Pukul 14.30 WIB. Hari Jumat. Tiga puluh satu jam setelah Prasetya dan Arini saling menodongkan senjata pemusnah karier mereka di dapur Blok Mawar.
Klinik Estetika Lumière di kawasan Senopati adalah tempat persembunyian favorit para sosialita, istri pejabat, dan figur publik ibu kota. Udara di dalamnya selalu beraroma white tea dan thyme, suhunya dijaga konstan di angka 20 derajat Celcius, dan musik lo-fi mengalun pelan dari speaker tersembunyi yang tertanam di langit-langit berdesain industrial.
Arini Prameswari duduk di sofa lounge berlapis beludru abu-abu, menyesap infused water lemon dari gelas kristal tipis. Wajahnya baru saja selesai menjalani prosedur Ultherapy dan injeksi skin booster DNA ikan salmon—sebuah investasi senilai dua puluh lima juta rupiah untuk memastikan kulitnya memancarkan aura 'flawless independency' (kemandirian tanpa cela) saat campaign "Janda Tangguh" diluncurkan nanti.
Sejak insiden Mexican Standoff dengan Prasetya kemarin pagi, Arini terus memutar otak. Prasetya mengancam akan mengulur waktu persidangan hingga kontrak enam ratus jutanya hangus. Pria itu menolak hancur sendirian. Namun, Arini adalah Sang Jenderal Digital. Ia tidak mudah menyerah. Ia berencana menggunakan dokumen evaluasi psikologis Reno dari Miss Tika yang ia dapatkan kemarin untuk menyuap hakim mediator agar mempercepat proses ketok palu dengan alasan "urgensi perlindungan anak".
Bagi Arini, selama ia memiliki uang untuk membayar Faris Harahap—pengacara selebriti dengan tarif seratus dua puluh juta itu—hukum bisa dibengkokkan. Ia hanya perlu terus berlari lebih cepat dari Prasetya.
"Ibu Arini," seorang staf resepsionis berpakaian seragam hitam elegan menghampirinya sambil membawa tablet pembayaran dan mesin EDC nirkabel. "Perawatannya sudah selesai. Kulit Ibu terlihat sangat luar biasa hari ini. Total tagihannya dua puluh lima juta lima ratus ribu rupiah. Mau menggunakan kartu BCA Prioritas yang biasa?"
Arini tersenyum anggun, memancarkan aura kelas atas yang telah ia kurasi selama bertahun-tahun. "Tentu, Mba."
Arini membuka dompet kulitnya, mengeluarkan sebuah kartu mengkilap berlogo Prioritas, dan menyerahkannya. Staf itu memasukkan cip kartu tersebut ke dalam mesin EDC, mengetikkan nominal, dan menyodorkannya kembali agar Arini bisa menekan PIN.
Jari-jari Arini bergerak lincah menekan enam digit angka sandinya. Ia menekan tombol hijau Enter. Layar EDC itu menampilkan tulisan Processing, diikuti oleh suara dial-up elektronik yang sangat pelan.
Tiga detik kemudian, mesin itu tidak mengeluarkan kertas setruk. Alih-alih, ia mengeluarkan bunyi bip panjang yang sumbang. Di layarnya, berkedip tulisan berwarna merah:
TRANSACTION DECLINED - PLEASE CONTACT YOUR BANK. (KODE 05).
Staf resepsionis itu tersenyum canggung, mencoba menjaga profesionalitas. "Maaf, Bu Arini. Sepertinya ada gangguan jaringan ke server bank. Statusnya Declined. Boleh kita coba sekali lagi?"
Arini mengerutkan kening sedikit, namun menjaga posturnya tetap rileks. "Boleh. Mungkin cip kartunya agak kotor. Coba digesek lagi saja."
Proses itu diulang. PIN ditekan kembali. Tiga detik menunggu.
Bip. TRANSACTION DECLINED - CONTACT ISSUER.
Rasa hangat yang sangat tidak nyaman mulai menjalar di bagian belakang leher Arini. Ini bukan sekadar gangguan jaringan. Saldo di rekening BCA miliknya seharusnya berada di angka lebih dari tiga ratus juta rupiah—cukup untuk membeli sebuah mobil LCGC secara tunai. Tidak mungkin transaksi dua puluh lima juta tertolak karena limit atau saldo tidak mencukupi.
"Aneh sekali," gumam Arini, menjaga nada suaranya agar tidak terdengar panik. Ia tidak boleh terlihat miskin atau bermasalah di klinik tempat rumor menyebar lebih cepat daripada cahaya ini. "Pakai kartu yang lain saja, Mba. Mungkin BCA sedang maintenance sistem dari pusat."
Arini mengeluarkan kartu debit Bank Mandiri. Kartu ini bukan atas namanya, melainkan atas nama Siti Aminah—ibunya. Ini adalah "Rekening Bayangan" (Proxy Account) yang ia gunakan khusus untuk menampung aliran dana endorsement langsung dari klien brand-brand menengah untuk menghindari pelacakan pajak progresif. Rekening bayangan ini jauh lebih gemuk daripada rekening utamanya.
Staf klinik memasukkan kartu kedua. Mesin memproses. PIN ditekan.
Bip. TRANSACTION DECLINED - CONTACT ISSUER.
Kali ini, Arini benar-benar berhenti bernapas selama dua detik penuh. Otaknya yang algoritmik mendadak mengalami latency (keterlambatan respons). Dua kartu debit. Dari dua bank yang berbeda. Atas nama dua orang yang berbeda. Keduanya ditolak secara berurutan pada detik yang sama.