PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #6

Bab 6

Pesan WhatsApp bernada ancaman dari Prasetya tiga hari yang lalu tidak membuat Arini membanting ponselnya. Sebaliknya, pesan itu memvalidasi satu teori penting dalam kepala Arini: Prasetya Wirawan sedang terdesak. Pria itu membutuhkan Arini untuk menyelamatkan kariernya di depan Purnomo.

Tawaran Honda HR-V sebagai kompensasi? Itu adalah penghinaan. Tapi Arini adalah negosiator ulung. Ia akan mengambil mobil itu, ia akan menghadiri pesta itu, dan ia akan memastikan Prasetya berutang budi seumur hidup kepadanya.

Jumat malam tiba. Ballroom kecil Hotel Mulia disulap menjadi replika taman bunga Versailles yang over-budget. Rangkaian mawar putih impor dan hydrangea biru mendominasi setiap sudut, memancarkan aroma floral yang terlalu tajam, seolah berusaha menutupi bau kepalsuan dari para tamu yang hadir.

Arini melangkah memasuki ruangan itu dengan lengan kanannya melingkar sempurna di lengan kiri Prasetya. Sentuhan mereka presisi, tidak terlalu renggang hingga terlihat canggung, tidak terlalu erat hingga memicu rasa mual. Kulit mereka bersentuhan menembus bahan jas wol Prasetya, tetapi suhu di antara keduanya adalah nol mutlak.

Malam ini, Arini mengenakan gaun sutra emerald green berpotongan leher sabrina. Tidak ada perhiasan mencolok, hanya sepasang anting mutiara air tawar dan tentu saja, cincin kawin bertahtakan berlian yang memantulkan cahaya lampu chandelier. Ia tidak berdandan untuk terlihat seksi; ia berdandan untuk memancarkan aura 'Istri Pejabat Eksekutif' yang suportif namun memiliki kelas intelektualnya sendiri.

"Ingat kesepakatannya, Arini," Prasetya berbisik pelan, nyaris tanpa menggerakkan bibirnya saat mereka berjalan menuju kerumunan utama. "Tersenyum. Basa-basi. Pulang."

"Tentu, Mas Prasetya," jawab Arini dengan bisikan yang sama lembutnya. "Saya sedang memikirkan berapa biaya servis berkala HR-V itu tahun depan. Jangan khawatir, akting saya malam ini sepadan dengan nilai bukunya."

Di tengah ruangan, Hendra dan Sisca berdiri menyambut tamu. Sisca mengenakan gaun ballgown keemasan yang terlalu meriah untuk makan malam berkapasitas lima puluh orang. Rambutnya disanggul tinggi, dan tawanya terdengar sedikit terlalu nyaring. Sisca adalah tipe perempuan yang mematikan kariernya pasca-menikah demi menjadi piala display suaminya. Bagi Arini, perempuan seperti Sisca adalah pengkhianat feminisme yang paling menyedihkan.

"Arini! Ya ampun, akhirnya datang juga!" Sisca berseru, merentangkan kedua tangannya.

Arini melepaskan lengan Prasetya dan menyambut pelukan Sisca. Mereka melakukan cipika-cipiki di mana pipi mereka sama sekali tidak bersentuhan, hanya menggesekkan udara beraroma hairspray.

"Sisca, Sayang. Happy anniversary," Arini tersenyum lebar. Senyum Umbridge andalannya terpasang kokoh. "Gaunmu... wah, sangat mencuri perhatian. Pasti Mas Hendra sangat bangga memiliki istri yang selalu totalitas dalam berpenampilan."

Sisca tertawa renyah, mengibaskan tangannya. "Bisa aja kamu, Rin. Habisnya Hendra yang maksa, katanya aku harus tampil maksimal. Eh, ngomong-ngomong, aku dengar jadwal endorse kamu lagi padat banget ya? Hebat deh masih sempat dandan buat nemenin suami. Kalau aku sih, udah nggak sanggup mikirin kerjaan luar, ngurusin Mas Hendra aja udah full-time job."

Itu adalah sebuah serangan mikro (micro-aggression). Sisca secara halus menyindir bahwa perempuan yang bekerja adalah perempuan yang mengabaikan suaminya.

Arini tidak berkedip. Senyumnya justru semakin manis, matanya menatap Sisca dengan kelembutan yang mematikan.

"Itulah yang selalu saya syukuri dari Mas Prasetya, Sisca," Arini menoleh sejenak ke arah Prasetya yang sedang berbincang dengan Hendra di sebelah mereka, memastikan suaranya cukup keras untuk didengar oleh kedua pria itu. "Mas Prasetya tidak pernah menganggap saya sebagai beban yang harus diurus, melainkan sebagai aset kemitraan. Dia selalu bilang, 'Istri yang bahagia dan berdaya adalah kunci dari manajemen risiko rumah tangga yang baik.' Ya kan, Mas?"

Prasetya menoleh, senyum plastiknya terbentuk dalam hitungan milidetik. "Tentu, Sayang. Arini adalah investasi terbaik saya."

Hendra tertawa kecil, meski matanya terlihat sedikit sinis. "Wah, Pras. Bahasanya korporat banget. Pantesan Pak Purnomo naksir berat mau jadiin kamu VP. Eh, panjang umur, itu Pak Pur."

Pria paruh baya dengan jas tweed abu-abu itu mendekat, ditemani istrinya. Bos besar telah tiba di arena. Ini adalah Final Boss yang harus ditaklukkan malam ini.

Prasetya sedikit menegang. Arini bisa merasakan otot lengan suaminya mengeras. Ini adalah momen hidup dan mati bagi karier pria itu. Jika Arini melepaskan satu kalimat ambigu tentang "ruang mediasi" atau "masalah rumah", promosi Prasetya akan hangus detik itu juga. Prasetya berada di bawah belas kasihan Arini sepenuhnya.

Perasaan berkuasa itu mengalir di pembuluh darah Arini seperti narkotika. Aku memegang lehermu, Pras, batinnya. Dan aku tahu tentang uang lima puluh juta yang kau simpan untuk pelacurmu itu.

"Malam, Pak Purnomo. Ibu," sapa Prasetya, membungkuk sedikit lebih rendah dari standar kesopanan biasa.

"Prasetya! Dan ini pasti Arini," Purnomo tersenyum kebapakan, menjabat tangan Arini dengan hangat. "Saya sering dengar cerita tentang kamu. Katanya influencer sukses ya? Istri saya ini suka lihat resep masakan sehat yang kamu share di Instagram."

Lihat selengkapnya