PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #10

Bab 10

Pukul 20.15 WIB. Ruang tengah Blok Mawar diterangi oleh cahaya kebiruan dari layar televisi layar datar berukuran 55 inci.

Prasetya duduk bersandar di sofa kulit, menatap layar dengan pandangan kosong. Tangan kirinya tanpa sadar bergerak meraba pergelangan tangan kanannya. Jemarinya hanya menemukan kulit yang hangat, bukan dinginnya baja tahan karat dari jam tangan Omega Speedmaster miliknya. Ada sensasi phantom limb—sindrom di mana seseorang masih merasakan kehadiran organ tubuh yang telah diamputasi. Dalam kasus Prasetya, yang diamputasi adalah ego dan status finansialnya.

Di layar televisi, seorang pembaca berita wanita sedang membacakan tajuk utama malam itu. Rekaman video amatir yang disensor sebagian menampilkan seorang pria eksekutif yang sedang digiring oleh polisi setelah terbukti melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) hingga wajah istrinya babak belur. Motifnya klasik: cemburu buta karena urusan mutasi rekening yang tak wajar.

Suara langkah kaki yang teredam karpet terdengar mendekat. Arini berjalan memasuki ruang tengah, mengenakan piyama satin warna navy. Rambutnya dijepit rapi ke atas. Ia sedang mengoleskan cuticle oil beraroma lavender ke kuku-kukunya, sebuah rutinitas perawatan yang presisi dan tidak pernah terlewatkan.

Arini berhenti sejenak di belakang sofa, matanya ikut tertuju pada layar televisi yang sedang menampilkan wajah pelaku KDRT yang tertunduk di ruang konferensi pers kepolisian.

"Lihat berita itu, Ar," suara Prasetya memecah keheningan. Nadanya datar, observasional, persis seperti seorang auditor yang sedang mengevaluasi proyek investasi yang gagal total. "Pria itu menghancurkan wajah istrinya hanya karena emosi sesaat. Sangat tidak taktis."

Arini terus memijat pangkal kukunya, tidak terkejut dengan pembukaan percakapan suaminya. Di luar sengketa aset mereka, Prasetya dan Arini selalu memiliki frekuensi gelombang otak yang sama dalam menilai kebodohan orang lain.

"Dia baru saja menciptakan bukti primer," lanjut Prasetya, matanya tidak beralih dari layar. "Rekam medis, visum et repertum, saksi tetangga. Pria itu secara sukarela meruntuhkan seluruh argumen pembelaannya sendiri. Dia akan kehilangan hak asuh anak dan harta gono-gini dalam lima menit pertama di sidang pengadilan. Laki-laki itu tidak punya leverage. Memukul adalah pengakuan terbuka bahwa otaknya sudah bangkrut."

Arini tersenyum. Bukan senyum khas-nya yang pasif-agresif, melainkan senyum apresiasi murni terhadap analisis logis suaminya. Ia berjalan memutari sofa dan duduk di ujung yang berlawanan dengan Prasetya. Jarak mereka dipisahkan oleh tiga bantal sofa, namun malam ini, mereka berdiri di atas altar kesombongan intelektual yang sama.

"Setuju, Mas," jawab Arini lembut, meniup ujung jarinya agar minyak kutikula itu lebih cepat mengering. "Kekerasan fisik itu low-class. Itu cara penyelesaian masalah untuk orang-orang yang tidak memiliki akses pendidikan. Sangat destruktif bagi brand value keluarga."

Arini mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap wajah suaminya dari samping. "Lagipula, memar di wajah bisa hilang dengan kompres es dan salep heparin dalam seminggu. Rasa sakitnya sementara. Visumnya punya kedaluwarsa."

Mata Arini berkilat dingin saat ia melanjutkan kalimatnya, sebuah filosofi yang merangkum esensi dari pernikahan mereka saat ini.

"Tapi kalau kamu bisa membuat seseorang kehilangan hak akses ke hidupnya sendiri secara pelan-pelan... memblokir keuangannya, menghancurkan reputasinya, membuatnya meragukan kewarasannya sendiri... itu adalah horor psikologis yang tidak punya obat penawar, bukan?"

Prasetya menoleh, mempertemukan mata hitamnya dengan mata Arini. Selama tiga detik yang terasa membekukan, sepasang suami istri itu saling menatap. Tidak ada cinta di sana. Hanya ada rasa hormat yang mencekam antara sesama predator tingkat puncak yang mengakui ketajaman taring satu sama lain.

Mereka berdua tahu bahwa mereka sedang saling membunuh. Namun bagi mereka berdua, saling menghancurkan secara finansial jauh lebih beradab dan memiliki "kelas" daripada saling melempar asbak.

"Benar," Prasetya mengangguk pelan. "Hanya orang bodoh yang meninggalkan jejak darah."

Arini tersenyum puas. Ia bangkit dari sofa. "Aku mau tidur. Besok pagi ada briefing final dengan tim agency. Jangan lupa, Mas, air minum di teko kamarku habis. Tolong isikan. Bagian dari proporsi beban domestik, kan?"

"Tentu," jawab Prasetya.

Lihat selengkapnya