Senin, pukul 10.15 WIB. Layar monitor di kubikel Prasetya menampilkan grafik fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar, namun fokus pria itu sepenuhnya tertuju pada layar ponsel pintar di tangannya.
Sebuah grup WhatsApp bernama "Komite Parents 2B - Global Excellence" sedang berdenting tiada henti. Grup ini terdiri dari tiga puluh dua ibu-ibu sosialita, dua asisten rumah tangga yang mewakili majikan mereka, dan tepat tiga orang ayah termasuk Prasetya. Bagi Prasetya, grup ini bukanlah forum komunikasi wali murid; ini adalah arena gladiator di mana status sosial diukur dari seberapa cepat seseorang mentransfer uang sumbangan.
Notifikasi beruntun itu berasal dari satu kontak: Mami Kenzo.
Mami Kenzo: "Moms & Dads! Reminder ya, untuk acara 'International Cultural Fest' bulan depan, kelas kita kebagian tema Eropa Barat. Supaya stand kita paling standout dan anak-anak bangga, komite sepakat untuk menyewa dekorator profesional dan catering khusus." Mami Kenzo: "Rincian biayanya sudah saya share di PDF di atas ya. Jatuhnya per anak Rp 5.000.000. Memang lumayan, tapi demi experience anak-anak kita, why not? 😘" Mami Kenzo: "Batas transfer hari Rabu ini ya. Tolong bukti transfer di-japri ke saya. Thank you parents hebat!"
Prasetya membaca angka lima juta itu tanpa berkedip. Di bawah pesan tersebut, belasan ibu-ibu mulai merespons dengan emotikon jempol dan tulisan "Noted, Mami Kenzo!", disusul dengan beberapa screenshot bukti transfer yang dikirim ke grup secara sengaja sebagai bentuk flexing terselubung.
Prasetya membuka aplikasi m-banking-nya. Ia menatap angka saldo di rekening pribadinya. Setelah dikurangi cicilan KPR yang membengkak, transfer "Pajak Sandwich" rutin ke ibunya, dan tebusan lima belas juta rupiah tempo hari untuk mobil adiknya yang diakali oleh Arini, saldo Prasetya saat ini berada di angka Rp 1.450.000.
Uang lima puluh juta di Crypto lenyap. Dana darurat di rekening bersama tidak bisa disentuh tanpa memicu alarm di iPad Arini. Kartu kreditnya sudah menyentuh limit untuk membiayai servis mesin cuci dan operasional rumah lainnya yang sengaja dibebankan Arini kepadanya.
Sang Dewa Logika resmi mengalami krisis likuiditas tingkat akut.
Prasetya meletakkan ponselnya di atas meja. Tangannya terlipat di depan dada. Ia mulai mengkalkulasi opsi.
Opsi pertama: Meminta Arini untuk patungan. Probabilitas keberhasilan: 0%. Arini pasti akan menggunakan momen ini untuk mempermalukannya, mengingatkan kembali soal kulkas atau sekadar menolak dengan alasan "proporsi beban domestik". Lebih buruk lagi, Arini bisa membocorkan ke Mami Kenzo bahwa Prasetya sedang mengalami kesulitan finansial. Di ekosistem sekolah internasional, itu adalah kematian sosial bagi Reno.
Opsi kedua: Mengabaikan pesan Mami Kenzo atau menolak membayar dengan alasan nominalnya tidak masuk akal. Risiko: Fatal. Mami Kenzo adalah ratu lebah di kelas itu. Anak-anak dari orang tua yang tidak berkontribusi biasanya akan diasingkan secara halus dari kegiatan utama. Reno akan berdiri di sudut saat teman-temannya yang lain mengenakan kostum Eropa yang mahal. Prasetya tidak akan membiarkan putranya—variabel penerus genetiknya—terlihat seperti warga kelas dua.
Ponselnya kembali bergetar. Layarnya menyala.
Mami Kenzo: "@Prasetya_PapaReno @Arini_MamaReno Halo Papa Pras & Mama Arini! Biasanya paling fast response nih kalau urusan support sekolah. Ditunggu ya partisipasinya! 🙏✨"
Tag langsung (direct mention). Ini bukan lagi sekadar penagihan; ini adalah eksekusi publik. Mami Kenzo sengaja men-tag namanya dan Arini sekaligus di depan tiga puluh orang lainnya untuk memberikan tekanan psikologis.
Di lantai bawah kantor yang sama atau mungkin di sela-sela syuting kontennya, Arini pasti sedang membaca pesan itu. Prasetya bisa membayangkan senyum Umbridge yang mekar di bibir istrinya. Arini tidak akan membalas pesan Mami Kenzo. Arini akan diam, membiarkan waktu berdetak, menunggu Prasetya merendahkan harga dirinya untuk mencari pinjaman atau mengemis pada Arini agar citra mereka tidak hancur di grup tersebut.
Prasetya tidak membalas pesan grup itu. Ia tidak akan memberikan kepuasan pada Arini, dan ia tidak akan menunjukkan kelemahan pada Mami Kenzo.
Ia menarik napas panjang, menekan tombol kunci di ponselnya. Otaknya yang dingin dan sistematis langsung melakukan pemindaian aset. Jika likuiditas kas tidak ada, maka aset fisik harus dilikuidasi. Ia mulai mendata barang-barang pribadinya yang bisa dikonversi menjadi uang tunai dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam tanpa disadari oleh Arini.