soal followers, Rin. Ini klausa kontrak eksklusif bernilai enam ratus juta," Clara mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya dingin. "Pihak legal mereka sangat kaku. Jika kamu belum resmi bercerai di tanggal satu, kontrak ini batal. Mereka sudah menyiapkan influencer cadangan—Gita. Dia sudah menjanda tiga tahun, followers-nya organik, dan tidak ada sengketa aset yang rumit."
Nama 'Gita' membuat Arini merasa seperti ditusuk jarum di bawah kuku. Gita adalah temannya. Gita adalah provokator yang terus mendesaknya untuk segera 'Glow Up' dengan menceraikan Prasetya. Sekarang ia tahu alasannya.
"Saya mengerti," Arini mengangguk pelan. Senyumnya tidak goyah satu milimeter pun. "Sampaikan pada Brand Manager bahwa mereka tidak perlu khawatir. Saya adalah orang yang sangat menghargai komitmen. Pada tanggal satu nanti, saya jamin, status saya di mata hukum sudah menjadi perempuan merdeka. Saya yang akan memastikan campaign itu sukses."
Clara menghela napas lega, menyandarkan punggungnya. "Bagus. Aku suka profesionalitasmu, Rin."
"Tentu saja," balas Arini. "Tapi saya butuh satu revisi kecil di kontrak. Jika saya berhasil memenuhi tenggat waktu yang tidak masuk akal ini, saya ingin ada tambahan lima belas persen untuk nilai akhir sebagai kompensasi 'percepatan proses'."
Clara mengangkat sebelah alisnya. "Berani sekali kamu."