PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #21

Bab 21

Pukul 02.30 WIB. Di dalam ruang kerja Prasetya yang sunyi, Arini Prameswari duduk mematung. Cahaya dari layar Retina MacBook Pro itu memantul di bola matanya, mempertegas raut wajahnya yang kini menegang.

Jari telunjuknya bertumpu pada trackpad. Kursor di layar mengarah tepat pada baris email dengan subjek yang dicetak merah: [Liquidation Notice - Position Closed].

Semua insting detektif yang ia bangun bersama Gita tentang perempuan simpanan, apartemen rahasia, dan tas branded mendadak goyah. Istilah-istilah di layar ini berasal dari dunia yang berbeda. Ini bukan bahasa perselingkuhan; ini adalah bahasa pembantaian finansial.

Dengan napas tertahan, Arini mengklik email tersebut.

Isi email itu diformat dengan desain template korporat yang dingin dan tanpa belas kasihan.

Dear Prasetya Wirawan, Kami menginformasikan bahwa posisi LONG Anda pada pasangan kontrak BTC/USDT dengan leverage 50x telah dilikuidasi secara otomatis oleh sistem kami. Harga pasar telah menyentuh Titik Kebangkrutan (Bankruptcy Price) Anda. Margin pemeliharaan Anda tidak mencukupi untuk mempertahankan posisi ini. Saldo Dompet Futures Anda saat ini: 0.00 USDT.

Arini bukanlah seorang pialang saham, tapi sebagai Digital Strategist yang sering menangani kampanye literasi keuangan untuk bank-bank swasta, ia tidak butuh gelar master ekonomi untuk menerjemahkan paragraf tersebut.

Prasetya tidak sedang mencuci uang. Prasetya tidak sedang mengirimkan dana ke rekening pihak ketiga.

Uang lima puluh juta rupiah dari dana darurat asuransi anak mereka dimasukkan ke dalam bursa Kripto. Prasetya menggunakannya untuk bermain di pasar Futures—perdagangan kontrak berjangka. Lebih parah lagi, pria itu menggunakan leverage 50x. Prasetya meminjam dana dari platform hingga lima puluh kali lipat dari modal awalnya untuk memperbesar potensi keuntungan, sebuah tindakan bunuh diri finansial jika pasar bergerak melawan prediksinya.

Dan pasar memang bergerak melawannya. Uang lima puluh juta itu tidak ditransfer ke perempuan mana pun. Uang itu hangus. Menguap ditelan algoritma blockchain dalam hitungan menit, mungkin detik, hingga tersisa angka nol mutlak.

Arini melepaskan tangannya dari trackpad. Ia menyandarkan punggungnya perlahan ke sandaran kursi ergonomis.

Ruang kerja itu terasa berputar sejenak saat otaknya mencoba merekonsiliasi dua gambar yang sangat kontradiktif. Di satu sisi, ada Prasetya Wirawan—Sang Dewa Logika, Manajer Risiko senior di SCBD, pria yang menghitung biaya penyusutan daya kompresor kulkas sebesar lima belas ribu rupiah per hari, pria yang mengukur nilai istri dan anaknya dari tabel efisiensi Excel.

Di sisi lain, ada Prasetya Wirawan—seorang penjudi amatir yang tamak, yang mempertaruhkan tabungan pendidikan anaknya di kasino digital berisiko paling tinggi, dan hancur lebur tanpa sisa.

Selama satu menit penuh, keheningan di ruangan itu terasa memekakkan telinga. Lalu, sebuah getaran aneh bermula dari bahu Arini. Getaran itu merambat ke dadanya, hingga akhirnya memecah keluar dari bibirnya.

"Astaga..." Arini mendesis pelan.

Lihat selengkapnya