PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #23

Bab 23

Pukul 06.45 WIB. Dapur Blok Mawar masih merekam jejak eksekusi yang baru saja terjadi.

Ketukan sepatu hak tinggi Arini menggema menjauh menuju pintu garasi, berirama layaknya detak jarum jam yang menghitung mundur kehancuran Prasetya. Di atas meja island marmer, kertas HVS berisi notifikasi likuidasi Kripto itu masih tergeletak, mengejeknya dengan tinta hitam yang kontras.

Selama hampir satu menit, Prasetya Wirawan tetap membeku di kursinya. Sistem saraf pusatnya mengalami shutdown (mati sementara) akibat syok. Egonya yang selama ini berlapis titanium baru saja ditelanjangi hingga ke tulang. Arini tahu segalanya. Kebodohannya, kegagalannya, hingga jam tangan Omega yang ia jual di pasar loak. Prasetya nyaris bisa merasakan udara dingin menyapu kulitnya yang tak lagi memiliki pelindung.

Namun, Prasetya bukanlah manusia biasa. Ia adalah sebuah mesin kalkulasi yang dilatih untuk memitigasi krisis. Ketika sebuah mesin mengalami crash, protokol otomatisnya adalah melakukan reboot (menghidupkan ulang sistem).

Dan di tengah proses reboot mental itu, otak analitik Prasetya mulai memutar ulang rekaman ancaman Arini secara slow-motion. Mengaudit setiap suku kata, setiap frasa, setiap intonasi.

"Satu, hak asuh penuh atas Reno... Dua, rumah Blok Mawar ini... Tiga, kamu tidak akan menyentuh satu persen pun dari kontrak agensiku."

Mesin di dalam kepala Prasetya mendadak berhenti pada poin ketiga. Lampu peringatan berwarna kuning menyala di dasbor logikanya. Ada sebuah anomali. Ada bug yang sangat fatal dalam deklarasi kemenangan istrinya.

Tiga hari yang lalu, Prasetya ketakutan setengah mati hingga membuang uang empat puluh juta rupiah untuk menyewa pengacara Baskoro, semua karena ia mendengar rekaman audio dari Smart Home. Dalam rekaman itu, Arini berteriak pada pengacaranya bahwa ia tidak peduli lagi pada kontrak enam ratus juta tersebut dan siap menghancurkan karier Prasetya dengan bukti Kripto. Prasetya mengira Arini telah berubah menjadi pelaku bom bunuh diri (suicide bomber).

Tetapi pagi ini, di tengah kemenangan mutlaknya, Arini justru memasukkan "kontrak agensi" sebagai aset yang harus dilindungi.

Logika dasar manajemen risiko menyatakan: Seorang martir yang siap mati tidak akan pernah repot-repot menegosiasikan uang saku. Jika Arini benar-benar sudah tidak peduli pada kontrak enam ratus juta itu, ia tidak akan memasukkannya ke dalam draf tuntutan. Fakta bahwa Arini masih berusaha memagari kontrak tersebut membuktikan satu hal absolut: Arini sangat peduli pada uang enam ratus juta itu.

Arini membutuhkan uang itu. Arini bergantung pada kontrak itu. Tenggat waktu tanggal satu masih menjadi titik nadir istrinya.

Dan itu berarti, rekaman amarah di Smart Home beberapa hari yang lalu adalah palsu. Sebuah teater monolog. False Data Feeding. Sang Jenderal Digital telah memanipulasinya untuk panik, dan Prasetya—Dewa Logika ini—telah memakan umpan itu mentah-mentah.

Sebuah getaran aneh bermula di dada Prasetya. Bukan lagi rasa malu, melainkan ledakan adrenalin yang sangat murni dan memabukkan. Ia tidak kalah. Ia hanya salah membaca data. Keseimbangan kekuasaan belum sepenuhnya hilang.

Prasetya mengangkat wajahnya. Matanya yang tadi redup kini kembali menyala dengan kilat predator yang jauh lebih mematikan.

"Arini."

Suara Prasetya membelah keheningan dapur. Nadanya tidak tinggi, tidak berteriak, namun memiliki kepadatan yang memaksa rambatan suara itu melaju seperti peluru.

Di ambang pintu garasi, langkah Arini terhenti. Wanita itu menoleh perlahan, tangan kirinya masih memegang gagang pintu. Senyum merendahkan masih terukir di wajahnya. Ia mungkin mengira Prasetya memanggilnya untuk memohon ampun, untuk berlutut meminta belas kasihan agar rahasianya tidak dibocorkan ke Purnomo.

"Ada yang tertinggal, Mas?" tanya Arini dengan kelembutan yang beracun. "Kalau kamu mau memohon, tolong persingkat. Aku ada jadwal pemotretan jam delapan."

Lihat selengkapnya