PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #28

Bab 28

Pukul 19.45 WIB. Ballroom eksklusif di Hotel Mulia Senayan telah disulap menjadi sebuah ekosistem kepalsuan yang sangat mahal.

Prasetya Wirawan melangkah masuk dengan Arini yang menggamit lengan kirinya. Matanya yang tajam dan analitis secara otomatis memindai ruangan, melakukan proses due diligence (uji tuntas) terhadap lingkungan di sekitarnya.

Lampu chandelier kristal raksasa memendarkan cahaya keemasan. Rangkaian bunga hydrangea biru dan mawar putih impor menghiasi setiap meja bundar yang ditata presisi. Di sudut ruangan, sebuah kuartet alat gesek (string quartet) memainkan komposisi Canon in D karya Pachelbel dengan volume yang dikalibrasi sempurna—cukup terdengar untuk memberikan kesan mewah, namun tidak mengganggu desibel percakapan para tamu.

Mesin kalkulator di dalam kepala Prasetya berputar cepat. Sewa ballroom akhir pekan: lima puluh juta. Dekorasi floral impor: minimal tiga puluh juta. Katering premium untuk lima puluh tamu VIP: tujuh puluh lima juta. Hiburan dan suvenir: dua puluh juta.

Total pengeluaran Purnomo Wijaya untuk merayakan ulang tahun istrinya yang ke-55 malam ini diperkirakan mencapai seratus tujuh puluh lima juta rupiah. Sebuah inefisiensi alokasi dana yang luar biasa konyol menurut standar rasional Prasetya. Namun, dalam ekologi korporat SCBD, ini bukanlah pemborosan; ini adalah biaya public relations (hubungan masyarakat). Purnomo sedang membeli validasi sosial.

Dan malam ini, Prasetya juga sedang melakukan hal yang sama. Ia sedang menjual validasi "Keluarga Sempurna" untuk membeli kursi Vice President.

Arini berjalan di sisinya dengan postur yang tak tertandingi. Ujung jemari Arini melingkar di lengan jas Prasetya. Dari luar, sentuhan itu terlihat seperti gestur seorang istri yang penuh kasih sayang dan bergantung pada perlindungan suaminya. Namun secara fisik, Prasetya bisa merasakan kuku-kuku Arini menekan serat kain wol jasnya sedikit terlalu keras, mencengkeram lengannya layaknya seekor elang yang sedang menahan mangsanya agar tidak berontak.

Aroma parfum Baccarat Rouge yang dipakai Arini menguar, bercampur dengan wangi Vetiver milik Prasetya. Kombinasi itu menghasilkan aroma wibawa yang absolut.

"Fokus, Prasetya," bisik Arini nyaris tanpa menggerakkan bibirnya, senyum manisnya terus terpancar ke arah para tamu. "Rival utamamu ada di arah jam dua."

Prasetya tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang dimaksud istrinya. Ia telah melacak keberadaan Hendra sejak detik pertama mereka memasuki ruangan.

Hendra berdiri di dekat meja prasmanan appetizer, mengenakan jas maroon yang sedikit terlalu mencolok, didampingi istrinya, Sisca, yang memakai gaun keemasan. Begitu melihat Prasetya dan Arini, wajah Hendra berubah dalam sepersekian detik. Kekecewaan yang berusaha disembunyikan di balik senyum ramah tergambar jelas di mata pria itu. Hendra pasti berharap Prasetya datang sendirian malam ini, yang akan menjadi konfirmasi atas rumor perceraiannya dan menghancurkan peluang promosi Prasetya secara otomatis.

Sayangnya, Prasetya tidak akan membiarkan margin kesalahannya terekspos malam ini.

Hendra dan Sisca berjalan menghampiri mereka. Prasetya menegakkan posturnya, memasang senyum alfa-nya—senyum yang tenang, terkendali, dan memancarkan superioritas.

"Pras! Arini! Wah, akhirnya datang juga pasangan paling sibuk di kantor," sapa Hendra dengan suara yang terlalu antusias. Pria itu mengulurkan tangan, menjabat tangan Prasetya erat. "Gue hampir mikir kalian nggak jadi datang lho, Pras. Tahu sendirilah, rumor di kantor belakangan ini agak... liar."

Prasetya tidak menarik tangannya. Ia justru membalas jabatan tangan Hendra sedikit lebih kuat, memberikan tekanan psikologis.

"Rumor adalah produk dari orang-orang yang tidak memiliki data valid, Hen," jawab Prasetya dengan suara berat yang menenangkan. "Arini memang sibuk dengan agensinya, tapi untuk acara sepenting ini, kami selalu memastikan jadwal kami tersinkronisasi."

Lihat selengkapnya