Pukul 20.30 WIB. Di bawah gemerlap lampu chandelier Hotel Mulia, udara terasa sangat tipis bagi Arini Prameswari.
Secara visual, ia adalah definisi mutlak dari kesempurnaan kelas atas. Gaun sutra midnight blue memeluk tubuhnya dengan proporsi yang mengagumkan. Riasan wajahnya—hasil teknik baking dan contouring selama dua jam—tidak bergeser satu milimeter pun meski ia telah melempar puluhan senyum kepada orang-orang yang bahkan tidak ia pedulikan.
Namun secara fisik dan psikologis, Arini sedang diikat. Kalung safir yang melingkar di lehernya terasa sangat berat, seolah batu biru itu memancarkan gravitasi yang mencekiknya perlahan. Ini bukan perhiasan; ini adalah rantai anjing premium. Prasetya menyewanya dengan sisa limit kartu kredit hanya untuk memastikan Arini bermain sesuai script (naskah) di depan Bos Purnomo.
Dan yang paling menyiksa dari semuanya adalah fakta bahwa Prasetya memegang remote control-nya.
Setiap kali Arini mengangkat gelas wine-nya, ingatannya kembali pada layar ponsel yang menampilkan tulisan merah: REKENING DIBEKUKAN. Laporan Whistleblower ke Direktorat Jenderal Pajak itu adalah taktik pembumihangusan paling licik yang pernah ia saksikan. Prasetya memotong akses oksigen finansialnya, memaksanya duduk di meja bundar ini, berakting menjadi istri yang memuja suami, demi mendapatkan amnesti pajak.
Di sebelah kanannya, Sisca—istri dari Hendra si rival kantor—sedang berceloteh panjang lebar tentang betapa sulitnya mencari guru les piano privat untuk anak kembarnya.
Arini menatap Sisca dengan pandangan kosong yang dibingkai senyum simpatik. Di mata Arini, perempuan seperti Sisca adalah aset yang nilai depresiasinya paling tragis. Sisca menukar potensinya demi menjadi piala pajangan suaminya. Sisca tidak memiliki identitas digital, tidak memiliki kemerdekaan finansial, dan seluruh eksistensinya bergantung pada slip gaji Hendra.
Aku bukan Sisca, batin Arini dengan kebencian yang mendidih. Aku mungkin sedang tersandera hari ini, tapi aku adalah entitas yang bisa menghasilkan ratusan juta dari satu unggahan video. Prasetya tidak menghancurkanku; dia hanya memencet tombol 'Pause' pada sistemku.
Makan malam memasuki sesi hidangan utama. Pelayan berseragam putih meletakkan piring porselen berisi steak wagyu dengan saus truffle mushroom di hadapan mereka. Aroma daging panggang yang mewah menguar, namun Arini sama sekali tidak bernafsu. Asam lambungnya naik karena tekanan stres.
Di sebelah kirinya, Prasetya duduk dengan postur yang memuakkan. Pria itu baru saja mendapat kepastian tak tertulis dari Purnomo Wijaya: SK Promosi Vice President siap ditandatangani hari Senin. Arini telah melihat kilat kemenangan di mata Prasetya saat Purnomo membisikkan kalimat itu. Dewa Logika itu merasa ia telah menaklukkan segalanya. Prasetya mengira taktik "Bekukan Pajak, Paksa Akting" ini adalah sebuah masterstroke (langkah pamungkas) yang tak tertandingi. Prasetya mengira Arini telah hancur, menyerah, dan resmi bertekuk lutut di bawah patriarki teknokratisnya.
Arini melirik suaminya. Prasetya sedang mengobrol dengan seorang direktur di seberang meja tentang mitigasi risiko pasar kuartal ketiga. Wajah pria itu memancarkan arogansi intelektual yang sangat pekat.
Lalu, seolah ingin menegaskan dominasinya di depan publik, Prasetya memotong sepotong daging wagyu dari piringnya, dan meletakkannya dengan lembut ke atas piring Arini.
"Kamu belum makan banyak dari tadi, Sayang," bisik Prasetya, suaranya sangat hangat di telinga orang luar. Pada saat yang sama, telapak tangan kiri Prasetya mendarat di paha Arini di bawah meja.
Itu bukan sentuhan kasih sayang. Arini tahu betul bedanya. Itu adalah sentuhan kepemilikan. Sebuah cengkeraman halus yang mengirimkan pesan tersembunyi: 'Kau milikku malam ini. Bermainlah yang manis.'
Rasa muak yang luar biasa meledak di dalam dada Arini. Kecongkakan Prasetya telah melewati batas toleransi algoritmanya. Prasetya boleh mengunci rekening banknya, Prasetya boleh memaksanya memakai kalung sewaan ini, tetapi Arini tidak akan membiarkan pria itu merasa menjadi dewa di atas penderitaannya. Arini harus merusak User Interface (UI) kesombongan suaminya. Ia harus menanamkan malware tepat di jantung malam kemenangan ini.