PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #8

Bab 8

Pukul 14.00 WIB. Jantung Arini masih berdegup dengan ritme yang tidak wajar sejak konfrontasi di dapur tadi pagi. Ancaman Prasetya untuk menunda sidang mediasi hingga melewati batas waktu tanggal satu adalah manuver pencekikan yang sangat efektif. Arini telah menghabiskan tiga jam terakhir di kamar utama, menelepon pengacaranya berulang kali, mencari celah hukum untuk memaksa persidangan tetap berjalan sesuai jadwal.

Namun, jawaban pengacaranya sangat normatif dan menyebalkan: "Jika pihak suami, selaku tergugat rekonvensi, mengajukan penundaan dengan alasan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, hakim biasanya akan mengabulkan penundaan pertama, Bu Arini. Ini standar prosedur."

Standar prosedur. Dua kata itu membuat Arini ingin membanting iPad-nya ke dinding. Dewa Logika itu benar-benar tahu cara menggunakan birokrasi pengadilan sebagai senjata.

Di tengah kepanikan internalnya merumuskan strategi balasan, bel rumah Blok Mawar berbunyi. Dua kali ketukan pendek, diikuti satu tekanan panjang.

Tubuh Arini menegang. Kurir paket biasanya hanya menekan bel satu kali dan meneriakkan kata "Paket!". Tetangga tidak pernah berkunjung di Sabtu siang yang terik. Pola tekanan bel itu sangat spesifik, sebuah kode otorisasi dari masa lalu yang seketika membuat asam lambung Arini naik.

Arini berjalan cepat menuju monitor intercom di dekat tangga. Layar kecil itu menampilkan sosok seorang wanita berusia awal enam puluhan berdiri di depan pagar. Wanita itu mengenakan tunik batik sutra berwarna cokelat tanah, tas tangan kulit buaya tiruan di lengan kirinya, dan kacamata hitam besar yang menutupi setengah wajahnya.

Mama Nita. Ibunda Prasetya. Sang Auditor Tradisional.

"Sialan," umpat Arini tertahan. Ia melirik penampilannya sendiri di cermin aula. Ia masih mengenakan piyama lilit berbahan satin, pakaian yang sangat dilarang dalam buku manual kesopanan keluarga Wijaya.

Otak Arini langsung masuk ke mode Survival. Invasi mendadak ini adalah bencana. Jika Mama Nita masuk dan melihat Prasetya tidur di kamar tamu lantai bawah, atau melihat kulkas yang masih menyisakan bekas sobekan sticky note tagihan listrik, rahasia mediasi perceraian mereka akan terbongkar hari ini juga.

Mama Nita adalah tipe perempuan yang menganggap perceraian anak laki-lakinya sebagai aib keluarga yang harus diumumkan ke seluruh dunia sambil memposisikan sang menantu perempuan sebagai penjahat utamanya. Jika itu terjadi, narasi "Janda Tangguh" yang sedang dibangun Arini untuk campaign enam ratus jutanya bisa dirusak oleh smear campaign (kampanye hitam) dari mulut mertuanya sendiri ke grup-grup WhatsApp keluarga, yang pasti akan bocor ke media sosial.

Arini tidak punya pilihan. Ia harus membangun kembali Fasad Beton Blok Mawar dalam waktu kurang dari enam puluh detik.

Arini berlari kecil ke kamar tamu, mengetuk pintunya dua kali dengan keras, lalu langsung membukanya. Prasetya sedang duduk di depan laptop.

"Ibumu di depan," desis Arini, nadanya tajam bagai silet. "Bereskan bantal dan selimutmu. Pindahkan ke kamar atas, sekarang. Tutup laptopmu dan bersikaplah seolah kita baru saja selesai makan siang bersama dengan harmonis."

Prasetya menatap Arini selama satu detik penuh, memproses variabel informasi tersebut, lalu tanpa banyak bicara pria itu langsung menutup laptopnya dan mengambil bantalnya. Mereka berdua tahu, dalam hal menghadapi Mama Nita, status mereka berubah sementara dari "Musuh Bebuyutan" menjadi "Sekutu Terpaksa".

Arini berlari ke kamarnya, menyambar sebuah cardigan panjang berwarna krem untuk menutupi piyamanya, mencepol rambutnya asal namun terlihat rapi, dan menempelkan senyum Umbridge terlebarnya tepat saat ia menekan tombol pembuka gerbang otomatis.

"Mama! Ya ampun, kok nggak bilang-bilang mau mampir?" seru Arini saat membuka pintu utama, merentangkan kedua tangannya.

Mama Nita melangkah masuk, mencopot kacamata hitamnya. Tatapan matanya yang tajam langsung memindai seluruh ruangan, seolah sedang mencari partikel debu yang salah tempat. Ia membalas pelukan Arini dengan pelukan yang jauh dari kata hangat—hanya tempelan pipi dan tepukan ringan di punggung.

"Namanya juga mampir, Rin. Kalau bilang-bilang namanya kunjungan resmi," jawab Mama Nita, nada suaranya halus namun sarat akan otoritas. "Lagipula, Mama kebetulan habis dari acara arisan keluarga di Bintaro. Sekalian saja lewat sini. Mau nengok Pras dan Reno. Mana suami kamu?"

"Mas Pras ada di dalam, Ma. Sedang merapikan beberapa dokumen kerja di ruang tengah tadi," Arini berbohong dengan sangat fasih. Ia menuntun mertuanya menuju sofa ruang tamu. "Mama pasti capek banget, panas-panas begini dari Bintaro. Arini buatkan es sirop lychee kesukaan Mama, ya?"

"Boleh. Gulanya sedikit saja, Rin. Jangan seperti waktu itu, manisnya bikin leher Mama sakit," komentar Mama Nita sambil duduk, tangannya mengusap pelan permukaan meja kopi dari kaca, diam-diam mengecek kebersihan.

"Tentu, Ma. Standar kesehatannya selalu Arini jaga," Arini tersenyum manis, meski rahangnya mengeras.

Lihat selengkapnya