PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #5

Bab 5

Kafe artisan di kawasan Senopati itu memiliki desain interior bergaya industrial-minimalist yang sengaja dibuat agar terlihat seperti bangunan setengah jadi, namun ironisnya, harga satu cangkir kopi di sini setara dengan biaya makan tiga hari keluarga menengah ke bawah. Arini duduk di sudut yang mendapat pencahayaan alami terbaik, sebuah insting influencer yang sudah tertanam di DNA-nya, menghadapi secangkir oat milk latte seharga tujuh puluh lima ribu rupiah yang belum ia sentuh sama sekali.

Di seberang mejanya duduk Gita. Teman, sesama content creator, dan yang paling penting: janda glowing tanpa anak yang kehidupan pasca-cerainya terlihat seperti katalog liburan tanpa akhir.

Gita sedang sibuk memotret piring avocado toast-nya dari tiga sudut berbeda sebelum akhirnya meletakkan iPhone 17 Pro Max-nya dengan bunyi ketukan pelan di atas meja marmer.

"Jadi," Gita memulai, menopang dagu dengan tangan kirinya yang dihiasi gelang Cartier. "Gimana sidang mediasi kemarin? Si Kaku itu masih berusaha mempertahankan aset-aset receh?"

Arini menyesap kopinya perlahan. Ia tidak langsung menjawab. Ia sengaja membiarkan jeda dramatis menggantung di udara, sebuah taktik untuk memastikan ia mendapatkan atensi penuh dari Gita. Arini meletakkan cangkirnya, membuka ritsleting tas Hermes Birkin (barang preloved yang cicilannya baru lunas bulan lalu), dan mengeluarkan iPad Pro miliknya.

Ia membuka galeri, mencari foto screenshot yang ia ambil tadi pagi, dan menggeser layar iPad itu ke hadapan Gita.

"Mediasinya berjalan sesuai ekspektasi. Dia mempermasalahkan depresiasi mesin cuci," Arini tersenyum tipis, senyum Umbridge yang penuh dengan rasa kasihan yang dibuat-buat. "Tapi, Git, bukan itu yang membuatku mengajakmu bertemu hari ini. Coba kau lihat baris transaksi yang kutandai merah itu."

Gita menunduk, matanya yang dilapisi eyelash extension tebal menyipit. Tiba-tiba, mata itu membelalak lebar. Tangannya refleks menutup mulutnya yang menganga.

"Lima puluh juta?!" Gita memekik tertahan, memastikan suaranya tidak menarik perhatian meja sebelah. "Arini! Ditarik dalam satu kali transaksi? Bulan lalu? Ke... PT Bursa Digital Kripto Nusantara?"

"Tepat sekali," jawab Arini tenang. Ia melipat kedua tangannya di atas meja.

"Ya Tuhan, Rin. Ini gila," Gita menggelengkan kepalanya tak percaya, aura toxic positivity-nya seketika tergantikan oleh naluri detektif gosip tingkat dewa. "Prasetya? Prasetya suami lo yang kalau beli bensin saja selalu menghitung jarak tempuh per liter itu? Main crypto lima puluh juta? Nggak masuk akal. Ini pasti penipuan. Atau..."

Gita menghentikan kalimatnya. Matanya menatap Arini dengan kilat pemahaman yang kelam. Di dunia mereka, aliran dana besar yang tiba-tiba lenyap dari rekening suami yang kaku dan pelit biasanya hanya bermuara pada satu hal.

"Atau apa, Git?" Arini memancing, meski ia sudah tahu arah pikiran temannya.

"Rin, pikir pakai logika," Gita mencondongkan tubuhnya melintasi meja, suaranya berbisik mendesis layaknya ular berbisa yang memberikan petuah. "Laki-laki se-kaku Prasetya tidak mungkin mempertaruhkan uang lima puluh juta untuk sesuatu yang tidak berwujud seperti crypto kecuali dia sedang menutupi jejak. 'Bursa Digital Kripto Nusantara' itu bisa jadi cuma nama perusahaan dummy, atau payment gateway untuk sesuatu yang lain. Uang itu mengalir ke pihak ketiga."

Arini terdiam. Di dalam dadanya, mesin kalkulasi berdengung.

"Maksudmu... perempuan lain?" tanya Arini, menjaga nada suaranya agar terdengar seperti istri yang terluka.

"Rin, dengar aku. Laki-laki yang mendadak pelit pada istrinya, yang menghitung biaya listrik kompresor kulkas. Ya Tuhan, cerita kulkas semalam itu masih membuatku mual …adalah laki-laki yang sedang membiayai gaya hidup perempuan lain di luar sana. Lima puluh juta, Rin. Itu cukup untuk menyewa apartemen studio di Kuningan selama setahun untuk seorang sugar baby, atau membelikan tas branded untuk pelakor kelas atas."

Arini menatap layar iPad yang masih menyala. Angka lima puluh juta itu menatapnya balik. Jika ini novel roman picisan, Arini seharusnya mulai menangis sekarang. Ia seharusnya merasa hatinya hancur berkeping-keping membayangkan suaminya tidur dengan perempuan lain.

Tapi Arini adalah prajurit tangguh. Ia adalah "Sang Jenderal Digital". Di otaknya, konsep pengkhianatan tidak memicu kelenjar air mata; konsep itu memicu Audit Risiko dan Peluang.

Lihat selengkapnya