Pukul 09.00 WIB.
Koridor Sekolah Dasar Global Excellence dirancang sedemikian rupa agar lebih menyerupai galeri seni kontemporer daripada institusi pendidikan. Lantainya terbuat dari marmer antislip, dindingnya dihiasi lukisan mural bertema pembangunan berkelanjutan (sustainable development), dan suhunya dijaga konstan oleh sistem pendingin udara sentral yang sunyi.
Prasetya melangkah menyusuri koridor tersebut dengan langkah panjang dan teratur. Setelan jas navy-nya tersetrika tajam tanpa cela. Secara visual, ia adalah cetak biru dari seorang wali murid ideal di ekosistem ini: mapan, profesional, dan berwibawa.
Namun, di balik wajah sedatar beton itu, Prasetya sedang menghitung kerugian waktu operasionalnya. Panggilan mendadak dari Miss Tika kemarin sore memaksanya menggeser dua jadwal rapat zoom dan menunda waktu persiapannya untuk menghadapi sidang mediasi di pengadilan agama siang nanti.
Tangan kiri Prasetya bergerak refleks menyentuh pergelangan tangan kanannya, sebuah kebiasaan otot yang belum hilang. Tidak ada Omega Speedmaster di sana. Kekosongan di pergelangan tangannya adalah pengingat konstan bahwa ia sedang berada dalam mode "Krisis Likuiditas". Dan kini, ia harus membuang waktu berharganya karena ada "masalah" dengan Reno di kelas.
Prasetya berhenti di depan sebuah pintu kaca frosted bertuliskan Student Counseling & Development Room. Ia mengetuk dua kali dengan presisi ketukan militer, lalu mendorong pintu tersebut.
Ruangan itu beraroma peppermint dari diffuser ultrasonik di sudut meja. Miss Tika, seorang wanita muda yang tampak sedikit terlalu idealis untuk bekerja di ekosistem elitis ini, duduk di balik meja kaca. Wajah guru itu tampak tegang.
"Selamat pagi, Miss Tika," sapa Prasetya dingin, tanpa mengulurkan tangan untuk berjabat. Ia langsung menarik kursi berlapis kulit sintetis di seberang meja dan duduk. "Saya hanya punya waktu lima belas menit. Apa yang terjadi dengan Reno? Apakah dia memukul temannya? Atau ada penurunan skor akademis?"
Bagi Prasetya, kerusakan pada anak hanya ada dua: kerusakan fisik (tindakan kriminal) atau kerusakan performa (nilai anjlok). Di luar itu, semuanya hanyalah inefisiensi yang bisa ditoleransi.
Tika menelan ludah, terlihat sedikit terintimidasi oleh aura dominasi Prasetya.
"Selamat pagi, Pak Prasetya. Terima kasih sudah meluangkan waktu," Tika memulai, suaranya sedikit bergetar sebelum akhirnya ia meneguhkan posturnya. "Tidak, Reno tidak memukul siapa pun, dan nilai akademisnya sempurna. Masalah yang ingin saya diskusikan hari ini berkaitan dengan... perkembangan afektif dan empatinya."
Prasetya mengangkat sebelah alisnya. Afektif. Empati. Dua kata yang tidak memiliki nilai konversi di bursa saham.
Tika membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bergaris, lalu mendorongnya ke seberang meja, tepat ke hadapan Prasetya.
"Kemarin, saat pelajaran seni, seorang murid bernama Kenzo kebetulan mematahkan pensil birunya dan hampir menangis," Tika mulai menceritakan kronologinya. Ia menceritakan bagaimana Reno datang membawa pensil biru, bagaimana Reno menggunakan ketakutan Kenzo pada ibunya sebagai nilai tawar, hingga akhirnya Reno meminta bayaran dua kartu Pokémon langka untuk sebuah pensil yang dipinjamkan selama sepuluh menit.
Prasetya mendengarkan cerita itu tanpa memutus kontak mata dengan Tika. Otot wajahnya tidak berkedut sedikit pun. Tidak ada raut terkejut, malu, apalagi ngeri.
"Dan buku ini," Tika menunjuk buku catatan kecil di depan Prasetya dengan ujung jarinya yang gemetar, "adalah catatan yang saya temukan di saku Reno. Dia mencatat setiap temannya yang meminjam barang atau meminta bantuannya, lengkap dengan... 'ganti rugi' atau jaminan yang harus mereka bayarkan. Pak Prasetya, Reno secara harfiah sedang menjalankan praktik lintah darat di dalam kelas anak usia tujuh tahun."