Kamar tamu di lantai bawah Blok Mawar memiliki luas tiga kali empat meter. Ruangan itu sebelumnya hanya difungsikan sebagai tempat penyimpanan treadmill yang dibeli Arini dua tahun lalu ,yang hanya digunakan tiga kali untuk konten Instagram sebelum berakhir menjadi gantungan baju mahal. Kini, ruangan sempit itu adalah pusat komando Prasetya.
Prasetya duduk di atas kursi lipat yang keras, menatap layar laptopnya yang memendarkan cahaya kebiruan di tengah kegelapan. Jam di sudut kanan bawah layar menunjukkan pukul 01.15 WIB. Udara di ruangan itu terasa pengap karena ia sengaja tidak menyalakan AC; sebuah aksi pasif-agresif lanjutan untuk memastikan tagihan listrik bulan ini turun demi membungkam argumen Arini di dapur tadi.
Ping.
Sebuah notifikasi email masuk dari Bank Nasional. Subjeknya tertulis dalam huruf kapital yang rapi: PEMBERITAHUAN PENYESUAIAN SUKU BUNGA KPR FASILITAS LIKUIDITAS.
Tangan Prasetya tidak bergetar saat ia mengklik email tersebut, namun bola matanya bergerak cepat memindai angka-angka di dalamnya. Masa fixed rate (bunga tetap) lima tahun untuk rumah Blok Mawar telah resmi berakhir hari ini. Sesuai dengan perjanjian kredit, suku bunga pinjaman kini memasuki fase floating (mengambang) mengikuti suku bunga acuan Bank Indonesia.
Angka cicilan yang selama lima tahun bertengger manis di angka Rp 12.500.000 per bulan, kini melonjak presisi menjadi Rp 16.850.000.
Ada selisih Rp 4.350.000. Sebuah beban yang menuntut untuk segera ditambal.
Prasetya membuka lembar kerja Microsoft Excel miliknya yang diberi nama Master_Audit_Rumah_Tangga.xlsx. Ia memasukkan angka selisih itu ke dalam kolom "Liabilitas Tetap". Sel warna hijau pada kolom "Saldo Akhir Bulan" seketika berubah menjadi merah menyala, menandakan defisit arus kas.
Wajah Prasetya tetap sedatar beton, tetapi rahangnya terkatup begitu rapat hingga gigi gerahamnya berderak halus. Dalam sistem operasinya sebagai Risk Manager, defisit adalah sebuah kegagalan fatal. Seorang manajer yang kompeten harus selalu memiliki dana cadangan untuk memitigasi fluktuasi seperti ini.
Masalahnya, dana cadangan Prasetya telah menguap. Lenyap tak berbekas.
Prasetya menelan ludah, rasa pahit menyebar di pangkal lidahnya saat ia membuka sheet kedua yang ia sembunyikan dengan password. Sheet itu berisi rekapan kegagalan terbesarnya: kerugian lima puluh juta rupiah di pasar Crypto dua bulan lalu.
Ia tidak pernah berniat menjadi penjudi. Prasetya masuk ke pasar mata uang digital itu murni karena perhitungan logis atau setidaknya, itulah yang ia katakan pada dirinya sendiri. Tekanan dari Purnomo di kantor untuk tampil stabil, ditambah tuntutan gaya hidup Arini yang semakin membengkak seiring naiknya followers wanita itu, membuat Prasetya merasa ia harus memperbesar kapasitas "Mesin Pencetak Uang" miliknya. Ia adalah laki-laki. Ia adalah kepala keluarga. Dalam patriarki teknis yang dianutnya, seorang suami yang gagal memenuhi ekspektasi finansial adalah mesin rongsok yang layak dibuang.
Maka, ia mengambil risiko. Dan sistem menghukumnya. Lima puluh juta rupiah dari dana darurat bersama lenyap dalam satu malam akibat anjloknya pasar global. Sebuah cacat yang sampai detik ini berhasil ia tutupi dari endusan Arini.
Namun, KPR yang naik ini adalah variabel yang tidak bisa disembunyikan. Jika ia gagal membayar cicilan penuh bulan depan, pihak bank akan mengirimkan surat peringatan ke alamat rumah. Arini akan melihatnya, dan topeng "Dewa Logika" Prasetya akan hancur seketika.
Prasetya memijat pelipisnya. Ia memindahkan kursor ke baris pengeluaran lain.
Transfer Rutin Bulanan - Rekening Nita Wijaya (Ibu): Rp 3.500.000.
Ini adalah "Pajak Siluman" yang menggerogoti leher Prasetya setiap bulan. Sebagai anak sulung laki-laki yang bekerja di SCBD, ekspektasi keluarga besar di kampung halaman adalah beban aksial yang tak kasat mata. Uang tiga setengah juta itu bukan untuk biaya berobat ibunya; uang itu digunakan untuk membayar cicilan mobil adik bungsunya dan menyumbang kas arisan keluarga agar Mama Nita bisa terus membusungkan dada di hadapan kerabat. Flexing antargenerasi. Sebuah Sandwich Generation tax yang harus ia bayar demi mempertahankan status "Si Sulung yang Sukses".
Jika Prasetya menghentikan transfer itu bulan ini untuk menambal KPR, Mama Nita pasti akan menelepon Arini untuk bertanya. Itu akan menjadi bencana. Arini akan menggunakan informasi itu sebagai senjata pemusnah massal di ruang mediasi.