Pukul 06.30 WIB. Kamis pagi.
Dapur Blok Mawar selalu memiliki rutinitas akustik yang khas di pagi hari. Bunyi dengungan kulkas perak, gemeretak biji kopi arabika yang digiling oleh mesin grinder, dan desis air panas dari french press. Pagi ini, semua suara itu terdengar seperti simfoni kemenangan di telinga Arini Prameswari.
Arini berdiri di balik island dapur marmernya. Ia hanya tidur tiga jam setelah membobol laptop Prasetya dini hari tadi, namun ia tidak merasa lelah sedikit pun. Ia telah mandi dan mengenakan blus sutra berwarna emerald yang dipadukan dengan celana kulot putih—pakaian yang memancarkan aura dominasi yang elegan. Riasannya pagi ini tidak menggunakan mode "Ibu Tertekan" seperti saat ia memanipulasi Miss Tika. Riasannya hari ini sangat tajam; eyeliner yang membingkai matanya ditarik lurus ke atas layaknya pedang yang siap menebas.
Di atas meja marmer, tepat di posisi di mana Prasetya biasanya duduk untuk sarapan, Arini telah menata sebuah mahakarya.
Sebuah cangkir keramik hitam berisi kopi tanpa gula kesukaan Prasetya. Di bawah tatakan cangkir itu, tidak ada serbet kain. Arini meletakkan sebuah map bening transparan. Di dalam map itu, terdapat tiga lembar kertas HVS A4 yang baru saja ia cetak. Kertas-kertas itu masih menyisakan aroma tajam tinta printer laser.
Halaman paling atas adalah screenshot email notifikasi dari PT Bursa Digital Kripto Nusantara dengan subjek: [Liquidation Notice - Position Closed]. Halaman kedua adalah bukti penarikan tunai dari rekening darurat gabungan mereka. Dan halaman terakhir adalah tangkapan layar percakapan WhatsApp antara Prasetya dan 'Koh Abun' tentang penjualan jam tangan Omega Speedmaster.
Arini menyilangkan kedua tangannya di depan dada, bersandar pada tepi meja dapur. Detak jantungnya sangat stabil. Ini adalah hari penghakiman.
Tepat pukul 06.40 WIB, terdengar suara langkah kaki menuruni tangga kayu. Prasetya muncul dari lorong. Pria itu mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang digulung hingga siku, dipadukan dengan celana bahan abu-abu gelap. Wajah pria itu terlihat sedikit kaku dan ada bayangan gelap di bawah matanya—mungkin efek kelelahan karena harus membersihkan jejak digital LinkedIn semalaman. Namun, postur Prasetya tetap angkuh, memancarkan aura seorang eksekutif yang merasa memegang kendali atas segalanya.
"Pagi, Mas Prasetya," sapa Arini dengan suara lembut yang melantun bagai madu beracun.
Prasetya menghentikan langkahnya sejenak, melirik Arini dengan tatapan menilai. Ia kemudian berjalan menuju kursinya, menariknya, dan duduk. "Pagi, Arini. Tumben kopi saya sudah disiapkan sebelum diminta."
"Saya rasa, hari ini kamu akan sangat membutuhkan dorongan kafein ekstra," Arini membalas dengan senyum simetris yang mematikan.
Prasetya tidak menyahut. Ia hanya mendengus pelan, meraih gagang cangkir keramik hitam itu dan mengangkatnya.
Saat itulah, mata elang Prasetya menangkap keberadaan map bening di bawah tatakan cangkir. Refleks seorang auditor membuatnya segera menghentikan gerakan tangannya. Ia menurunkan cangkir itu ke samping meja, lalu menarik map transparan tersebut.
Arini tidak berkedip. Ia mengawasi setiap milimeter perubahan pada wajah suaminya. Ia ingin merekam momen ini ke dalam memori permanen otaknya.
Mata Prasetya menyapu paragraf pertama yang dicetak tebal. Posisi LONG Anda pada kontrak BTC/USDT dengan leverage 50x telah dilikuidasi... Harga pasar telah menyentuh Titik Kebangkrutan...
Apa yang terjadi selanjutnya adalah reaksi fisiologis yang menakutkan dari seorang pria yang sistem pertahanan narsistiknya runtuh dalam satu detik.