PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #20

bab 20

Pukul 02.15 WIB. Hari Kamis dini hari.

Kompleks Blok Mawar tenggelam dalam kesunyian yang tebal, hanya dipecahkan oleh suara rintik hujan gerimis yang menghantam kaca jendela. Di luar, suhu udara menurun drastis, namun di dalam ruang kerja kecil di lantai dua, Arini Prameswari tidak merasakan dingin sedikit pun. Adrenalin yang mengalir di nadinya bertindak layaknya kafein dosis tinggi, menjaga matanya tetap awas dan fokus.

Ruang kerja itu dulunya adalah area netral, tempat mereka berdua biasa melembur pekerjaan di akhir pekan. Namun sejak sengketa mediasi dimulai, Prasetya telah mengklaim ruangan ini sebagai teritori absolutnya. Malam ini, Prasetya tidur di kamar tamu lantai bawah. Pria itu tampaknya sangat kelelahan setelah seharian mengurus pembersihan jejak digital LinkedIn dan berdebat dengan wali kelas Reno. Kelelahan ekstrem yang akhirnya membuat Sang Dewa Logika itu melakukan satu kecerobohan fatal.

Prasetya meninggalkan MacBook Pro berwarna space grey miliknya di atas meja kerja dalam keadaan tertutup, terhubung dengan kabel pengisi daya.

Arini berdiri mematung di depan meja kayu jati tersebut. Ia mengenakan cardigan rajut hitam panjang yang menutupi piyama lilitnya. Rambutnya diikat rapi ke atas. Ia telah memiliki evaluasi psikologis Reno dari Miss Tika—sebuah senjata ampuh untuk tuduhan KDRT Psikis. Namun, pengacara barunya, Faris Harahap, meminta satu bukti pelengkap lagi untuk menyegel kemenangan mereka di pengadilan.

"Hakim Pengadilan Agama sangat menyukai bumbu perselingkuhan, Mbak Arini. Jika Anda bisa menemukan identitas perempuan yang menerima aliran dana lima puluh juta itu, Prasetya tidak akan punya wajah lagi untuk menuntut harta gono-gini."

Kata-kata Faris terngiang di telinganya. Arini butuh nama perempuan itu. Ia butuh mutasi pemesanan hotel, bukti pembelian tas branded, atau riwayat obrolan mesum. Dan semua itu pasti tersimpan di dalam mesin aluminium setebal lima belas milimeter di depannya ini.

Arini menarik kursi ergonomis milik Prasetya. Aromanya masih tertinggal di sana—campuran antara parfum vetiver yang kering dan bau khas kertas printer. Arini duduk, lalu perlahan membuka layar MacBook tersebut.

Layar Retina display itu menyala seketika, memecah kegelapan ruangan dengan cahaya putih yang menyilaukan. Di tengah layar, sebuah kolom kata sandi berkedip mengejeknya, menunggu untuk diisi.

Tidak ada sensor sidik jari di model laptop korporat milik firma Prasetya ini. Semuanya harus diketik manual.

Arini tahu bahwa menebak kata sandi seorang Senior Risk Manager bukanlah hal yang bisa dilakukan dengan metode amatir. Prasetya tidak mungkin menggunakan tanggal pernikahan, tanggal lahir Reno, atau nama hewan peliharaan masa kecil. Hal-hal sentimental seperti itu adalah kelemahan sistem yang sangat dihindari oleh Prasetya. Kata sandi yang menggunakan unsur emosional adalah kata sandi untuk masyarakat kelas pekerja yang malas berpikir.

Namun, Arini telah berbagi ranjang dengan pria ini selama delapan tahun. Ia telah membedah pria itu, mempelajari setiap lipatan arogansinya, dan memetakan struktur egonya.

Arini menatap kolom yang berkedip itu. Apa yang paling dipuja oleh seorang Prasetya Wirawan? batinnya. Bukan aku. Bukan Reno. Bukan Tuhan. Tapi kemampuannya untuk memprediksi dan mengendalikan kekacauan.

Prasetya adalah pemuja buku-buku ekonomi dan teori probabilitas. Pria itu pernah menghabiskan waktu berjam-jam menceramahi Arini tentang bagaimana dunia ini digerakkan oleh peristiwa-peristiwa tak terduga yang menghancurkan orang bodoh, sementara orang pintar selalu bersiap.

Arini meletakkan jari-jarinya yang ramping dan bercat kuku nude di atas keyboard. Ia mencoba kombinasi pertama, sebuah teori ekonomi dari Nassim Nicholas Taleb yang bukunya selalu dipajang di rak paling depan oleh Prasetya.

Ia mengetik dengan hati-hati: BlackSwan2008!

Ia menekan Enter. Kotak kata sandi itu bergetar cepat ke kiri dan ke kanan, menolak akses. Incorrect password.

Lihat selengkapnya