Pukul 17.15 WIB. Jumat sore.
Setelah menyelesaikan transaksinya dengan Faris Harahap di kawasan Sudirman, Arini tidak langsung pulang ke Blok Mawar. Ia meminta sopir taksi online-nya untuk menepi di sebuah coffee shop eksklusif di kawasan Senopati. Ia butuh tempat netral untuk mengeksekusi fase pertama dari perang proksinya.
Arini memesan secangkir earl grey tea panas, duduk di sudut ruangan yang sepi, dan membuka MacBook Air miliknya. Layar menyala, memantulkan wajahnya yang dingin dan penuh perhitungan.
Di dunia maya, ada dua jenis medan pertempuran. Instagram dan TikTok adalah arena emosional; tempat di mana air mata, skandal perselingkuhan, dan KDRT dikapitalisasi menjadi empati massal. Arini telah menyiapkan dossier KDRT psikisnya bersama Bang Faris untuk diledakkan di arena itu pada saat yang tepat nanti.
Namun, ada arena kedua yang jauh lebih mematikan bagi seorang pria berjas seperti Prasetya. Arena yang tidak memedulikan drama rumah tangga, melainkan sangat sensitif terhadap etika kerja dan kepemimpinan.
LinkedIn.
Arini membuka browser dan mengetikkan alamat situs jaringan profesional tersebut. Ia tidak login menggunakan akun aslinya. Ia menggunakan browser mode Incognito dan masuk menggunakan akun bayangan ( burner account ) yang ia buat beberapa bulan lalu untuk memata-matai kompetitor agensinya. Nama akun itu: A. Rahman - Independent Financial Analyst.
Ia mencari profil Prasetya Wirawan.
Dalam dua detik, wajah suaminya muncul di layar. Foto profil Prasetya menampilkan pria itu dalam balutan jas navy, tersenyum profesional dengan latar belakang gedung-gedung SCBD. Sempurna, kaku, dan tanpa cela. Di bawah namanya tertulis: Senior Risk Manager | Financial Auditor | Candidate for Vice President at [Nama Firma].
Arini menggulir layar ke bawah, membaca kolom Endorsements (Rekomendasi). Terdapat puluhan ulasan dari rekan kerja dan klien Prasetya yang memuji pria itu dengan kata-kata mutiara korporat: "Detail-oriented", "Highly analytical", "Exceptional leader under pressure."
Bahkan, ada rekomendasi panjang dari Purnomo Wijaya, bos besar Prasetya: "Prasetya adalah contoh pemimpin masa depan yang memadukan rasionalitas dan empati dalam mengelola risiko tim."
Membaca kata 'empati' yang disematkan pada nama Prasetya membuat Arini mendengus sinis. Empati dari mana? Dari caranya menagih biaya argon gas kulkas kepadaku?
Bagi Prasetya, LinkedIn bukan sekadar media sosial. Itu adalah cermin narsistiknya. Itu adalah identitas intinya. Jika Anda ingin membunuh seorang monster patriarki teknokratis, Anda tidak menembak jantungnya; Anda menembak resume-nya.