PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #30

Bab 30

Pukul 21.45 WIB. Jalanan ibu kota malam itu mengkilap memantulkan cahaya lampu jalan akibat gerimis yang baru saja reda.

Di dalam kabin Honda HR-V putih yang melaju membelah kawasan Senayan, keheningan terasa begitu tebal hingga nyaris memiliki massa jenisnya sendiri. Prasetya Wirawan duduk di balik kemudi, pandangannya terkunci lurus ke arah jalan raya. Kedua tangannya menggenggam setir kulit itu pada posisi pukul sembilan dan tiga, cengkeramannya sedikit lebih erat dari yang diwajibkan oleh standar keselamatan berkendara.

Tepat di tulang kering kaki kirinya, area periosteum—lapisan pelindung tulang yang dipenuhi oleh ribuan ujung saraf tepi—berdenyut liar seirama dengan detak jantungnya. Rasa sakit yang tajam dan panas menyebar dari titik di mana hak stiletto baja Arini menghantamnya di bawah meja makan Hotel Mulia. Prasetya yakin akan ada memar berwarna ungu pekat selebar koin seratus rupiah di sana besok pagi. Sebuah suvenir fisik dari istrinya.

Di kursi penumpang, Arini duduk bersandar sambil menatap layar ponselnya. Kalung safir sewaan itu masih melingkar di lehernya, memancarkan kemewahan yang palsu. Napas wanita itu tenang, profil wajahnya di bawah temaram lampu jalan terlihat sangat cantik, namun tak tertembus layaknya patung marmer dari era Renaissance.

Prasetya menelan ludah. Rasa sakit di kakinya perlahan mulai diabaikan oleh otaknya yang terbiasa memitigasi kerusakan. Alih-alih merasa marah karena disiksa secara fisik di depan umum, Prasetya justru merasakan sebuah emosi aneh yang menyusup ke dalam rongga dadanya.

Kekaguman.

Prasetya adalah seorang Senior Risk Manager. Ia menghabiskan hidupnya untuk memprediksi ancaman, membangun protokol pertahanan, dan menaklukkan lawan bisnisnya dengan regulasi. Malam ini, ia mengira telah mengunci Arini dari segala arah dengan membekukan pajaknya. Ia mengira Arini telah resmi menjadi boneka tawanannya.

Tetapi Sang Jenderal Digital membuktikan bahwa ia bukanlah tawanan siapa-siapa. Tendangan di bawah meja itu adalah sebuah sabotase tingkat tinggi. Cerdas. Presisi. Mematikan. Arini menyerang di satu-satunya zona buta (blind spot) yang dimiliki Prasetya: ego korporatnya. Arini tahu Prasetya tidak akan berani menjerit atau membalas di depan Purnomo. Istrinya itu menggunakan gengsi Prasetya sebagai senjata penikam.

Ini adalah perang asimetris yang brilian, batin Prasetya, menyadari bahwa ia tidak sedang menikahi seorang wanita biasa, melainkan seekor monster rasional yang setara dengan dirinya.

Mobil berhenti di lampu merah persimpangan Sudirman.

Prasetya menoleh sedikit, menatap pantulan wajah Arini di kaca jendela yang gelap. Keheningan ini terlalu melelahkan untuk dipertahankan. Papan catur telah dibersihkan malam ini. Promosi Vice President-nya aman. Amnesti pajak Arini akan ia urus besok. Secara teknis, transaksi mereka berdua sudah selesai.

"Gaun Sisca tadi," Prasetya memecah kesunyian, suaranya rendah, serak, dan sangat tenang. Ia tidak menatap Arini, matanya kembali ke arah lampu lalu lintas. "Warnanya emas mencolok dengan sequin yang dijahit kasar. Itu koleksi diskon akhir tahun dari butik lokal, bukan desainer Eropa seperti yang dia banggakan di grup arisan."

Gerakan jari Arini di atas layar ponselnya terhenti seketika.

Selama dua detik, Prasetya mengira Arini akan mengabaikannya atau menyuruhnya diam. Namun, terdengar suara dengusan pelan dari kursi penumpang. Arini perlahan menoleh.

"Bukan cuma gaunnya, Mas," sahut Arini. Nada suaranya tidak lagi tajam atau pasif-agresif. Suara itu adalah suara pengamat sosiologis yang sinis. "Kamu perhatikan tas Chanel yang dia taruh di atas meja? Jahitan di bagian pegangannya tidak simetris. Kulitnya terlalu mengkilap. Sisca memakai barang 'mirror-quality' KW super. Dia pikir tidak ada yang menyadarinya hanya karena dia istri seorang manajer SCBD."

Lihat selengkapnya