PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #17

Bab 17

Sekolah Dasar Global Excellence tidak pernah menggunakan istilah "murid" dalam rapat dewan guru. Mereka menggunakan istilah "Stakeholders Masa Depan". Dengan biaya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) yang mencapai lima belas juta rupiah per bulan, sekolah ini bukanlah institusi pendidikan; ini adalah fasilitas inkubator untuk pewaris takhta kelas menengah atas Jakarta.

Udara di dalam ruang kelas 2B selalu dipertahankan pada suhu ideal 22 derajat Celcius, disaring oleh empat unit air purifier kelas medis agar paru-paru sensitif para anak-anak ini tidak terkontaminasi polusi udara Jakarta.

Tika—wali kelas 2B yang baru berusia dua puluh delapan tahun—telah empat tahun bekerja di ekosistem ini. Latar belakang pendidikannya di bidang Psikologi Anak membuatnya terlatih untuk membaca anomali pada perilaku siswanya. Ia tahu persis bagaimana bentuk trauma anak-anak dari keluarga kaya. Biasanya bermanifestasi dalam bentuk tantrum yang manipulatif, merundung teman sekelas untuk mencari perhatian, atau menarik diri ke pojok ruangan sambil menggigit kuku.

Namun, Tika tidak pernah dilatih untuk menghadapi glitch (kerusakan sistem) yang terjadi pada diri Reno Wirawan.

Reno, putra tunggal dari Prasetya dan Arini Prameswari, adalah anomali berjalan. Anak berusia tujuh tahun itu tidak pernah menangis. Ia tidak pernah berlarian hingga lututnya kotor. Seragamnya selalu memiliki lipatan setrika yang tajam, dan ia mengatur alat tulisnya di atas meja dengan presisi simetris yang mengingatkan Tika pada ruang operasi bedah.

Awalnya, Tika mengira Reno hanyalah anak yang sangat patuh. Namun belakangan ini, Tika mulai menyadari ada hawa dingin yang tidak wajar menguar dari bangku baris ketiga tempat Reno duduk.

Pukul 10.30 WIB. Jam pelajaran seni.

Tika sedang berjalan berkeliling mengawasi anak-anak yang sedang menggambar dengan tema "Keluargaku di Akhir Pekan". Mayoritas anak menggambar vila di Puncak atau pesawat terbang. Di sudut ruangan, Tika melihat Kenzo—putra dari ketua komite kelas, Mami Kenzo—sedang terisak pelan.

Pensil warna Faber-Castell Polychromos milik Kenzo, khusus untuk warna biru tua yang ia butuhkan untuk menggambar laut, patah hingga ke pangkalnya. Kenzo lupa membawa rautan. Di usianya, hal sepele seperti itu adalah kiamat kecil.

Dari sudut matanya, Tika melihat Reno bangkit dari kursinya. Anak laki-laki bertubuh mungil itu berjalan menghampiri meja Kenzo dengan langkah yang sangat terukur. Tangan kanannya memegang sebuah pensil warna biru miliknya sendiri, diraut dengan sangat runcing dan sempurna.

Hati Tika menghangat. Di tengah budaya individualis sekolah ini, melihat seorang anak berinisiatif meminjamkan barangnya kepada teman yang sedang menangis adalah momen langka. Tika memutuskan untuk berhenti sejenak di balik rak buku, berniat mengobservasi interaksi empatik tersebut untuk dicatat dalam buku evaluasi afektif Reno.

Reno berdiri di samping meja Kenzo. Ia tidak menepuk bahu temannya. Ia tidak mengatakan "Jangan menangis, ini pakai punyaku." Reno justru mengeluarkan secarik kertas dari saku seragamnya, meletakkannya di atas meja Kenzo, lalu menyodorkan pensil warna biru itu tepat di sebelah kertas tersebut.

"Kenzo, pensilmu patah," suara Reno terdengar sangat datar, tenang, dan tidak memiliki nada kekanakan yang melengking. "Lautmu belum diwarnai."

Kenzo mengusap ingusnya, menatap Reno dengan penuh harap. "Aku pinjam, ya, Ren?" tangannya terulur untuk mengambil pensil itu.

Dengan gerakan refleks yang sangat cepat namun tidak kasar, Reno menarik pensil itu kembali sejauh dua sentimeter, di luar jangkauan jari Kenzo.

"Boleh pakai. Tapi nggak gratis," jawab Reno, wajahnya tanpa ekspresi. Tika yang bersembunyi di balik rak buku mulai mengerutkan kening. "Kalau kamu pakai untuk mewarnai laut yang besar itu, pensilku pasti jadi makin pendek, kan? Ayahku bilang, kalau barang kita dipakai orang dan jadi berkurang, kita harus minta ganti rugi."

Lihat selengkapnya