PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #12

Bab 12


Pukul 10.00 WIB. Hari Selasa.

Prasetya duduk di kursi tunggu berlapis kulit asli berwarna oxblood, di lantai 35 sebuah gedung perkantoran elit kawasan Mega Kuningan. Pendingin ruangan di tempat ini diatur pada suhu presisi 18 derajat celcius, cukup dingin untuk membuat klien tetap terjaga dan tidak membuang-buang waktu dengan tangisan emosional.

Plakat perak di meja resepsionis marmer itu bertuliskan: Baskoro & Partners: Corporate & High-Net-Worth Family Litigation.

Mata Prasetya terasa sedikit perih. Ia hanya tidur kurang dari dua jam tadi malam setelah mendengarkan fail audio dari Smart Home Blok Mawar berulang-ulang. Rekaman suara Arini yang berbicara dengan pengacaranya—yang Prasetya yakini sebagai kebocoran informasi tak terduga—telah membalikkan seluruh kalkulasi risiko di dalam kepalanya.

“Kirimkan bukti Kripto lima puluh juta itu, ditambah lampiran evaluasi psikologis... Biar kita sama-sama hancur... Dia membatalkan enam ratus jutaku, aku membumihanguskan promosi VP-nya.”

Kalimat istrinya itu terus berdengung di telinga Prasetya seperti alarm kebakaran yang rusak.

Prasetya selalu menganggap Arini sebagai makhluk kalkulatif yang mencintai uang di atas segalanya. Ia yakin ancaman menunda sidang akan membuat Arini tunduk demi menyelamatkan kontrak enam ratus jutanya. Namun, rekaman itu mematahkan hipotesisnya. Arini ternyata telah mencapai titik didih psikologis di mana wanita itu bersedia menjadi suicide bomber. Arini rela kehilangan setengah miliar asalkan Prasetya hancur berkeping-keping di depan bosnya, Purnomo Wijaya.

Dalam manajemen risiko, menghadapi lawan yang rasional adalah hal yang mudah. Anda hanya perlu mencari tahu apa yang mereka inginkan dan memberikan penawaran. Tetapi menghadapi lawan yang sudah tidak memedulikan keselamatan dirinya sendiri adalah mimpi buruk absolut. Anda tidak bisa bernegosiasi dengan teroris yang siap meledakkan sabuk peledaknya.

Prasetya tahu, rencananya untuk menunda sidang mediasi esok hari (Rabu) harus dibatalkan seketika. Ia harus datang ke pengadilan besok dan menandatangani kesepakatan cerai itu agar Arini tidak menekan "Tombol Nuklir" ke meja HRD firmanya.

Namun, menyerah tanpa perlawanan sama saja dengan membiarkan Arini menjarah sisa asetnya dengan rakus. Jika ia harus maju ke medan perang besok tanpa senjata penundaan waktu, ia membutuhkan tameng dan pedang yang baru. Ia membutuhkan seorang algojo profesional.

"Bapak Prasetya Wirawan? Silakan masuk, Pak Baskoro sudah menunggu." Suara asisten wanita berpakaian setelan blazer hitam membuyarkan lamunan Prasetya.

Prasetya berdiri, merapikan dasinya, dan melangkah masuk ke ruang sudut yang berdinding kaca penuh, menyajikan pemandangan kota Jakarta yang berselimut kabut polusi.

Di balik meja kayu mahoni yang sangat luas, duduk Baskoro. Pria berusia awal lima puluhan dengan rambut beruban yang dipotong cepal ala militer. Ia tidak mengenakan jas, hanya kemeja putih berlengan panjang yang digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan Patek Philippe Nautilus di pergelangan tangan kirinya. Sebuah kontras yang menyakitkan bagi pergelangan tangan kanan Prasetya yang kini kosong melompong.

"Duduk, Pras," sapa Baskoro, suaranya berat dan serak karena nikotin. Mereka pernah bertemu beberapa kali di acara networking asosiasi konsultan keuangan. Baskoro bukanlah pengacara perceraian biasa yang mengurusi hak asuh dengan air mata; ia adalah spesialis pembelah aset, pemutilasi harta gono-gini untuk kalangan elit. "Jadi, apa yang membuat seorang Manajer Risiko dari SCBD turun gunung mencari litigator ke Kuningan? Bukankah kantormu punya tim legal sendiri?"

"Konflik kepentingan, Pak Baskoro. Ini urusan domestik. Saya tidak ingin masalah ini terendus oleh dewan direksi di kantor saya," Prasetya duduk tegak, menyilangkan kakinya.

"Mediasi perceraian," Baskoro mengangguk paham, mengambil sebatang cerutu kecil dari kotak di mejanya namun tidak menyalakannya. "Istrimu... Arini Prameswari, bukan? Influencer itu. Saya pernah melihat beberapa klien istri saya memakai produk yang dia promosikan. Ini pasti akan jadi sengketa yang... berisik."

"Tepat," jawab Prasetya. Ia tidak membuang waktu. Ia membuka tas kerjanya, mengeluarkan sebuah map tipis berisi daftar inventarisir aset yang telah ia susun dengan presisi Excel. "Kami memiliki rumah di Blok Mawar, status KPR masih berjalan. Tiga mobil, dua di antaranya atas nama bersama. Portofolio reksadana, dan beberapa polis asuransi pendidikan anak."

Lihat selengkapnya