Pukul 08.00 WIB. Selasa pagi. Rutinitas Arini Prameswari selalu terkalibrasi dengan presisi. Bangun pukul lima, yoga selama dua puluh menit, menyiapkan sarapan organik untuk Reno, dan memastikan seluruh draft konten promosi hari itu sudah siap diunggah sebelum prime-time media sosial dimulai pada pukul sembilan.
Pagi ini, Arini duduk di meja makan island dapurnya, memegang segelas smoothie bayam dan nanas. Di depannya, layar iPad Pro menampilkan grafik analitik dari akun Instagram-nya. Namun, ada satu kendala minor: proses unggah video beresolusi 4K untuk klien kosmetiknya tertahan di angka 85%. Jaringan Wi-Fi rumah tiba-tiba mengalami latency (keterlambatan pengiriman data).
Sebagai content creator yang hidup matinya bergantung pada konektivitas, Arini memiliki akses penuh ke aplikasi manajemen router Blok Mawar. Ia membuka aplikasi tersebut untuk melakukan reboot jaringan secara nirkabel.
Saat antarmuka aplikasi itu terbuka, mata Arini menangkap sebuah notifikasi kecil berwarna kuning di sudut kanan atas layar: Security Log Alert.
Arini mengetuk ikon tersebut. Layar menampilkan daftar perangkat yang terhubung dan riwayat akses administrator. Rutinitas pengecekan yang biasanya hanya ia lakukan sebulan sekali, pagi ini membuka sebuah kotak Pandora digital.
[Log Akses Administrator] Waktu: 02:45:12 WIB. Perangkat: Pras_MacBook_Pro (IP: 192.168.1.14) Target Akses: Smart Home Audio Logs Server.
Napas Arini terhenti di pangkal tenggorokan. Jari telunjuknya yang berlapis cat kuku nude melayang kaku di atas layar.
Pukul tiga pagi. Prasetya mengakses server log audio dari Smart Home mereka.
Arini adalah perempuan yang membangun kariernya di atas ekosistem teknologi. Ia tahu persis apa arti log akses tersebut. Sistem speaker pintar yang tersebar di rumah ini—terutama di ruang tengah—secara berkala menyimpan rekaman audio durasi pendek akibat pemicu suara yang keliru. Dan Prasetya baru saja mengunduh riwayat rekaman itu.
Otak Arini bekerja dalam kecepatan kilat, menyisir ulang setiap percakapan yang ia lakukan di rumah ini selama satu minggu terakhir. Di mana ia berdiri? Apa yang ia bicarakan? Dan dengan siapa?
Sebuah memori menghantamnya dengan kekuatan kereta ekspres.
Hari Kamis. Ruang tengah. Telepon dengan Gita. Arini mengingat dengan jelas posisinya saat itu. Ia sedang mondar-mandir di depan televisi, berbicara dengan Gita melalui loudspeaker ponsel. Ia menyebutkan tentang kontrak enam ratus juta dari agensi Clara. Ia menyebutkan batas waktu tanggal satu. Dan yang paling fatal, ia menyebutkan rencananya untuk menggunakan mutasi Kripto lima puluh juta sebagai senjata memeras Prasetya agar tidak menunda sidang.
Sebuah rasa dingin yang menusuk tulang menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun Arini.
Dia mendengarnya, batin Arini. Prasetya mendengarkan semuanya tadi malam.
Jika ini adalah novel roman kelas dua, sang istri akan menangis histeris, berlari ke lantai bawah, mendobrak pintu kamar suami, dan melempar speaker pintar itu ke wajah suaminya sambil berteriak tentang pelanggaran privasi.