PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #14

Bab 14


Pukul 16.00 WIB. Jika kantor Baskoro & Partners di Mega Kuningan dirancang untuk merepresentasikan efisiensi korporat yang dingin dan tanpa emosi, maka firma hukum milik Faris Harahap di kawasan Sudirman dirancang untuk satu tujuan spesifik: Intimidasi visual.

Arini duduk di sofa chesterfield berbahan kulit asli berwarna hijau zamrud. Ruangan itu dipenuhi oleh ornamen emas yang terlalu mencolok, lukisan abstrak berukuran raksasa, dan deretan pigura yang memajang kliping berita dari berbagai media gosip nasional. Semuanya menampilkan wajah sang pemilik firma—Faris Harahap—sedang tersenyum lebar di depan gedung pengadilan, didampingi oleh artis-artis sinetron yang sedang menangis, atau sosialita yang sedang menggugat cerai pengusaha tambang.

Faris Harahap bukanlah seorang litigator yang akan berdebat soal pasal di ruang tertutup. Ia adalah seorang showrunner. Seorang sutradara panggung hukum yang menggunakan opini publik sebagai palu godam. Dan itulah persisnya proksi yang dibutuhkan Arini saat ini.

Pintu ganda dari kayu jati berukir itu terbuka lebar. Faris melangkah masuk. Usianya mendekati akhir lima puluhan, mengenakan setelan jas velvet berwarna maroon gelap dengan saputangan saku sutra bercorak paisley. Di tiga jari tangan kanannya, melingkar cincin batu mulia berukuran tidak masuk akal. Aroma parfum Oud Arab yang sangat tebal langsung menyergap penciuman Arini.

"Mbak Arini Prameswari! The Janda Tangguh in the making!" seru Faris, suaranya menggelegar memenuhi ruangan seolah ia sedang berbicara menggunakan pelantang suara. Ia berjalan mendekat dan menjabat tangan Arini dengan sangat kuat. "Clara dari agensi sudah menelepon saya. Dia bilang Anda sedang menghadapi krisis mediasi dengan suami Anda. Dan suami Anda... siapa namanya? Prasetya? Dia menyewa Baskoro?"

Arini tersenyum, mempertahankan postur anggunnya. "Tepat sekali, Bang Faris. Mas Prasetya baru saja mengirimkan ini ke studio agensi saya siang tadi."

Arini mengeluarkan gulungan kertas somasi berlogo Baskoro & Partners dari dalam tas Hermes-nya dan meletakkannya di atas meja kaca.

Faris meraih dokumen itu, membetulkan letak kacamata bacanya yang berbingkai emas, dan mulai membalik halaman-halamannya. Tidak butuh waktu lama bagi pengacara eksentrik itu untuk mendengus keras, lalu tertawa terbahak-bahak hingga perutnya berguncang.

"GarudaMiles? Poin Sephora? Riwayat tontonan Netflix?" Faris melemparkan dokumen itu kembali ke atas meja dengan gerakan teatrikal. "Baskoro memang dinosaurus korporat yang kaku. Dia pikir ruang sidang Pengadilan Agama itu sama dengan rapat akusisi PT. Dia sedang mencoba memukul Anda dengan ribuan sayatan kertas birokrasi, Mbak Arini. Taktik penguluran waktu yang sangat usang."

"Itulah analisis saya, Bang Faris," jawab Arini tenang. Ia melipat kakinya dengan elegan. "Mas Prasetya sedang panik. Dia ingin memecah konsentrasi saya pada aset utama dan tenggat waktu persidangan. Mantan pengacara saya yang lama, Elsa, menyarankan agar kami membalas somasi ini poin per poin dan menunjukkan bukti riwayat transaksi. Menurut saya, itu langkah yang bodoh dan membuang waktu."

Mata Faris berbinar. Ia menyandarkan punggungnya, menatap Arini dengan rasa kagum yang otentik. Jarang sekali ia mendapatkan klien perempuan yang tidak datang kepadanya sambil menangis tersedu-sedu meminta perlindungan. Perempuan di depannya ini tidak mencari bahu untuk bersandar; perempuan ini mencari penyedia jasa pembunuhan karakter.

"Mbak Elsa itu pengacara lurus, Mbak Arini. Di liga kita, bermain lurus adalah cara tercepat untuk kalah," Faris memajukan tubuhnya, menopangkan kedua sikunya di atas lutut. Suaranya kini merendah, berubah menjadi nada konspirasi. "Lalu, Jenderal, apa strategi balasan yang Anda inginkan? Jika kita tidak merespons somasi poin-poin ini, hakim akan menganggap kita tidak kooperatif."

Arini menarik napas pelan. Senyum Umbridge-nya terkembang sempurna.

"Kita tidak akan merespons somasi mikro itu karena kita akan mengubah seluruh lanskap peperangannya, Bang Faris," ucap Arini dengan nada sedingin es batu. "Saya ingin Anda membatalkan seluruh agenda mediasi pembagian aset. Saya ingin kita naik ke tahap litigasi penuh dengan satu narasi tunggal: Kekerasan Dalam Rumah Tangga Berbasis Psikologis dan Penelantaran Ekonomi Ekstrem."

Lihat selengkapnya