PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #26

Bab 26

Pukul 19.00 WIB. Hari Jumat.

Kondisi lalu lintas di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman sedang berada pada puncaknya, dipenuhi lautan lampu merah dari ribuan kendaraan yang merayap menembus rintik hujan malam Jakarta. Namun di dalam rumah Blok Mawar, waktu seolah berjalan dengan ritme yang sangat lambat dan terkendali.

Prasetya Wirawan duduk di kursi island dapur marmernya. Ia tidak sedang memegang laptop atau dokumen kerja. Di depannya, terdapat seperangkat alat pembersih sepatu kulit premium: sikat bulu kuda, kain chamois, dan krim pemoles Saphir berwarna hitam pekat.

Dengan gerakan ritmis yang presisi, Prasetya memoles sepasang sepatu Oxford kulit miliknya. Mengoleskan krim, menyikatnya dengan pola melingkar, lalu menggosoknya hingga permukaan kulit itu mengkilap sempurna layaknya cermin gelap. Ia sedang mempersiapkan "baju zirahnya" untuk acara makan malam ulang tahun pernikahan Hendra esok hari. Makan malam di mana Bos Purnomo akan hadir. Makan malam yang akan menentukan nasib promosi Vice President-nya.

Sejak pukul tiga sore tadi, ponsel Prasetya bergetar menampilkan lima panggilan tak terjawab berturut-turut. Semuanya dari Arini.

Prasetya tidak mengangkat satu pun dari panggilan tersebut. Ia membiarkannya berdering hingga mati sendiri. Dalam teori negosiasi krisis, membiarkan lawan yang sedang panik berteriak ke dalam ruang hampa adalah metode paling efektif untuk menguras sisa-sisa daya tahan psikologis mereka.

Sang Dewa Logika tahu persis apa arti panggilan telepon yang bertubi-tubi itu. Surat perintah pemblokiran dari Direktorat Jenderal Pajak pasti sudah dieksekusi oleh pihak perbankan siang ini. Arini pasti sudah mencoba menggesek kartunya di suatu tempat dan tertolak. Sang Jenderal Digital itu pasti sedang kehabisan napas, tercekik oleh rantai birokrasi negara yang tidak bisa ia retas menggunakan pesona media sosialnya.

Pukul 19.15 WIB. Terdengar deru mesin mobil Honda HR-V memasuki pekarangan. Suara mesin itu dimatikan. Pintu mobil dibanting dengan tenaga yang sedikit lebih keras dari biasanya.

Prasetya tidak menghentikan gerakan tangannya. Ia terus memoles ujung sepatu kirinya. Fasad ketenangannya telah terpasang rapat-rapat. Ia tahu apa yang menunggunya di balik pintu depan. Bukan lagi Arini yang angkuh dan superior seperti saat memegang bukti Kripto kemarin pagi. Yang akan masuk ke rumah ini adalah seekor predator yang sedang terpojok, bersimbah darah, dan siap menerkam secara membabi buta.

Pintu utama terbuka dengan bunyi klik pelan.

Arini Prameswari melangkah masuk. Ia masih mengenakan blus desainer dan celana kulot yang elegan, namun posturnya menceritakan segalanya. Bahunya kaku, napasnya sedikit memburu, dan tatapan matanya mengunci Prasetya dari jarak tujuh meter. Tidak ada iPad di tangannya. Tidak ada senyum Umbridge yang merendahkan. Yang ada hanyalah kebencian murni yang dikompresi menjadi satu titik laser.

Prasetya meletakkan sikat bulu kudanya. Ia menepuk-nepuk tangannya dengan kain bersih, lalu mendongak menatap istrinya.

"Selamat malam, Arini," sapa Prasetya dengan suara rendah dan observasional, layaknya seorang dokter yang sedang memeriksa pasien di ruang gawat darurat. "Bagaimana harimu?"

Arini berjalan cepat melintasi ruang tengah. Hak sepatunya berderak keras menghantam lantai kayu. Ia berhenti tepat di seberang island dapur, meletakkan kedua tangannya dengan keras di atas marmer.

"Kau membekukan rekening ibuku," suara Arini memecah kesunyian. Nadanya tidak tinggi. Tidak ada teriakan histeris. Suara itu bergetar oleh amarah yang ditekan secara ekstrem hingga terdengar seperti desisan ular. "Kau menggunakan Whistleblower anonim untuk melaporkanku ke Satgas Pajak. Kau mengunci semua arus kasku. Uang susu Reno. Uang operasional agensiku. Semuanya."

Prasetya menyandarkan punggungnya perlahan ke kursi. Ia tidak membantah, tidak pula mengelak. Ia menatap wajah Arini yang pucat.

"Saya hanya melakukan kewajiban saya sebagai warga negara yang taat hukum, Arini," jawab Prasetya sangat dingin. "Saya menemukan anomali pada rasio pendapatan endorsement dan laporan SPT Tahunanmu. Saya melihat pola penggunaan Proxy Account—rekening bayangan—untuk menghindari pajak progresif. Saya melaporkannya agar sistem bisa diaudit dengan benar oleh negara. Jika kamu memang tidak menggelapkan pendapatanmu selama tiga tahun terakhir, kamu tidak perlu panik, bukan?"

Lihat selengkapnya