Pukul 18.45 WIB. Jumat malam.
Kemacetan di Jalan Jenderal Sudirman tidak pernah bisa diprediksi secara absolut, namun selalu memiliki pola eksponensial setiap menjelang akhir pekan. Prasetya Wirawan duduk di balik kemudi Honda HR-V miliknya, mendengarkan podcast tentang analisis makroekonomi global. Suhu kabin diatur pada 24 derajat Celcius. Semuanya stabil. Semuanya berada dalam kendali.
Namun, kestabilan itu pecah ketika layar sistem infotainment di dashboard mobilnya menyala, menampilkan notifikasi panggilan masuk dari Dimas, analis junior di timnya.
Prasetya menekan tombol terima di kemudi. "Ya, Dimas. Ada dokumen yang kurang untuk presentasi Senin?"
Terdengar suara helaan napas ragu dari seberang telepon. Dimas adalah bawahan yang kompeten, tipe pekerja yang tidak pernah menelepon di luar jam kantor kecuali ada krisis level merah.
"Maaf mengganggu waktu istirahat Bapak," suara Dimas terdengar sangat berhati-hati, nyaris seperti orang yang sedang berjalan di atas ladang ranjau. "Tapi... apakah Bapak sudah membuka LinkedIn dalam satu jam terakhir?"
"Saya tidak mengecek media sosial di jalan. Ada apa?" balas Prasetya, matanya tetap awas memperhatikan lampu rem mobil di depannya.
"Ada sebuah unggahan anonim, Pak. Di akun Corporate Culture Watch. Unggahan itu... sangat viral. Sudah dibagikan lebih dari empat ratus kali dalam satu jam," Dimas menelan ludah, suaranya semakin pelan. "Unggahan itu membahas tentang seorang Senior Risk Manager berinisial PW yang sedang dicalonkan menjadi Vice President di firma konsultan SCBD. Mereka menuduh PW melakukan extreme micromanagement dan menyebutnya sebagai... sosiopat fungsional."
Jantung Prasetya melewatkan satu ketukan. Otot di rahangnya seketika menegang.
Sosiopat fungsional. Itu bukan sekadar kritikan kerja. Itu adalah peluru penembak jitu yang diarahkan tepat ke pusat saraf kariernya.
"Kirimkan tautannya ke WhatsApp saya sekarang, Dimas," perintah Prasetya. Suaranya tidak meninggi, tapi frekuensinya berubah menjadi sedingin es batu.
"S-sudah saya kirimkan, Pak. Maaf, saya merasa Bapak harus tahu sebelum unggahan itu sampai ke grup para manajer... atau ke Pak Purnomo."
"Keputusan yang tepat. Terima kasih, Dimas. Anggap percakapan ini tidak pernah terjadi."
Prasetya memutus panggilan. Ia menepikan mobilnya ke bahu jalan dekat pintu masuk kawasan SCBD, menyalakan lampu hazard, lalu membuka ponselnya.
Tautan dari Dimas langsung mengarah ke aplikasi LinkedIn. Di layar, terpampang tangkapan layar sebuah Direct Message (DM) yang dikirim oleh anonim. Prasetya membaca setiap kalimatnya dengan presisi seorang editor.
Matanya menyipit saat membaca frasa: "Reign of Terror berbasis angka", "Masalah domestik adalah bentuk inefisiensi", dan "Melihat bawahan sebagai angka depresiasi di tabel Excel".
Sebuah dengusan pelan—campuran antara amarah yang mematikan dan rasa takjub yang ironis—keluar dari hidung Prasetya.
Ini bukan tulisan seorang analis junior yang sakit hati. Analis junior tidak menggunakan metafora "angka depresiasi di tabel Excel" untuk mendeskripsikan kepemimpinan. Analis junior juga tidak akan tahu kalimat eksak yang Prasetya ucapkan saat Reno demam beberapa bulan lalu.