PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #13

Bab 13


Pukul 14.30 WIB. Studio kreatif agensi Clara memiliki pencahayaan buatan yang diatur sedemikian rupa agar kulit siapa pun yang berada di dalamnya terlihat seperti dilapisi filter Paris di Instagram.

Arini duduk di kursi director berbahan kanvas putih, mengawasi layar monitor yang menampilkan hasil pemotretan teaser untuk kampanye "Janda Tangguh". Di layar itu, Arini terlihat mengenakan blazer asimetris berwarna terracotta, menatap tajam ke arah kamera dengan aura independensi yang telah dikurasi oleh tim beranggotakan enam orang.

Sempurna. Fasad digitalnya tidak memiliki celah.

"Aku suka angle yang ini, Rin," Clara menunjuk layar dengan ujung pena tabletnya. "Sorot matamu kelihatan... resilient. Seperti perempuan yang habis disiksa kehidupan tapi berhasil bangkit dan beli saham. Klien pasti suka."

Arini tersenyum tipis. "Pastikan tim retoucher tidak menghilangkan kantung mataku sepenuhnya, Clara. Sisakan sedikit bayangan di bawah mata. Audiens kita butuh validasi bahwa independensi itu melelahkan, tapi worth it."

Clara tertawa kecil. "Kamu benar-benar tahu cara menjual penderitaan, Rin. Masterpiece."

Sebelum Arini sempat membalas pujian sosiopatik itu, pintu kaca studio terbuka. Asisten Clara, seorang gadis Gen Z dengan kacamata oversized, masuk membawa sebuah amplop cokelat besar berbahan kertas kraft tebal.

"Mbak Clara, Mbak Arini. Maaf mengganggu," asisten itu menyodorkan amplop tersebut ke arah Arini. "Ada paket dokumen urgent via kurir instan, khusus direct-to-hands (harus diterima langsung) untuk Mbak Arini."

Arini mengerutkan kening. Ia mengambil amplop itu. Kertasnya berat, bertekstur mahal. Di sudut kiri atas, terdapat logo emboss berwarna perak yang tercetak presisi: Baskoro & Partners.

Mata Clara yang sejak tadi fokus ke layar monitor, tiba-tiba membelalak saat menangkap logo tersebut.

"Baskoro & Partners?" seru Clara, suaranya kehilangan nada santainya. "The Baskoro? Pengacara litigasi korporat yang menangani perceraian bos tambang nikel tahun lalu itu?" Clara menatap Arini dengan raut wajah campuran antara takjub dan ngeri. "Rin, siapa yang mengirimimu surat dari firma hukum sekelas itu?"

Jantung Arini berdetak satu ketukan lebih cepat, namun wajahnya tetap sedatar layar monitor di depannya. Ia tahu persis siapa yang mengirimnya.

Sang Dewa Logika rupanya telah menemukan eksekutor bayarannya.

"Hanya surat administrasi biasa, Clara," jawab Arini tenang. Ia memasukkan jari telunjuknya yang lentik ke balik lipatan penutup amplop, merobeknya dengan satu gerakan halus yang membelah kertas tanpa merusaknya.

Ia menarik keluar setumpuk dokumen setebal lima belas halaman. Kertas linen berkualitas premium, diketik dengan font Garamond yang sangat formal, dan dibubuhi tanda tangan basah serta stempel firma hukum. Halaman depannya bertuliskan: SOMASI TERBUKA DAN PERINGATAN HUKUM ATAS ASET BERSAMA.

Arini mulai membaca paragraf pertama. Bahasa hukumnya sangat kaku, tebal, dan dirancang untuk mengintimidasi rakyat sipil. Namun Arini adalah seorang ENTJ. Ia tidak terintimidasi oleh jargon; ia membedah esensinya.

Ia membaca halaman kedua, lalu ketiga. Perlahan, kerutan di dahinya menghilang, digantikan oleh kedutan kecil di sudut bibirnya. Kedutan itu semakin lebar saat ia membalik halaman kelima, hingga akhirnya, di tengah studio yang sunyi itu, Arini Prameswari tertawa lepas.

Lihat selengkapnya