Berada di dalam ruang kabin Honda HR-V berkapasitas lima penumpang ini seharusnya memberikan rasa lega, namun bagi Prasetya, ini tak ubahnya sebuah bilik isolasi. Bau pengharum mobil beraroma green tea yang dipilih Arini justru terasa seperti disinfektan rumah sakit yang menusuk hidung.
Prasetya menyalakan mesin. Arini duduk di kursi penumpang depan, pandangannya terkunci lurus ke arah jalan raya di luar basement Pengadilan Agama, tidak sekalipun menoleh. Di jok belakang, Reno duduk diam, buku gambarnya terbuka di pangkuan, kakinya yang berbalut sepatu hitam mungil menggantung diam.
Tidak ada yang bicara. Keheningan di dalam mobil itu begitu pekat hingga Prasetya bisa mendengar dengungan pelan dari sistem kelistrikan dashboard.
Prasetya melirik indikator suhu AC di panel tengah. Angkanya menunjukkan 22 derajat Celcius. Bagi Prasetya, suhu itu terlalu dingin. Efisiensi bahan bakar akan menurun secara signifikan pada suhu di bawah 24 derajat, apalagi di tengah kemacetan jalanan Sudirman pada jam pulang kerja. Dengan gerakan terukur yang nyaris mekanis, Prasetya memutar kenop AC. Klik. Klik. Angka berubah menjadi 24.
Arini tidak mengatakan apa-apa. Namun, kurang dari tiga detik setelah udara di kabin terasa sedikit lebih hangat, tangan wanita itu terulur dengan elegan. Kuku-kukunya yang bercat nude menyentuh kenop yang sama. Klik. Klik. Klik. Angka kembali ke 21 derajat Celcius.
Prasetya merasakan otot rahangnya menegang. Ini bukan sekadar perkara suhu udara. Ini adalah perkara perebutan teritorial.
"Arini," Prasetya akhirnya memecah keheningan yang mencekik itu, matanya tetap awas mengamati lampu merah di perempatan depan. "Kompresor AC mobil ini baru saja diservis bulan lalu. Saya tidak akan mentolerir kerusakan prematur hanya karena kamu tidak bisa menggunakan jaket."
Arini menoleh perlahan. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman yang sangat tipis, nyaris tak terlihat jika bukan karena pencahayaan lampu jalan yang menembus kaca jendela. Senyum yang selalu berhasil membuat darah Prasetya mendidih.
"Dan saya, Mas Prasetya," jawab Arini, suaranya mengalun tenang seperti guru taman kanak-kanak yang sedang menegur murid yang nakal, "tidak akan mentolerir keringat yang merusak makeup saya hanya karena Risk Manager di sebelah saya ini terlalu pelit untuk membiayai bensin tambahan. Bukankah menurut tabel depresiasi milik Mas, kenyamanan penumpang adalah bagian dari nilai utilitas kendaraan?"
Prasetya menarik napas panjang melalui hidung, menahannya selama dua detik, lalu mengembuskannya secara teratur. Teknik pernapasan taktis untuk meredam lonjakan kortisol. Arini selalu tahu bagaimana menggunakan istilah-istilah finansialnya untuk menyerang balik.
"Baik," ucap Prasetya datar. Ia memutuskan untuk tidak melanjutkan perdebatan soal AC. Ada masalah yang jauh lebih besar dari sekadar kompresor yang harus segera diselesaikan. Hitungan mundur dua minggu dari Purnomo Wijaya berdetak kencang di belakang kepalanya. "Ada hal operasional yang perlu kita sepakati sebelum kita sampai di rumah."
Arini mengangkat alisnya sedikit, pura-pura tertarik. "Silakan, Mas. Saya selalu terbuka pada diskusi yang efisien."
"Selama masa sengketa aset ini belum selesai," Prasetya memulai, memilih kata-katanya dengan presisi seorang sniper, "dan karena pengadilan belum mengeluarkan putusan akhir, secara legal kita masih berada di bawah satu atap. Oleh karena itu, kita perlu menetapkan batas teritorial yang jelas di dalam rumah."
"Batas teritorial?" Arini tertawa kecil, suara tawa yang kering dan tidak mencapai mata. "Mas pikir Blok Mawar itu Zona Demiliterisasi Korea?"
"Kamu bisa menganggapnya begitu," Prasetya tidak terpancing. "Saya akan menempati kamar tamu di lantai bawah mulai malam ini. Kamu dan Reno tetap di kamar utama. Kamar mandi bawah sepenuhnya menjadi wewenang saya. Dapur, ruang tengah, dan garasi adalah ruang bersama. Namun, segala bentuk pengeluaran logistik harian, mulai dari sabun cuci piring hingga bahan makanan, harus dibagi dua secara proporsional berdasarkan konsumsi."
Arini terdiam sejenak. Matanya menyipit, membedah usulan Prasetya. Bagi Arini, pemisahan ini adalah sebuah penghinaan. Tapi bagi Prasetya, ini adalah cara terbaik untuk mengisolasi Arini dan memastikan tidak ada aset yang disabotase.
"Baik," jawab Arini akhirnya, nadanya berubah lebih tajam. "Saya setuju. Tapi ingat, Mas. Karena dapur sekarang adalah zona netral, saya akan menerapkan SOP (logistik yang ketat. Tidak ada lagi toleransi untuk konsumsi silang. Apa yang Mas beli, adalah milik Mas. Apa yang saya beli dengan uang saya, adalah milik saya. Saya harap Risk Manager kita ini tidak keberatan jika nanti harus merebus air sendiri karena lupa membeli gas."