Pukul 07.15 WIB. Hari Kamis.
Dari balik kaca jendela ruang kerjanya di lantai dua, Prasetya Wirawan berdiri tanpa ekspresi. Matanya yang gelap mengikuti pergerakan mobil Honda HR-V putih milik Arini yang meluncur keluar dari gerbang Blok Mawar, menyatu dengan arus lalu lintas pagi Jakarta yang padat.
Ketegangan di dapur lima belas menit yang lalu masih meninggalkan jejak kaku di otot lehernya. Mutually Assured Destruction—Kehancuran Pasti Bersama. Sebuah doktrin militer Perang Dingin yang baru saja ia terapkan di meja makan rumahnya sendiri. Prasetya telah berhasil memaksa Arini menurunkan senjatanya dengan mengancam akan menghancurkan kontrak enam ratus juta wanita itu melalui taktik penundaan sidang. Mereka telah mencapai apa yang disebut dalam teori konflik sebagai "Keseimbangan Teror".
Namun, bagi seorang Senior Risk Manager, keseimbangan teror adalah posisi yang cacat secara fundamental.
Keseimbangan teror mengharuskan kedua belah pihak bertindak murni berdasarkan rasionalitas absolut. Masalahnya, Arini Prameswari tidak selalu digerakkan oleh rasionalitas. Arini digerakkan oleh arogansi, validasi algoritma, dan kebenciannya pada kekalahan. Dalam kondisi terpojok, selalu ada probabilitas sebesar dua puluh persen bahwa Arini akan bertindak irasional dan tetap menekan tombol peluncurnya—mengirimkan bukti Kripto itu ke Bos Purnomo—meski itu berarti Arini juga ikut hancur.
Prasetya tidak bisa, dan tidak akan pernah mau, menggantungkan nasib karier dan promosi Vice President-nya pada kewarasan seorang wanita yang sedang marah.
"Kamu pikir memegang pistol di kepalaku membuatmu setara denganku, Arini?" gumam Prasetya pada kaca jendela yang berembun akibat perbedaan suhu. "Seorang amatir menodongkan pistol. Seorang profesional memastikan lawannya tidak punya jari untuk menarik pelatuknya."
Prasetya berbalik dari jendela. Ia melangkah menuju meja kerjanya dan duduk di depan MacBook Pro space grey-nya. Laptop yang sama yang beberapa jam lalu diretas oleh istrinya. Ia tidak peduli bahwa Arini telah mencuri data Kripto-nya dari mesin ini. Komputer ini masih memiliki senjata lain yang jauh lebih mematikan dari sekadar riwayat kerugian trading.
Prasetya membuka file arsip perpajakan keluarganya.
Selama delapan tahun pernikahan mereka, Prasetya-lah yang selalu mengurus pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak Penghasilan, baik miliknya maupun milik Arini. Ia tahu setiap inci anatomi keuangan istrinya.
Sebagai seorang Digital Strategist dan influencer kelas menengah atas, Arini memiliki dua jalur pendapatan. Jalur pertama adalah jalur "Putih"—pendapatan resmi dari agensi Clara yang dipotong pajak final dan masuk ke rekening BCA Prioritas atas nama Arini Prameswari. Ini adalah uang yang sah, transparan, dan terlacak oleh sistem perbankan negara.
Namun, ada jalur kedua. Jalur "Hitam".
Jalur ini adalah pendapatan endorsement skala menengah (kosmetik indie, klinik kecantikan lokal, teh pelangsing) yang menghubungi Arini secara langsung ( direct-to-client ) tanpa melalui agensi. Untuk menghindari potongan fee agensi dan menghindari pajak progresif yang mencekik, Arini menggunakan Proxy Account (Rekening Bayangan). Ia menyuruh klien-klien ini mentransfer bayarannya ke rekening Bank Mandiri atas nama Siti Aminah—ibu kandung Arini.
Ibunda Arini adalah seorang pensiunan yang tinggal di kota kecil, yang NPWP-nya sudah tidak aktif dan riwayat transaksinya tidak pernah dipantau oleh otoritas pajak pusat. Arini memegang kartu ATM dari rekening ibunya itu, mencairkannya secara berkala, atau menggunakannya untuk membayar gaya hidupnya sehari-hari tanpa pernah melaporkannya sebagai tambahan penghasilan di SPT tahunan.
Skema penghindaran pajak (tax evasion) ini sangat klasik, primitif, namun sangat efektif jika tidak ada yang membocorkannya dari dalam.
Tangan Prasetya mulai bergerak lincah di atas keyboard dan trackpad. Ia membuat sebuah folder baru di layar desktop-nya, menamainya [Dossier_AP_04].
Ia mulai menyusun mahakarya eksekusinya.