Pukul 06.30 WIB. Hari Sabtu. Dapur Blok Mawar dipenuhi aroma kopi arabika yang diseduh menggunakan french press. Arini duduk di kursi island dapur, mengenakan jubah tidur satin berwarna champagne. Posturnya tegak, iPad Pro-nya tergeletak dalam posisi tertutup di samping cangkir kopinya.
Ia sedang menunggu.
Tidak lama, suara langkah kaki bersol karet terdengar dari arah tangga. Prasetya muncul dengan setelan olahraga serba hitam. Pria itu tampak segar, wajahnya bersih dari sisa kantuk, rambutnya tersisir rapi meski baru bangun tidur.
Melihat sosok suaminya yang begitu sempurna secara visual, sebuah ingatan lama mendadak menyusup ke benak Arini. Delapan tahun yang lalu, di sebuah kafe dekat kantor lama mereka, Prasetya menyodorkan sebuah print-out simulasi KPR ke hadapan Arini alih-alih cincin berlian.
"Gaji gabungan kita akan membuat bank menyetujui tenor lima belas tahun untuk rumah di Blok Mawar," ucap Prasetya saat itu, tanpa bunga, tanpa puisi. "Kamu punya ambisi, Arini. Aku punya kalkulasi. Menikah denganku adalah investasi paling minim risiko yang bisa kamu ambil untuk keluar dari kelas menengah bawah."
Arini menerima tawaran itu karena ia muak melihat ibunya menangis setiap akhir bulan dihimpit utang rentenir akibat ayah yang tidak bertanggung jawab. Ia tidak butuh pangeran berkuda putih; ia butuh direktur keuangan. Prasetya adalah benteng beton yang akan melindunginya dari kemiskinan. Mereka menyatu bukan karena cinta yang membara, melainkan karena Merger Korporasi yang saling menguntungkan.
Namun pagi ini, memori itu terasa seperti pengkhianatan yang paling menjijikkan. Benteng beton itu ternyata memiliki ruang rahasia.
Prasetya menuangkan kopi ke cangkirnya sendiri tanpa menatap Arini. Pria itu berjalan menuju kulkas.
"Aku sudah menghitung biaya listrik kompresor kulkasmu semalam," ucap Arini tiba-tiba, suaranya memecah keheningan yang kaku. "Lima belas ribu sehari, dikali tiga puluh hari. Empat ratus lima puluh ribu sebulan. Sangat efisien, Mas Pras. Ketelitianmu benar-benar mengagumkan."
Prasetya menutup pintu kulkas, memegang segelas air dingin. Pria itu menoleh perlahan, menyadari ada nada sumbang dalam suara istrinya. "Itu hanya soal proporsi beban, Arini."
"Proporsi beban," Arini mengulang kata itu, mengulum senyum Umbridge-nya. Ia mengambil iPad-nya, memasukkan password, dan membuka layar yang menampilkan screenshot mutasi rekening tadi malam. Ia menggeser perangkat mahal itu melintasi meja marmer hingga berhenti tepat di depan siku Prasetya.
"Lalu, Mas Prasetya Sayang," nada suara Arini merendah, menjadi bisikan mematikan. "Bagaimana kamu memproporsikan beban operasional untuk transaksi ini? Lima puluh juta rupiah. Ditarik tunai dari sub-rekening darurat kita ke sebuah entitas bernama 'PT Bursa Digital Kripto Nusantara'."
Tangan Prasetya yang memegang gelas terhenti di udara selama sepersekian detik. Sangat cepat, namun Arini menangkap glitch itu.
"Apa ini untuk membayar DP apartemen simpananmu?" Arini menyilangkan tangannya di dada, menyerang tanpa ampun. "Atau kamu menyewa sugar baby dengan tarif premium? Jelaskan padaku, wahai Dewa Logika, bagaimana penggelapan dana lima puluh juta ini masuk ke dalam mitigasi risiko rumah tangga kita?"
Arini menatap mata suaminya, menunggu ledakan panik, menunggu Prasetya tergagap mencari alasan atau membela diri. Dalam simulasi di kepalanya, Prasetya akan memohon agar Arini tidak menggunakan ini di pengadilan.
Namun, reaksi yang diberikan Prasetya membuat darah Arini terasa membeku.
Pria itu tidak panik. Ia meletakkan gelasnya dengan tenang. Matanya yang hitam kelam menatap layar iPad itu selama dua detik, lalu perlahan beralih menatap Arini. Dan di sana, di bibir Prasetya, terbit sebuah senyum yang lebih dingin dari suhu di dalam kulkas.