PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #27

Bab 27

Pukul 17.30 WIB. Sabtu sore.

Cahaya putih dari lampu LED cincin (ring light) memantul tajam di pupil mata Arini Prameswari. Ia duduk diam di depan meja rias marmernya di kamar utama Blok Mawar. Di depannya, berjejer puluhan produk kosmetik premium—mulai dari primer, foundation, hingga palet eyeshadow dari jenama-jenama Eropa yang harganya setara dengan UMR Jakarta.

Namun sore ini, Arini tidak sedang berdandan untuk membuat konten tutorial kecantikan. Ia tidak sedang merias wajahnya untuk menarik perhatian followers. Sore ini, Arini sedang membangun sebuah fasad lapis baja. Ia sedang mengenakan baju zirahnya.

Arini meneteskan liquid foundation ke punggung tangannya, lalu mulai meratakannya ke seluruh wajah menggunakan beauty blender. Gerakannya konstan, berirama, dan sedikit lebih bertenaga dari biasanya. Setiap tepukan spons ke kulit wajahnya terasa seperti upaya untuk menambal retakan struktural pada bangunan egonya yang baru saja dihancurkan oleh birokrasi negara kemarin siang.

Pembekuan rekening. Hanya dengan memikirkan dua kata itu, napas Arini terasa kembali sesak. Sang Jenderal Digital, yang selalu merasa memegang kendali atas narasinya, baru saja disadarkan bahwa ia hanyalah seorang warga negara tanpa daya ketika dihadapkan pada Satgas Direktorat Jenderal Pajak. Prasetya tidak memukulnya. Pria itu meretas oksigen finansialnya.

Tawaran Prasetya semalam di dapur bergema kembali di telinganya. 'Aku akan mengurus pengungkapan sukarela pajakmu, asalkan kamu berakting menjadi istri yang sempurna malam ini.'

Itu bukanlah sebuah tawaran kompromi. Itu adalah pemerasan tingkat tinggi. Prasetya Wirawan, Sang Dewa Logika, telah berubah menjadi lintah darat birokrasi yang paling kejam. Dan Arini benci mengakui hal ini, tetapi ia sangat menghormati kekejaman tersebut.

Hanya pria dengan sosiopati fungsional tingkat dewa yang bisa merancang serangan balik presisi seperti itu dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Prasetya menolak Mutually Assured Destruction (Kehancuran Bersama). Pria itu memilih untuk melumpuhkan lawannya dan menjadikannya sandera.

Arini mengambil kuas concealer, menyapukannya di bawah mata untuk menutupi bayangan gelap akibat kurang tidur. Ia harus tampil sempurna malam ini.

Acara malam ini adalah makan malam perayaan ulang tahun ke-55 Nyonya Ratna Wijaya, istri dari Purnomo Wijaya—Direktur Utama firma tempat Prasetya bekerja. Ini adalah arena yang sesungguhnya. Di acara inilah nasib promosi Vice President Prasetya akan diputuskan. Bos Purnomo yang sangat konservatif itu mensyaratkan "kestabilan keluarga" sebagai kriteria utama kepemimpinan. Jika malam ini Arini melakukan satu saja kesalahan—sebuah lirikan sinis, sebuah bantahan tajam, atau bahasa tubuh yang dingin—Purnomo akan langsung mencium bau kebusukan rumah tangga mereka. Promosi Prasetya akan batal.

Namun, jika promosi itu batal, Prasetya akan menolak menandatangani surat cerainya hari Rabu depan. Dan jika itu terjadi, kontrak enam ratus juta Arini dengan agensi Clara akan hangus, dan rekeningnya akan dibiarkan membeku selamanya oleh Prasetya.

Arini menyemprotkan setting spray ke seluruh wajahnya. Kabut halus yang dingin itu mengunci seluruh riasannya. Wajah aslinya telah hilang. Yang tertinggal di cermin hanyalah "Arini Prameswari: Istri Pejabat Eksekutif yang Bahagia dan Suportif".

Ia bangkit dari kursi rias dan melangkah menuju walk-in closet.

Pemilihan kostum untuk malam ini adalah bagian dari manajemen risiko. Ia tidak boleh memakai gaun yang terlalu seksi atau mencolok; itu akan membuat Nyonya Ratna, sang tuan rumah yang usianya sudah separuh baya, merasa tersaingi. Ia juga tidak boleh memakai pakaian yang terlalu kasual atau murah; itu akan mencoreng citra kesuksesan finansial Prasetya di depan rivalnya, Hendra, yang pasti juga akan hadir membawa istrinya, Sisca.

Pilihan Arini jatuh pada gaun midi sutra berwarna midnight blue dengan kerah boat-neck yang elegan. Warnanya konservatif, namun bahan sutranya memancarkan kemewahan yang tak terbantahkan. Gaun ini menyiratkan kepatuhan yang berkelas.

Tepat saat ia selesai memasang ritsleting gaunnya, terdengar suara ketukan dua kali di pintu kamar yang setengah terbuka.

Lihat selengkapnya