PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #31

Bab 31

Pukul 23.15 WIB. Suasana di dalam kamar utama Blok Mawar sepi dan kedap, seolah dinding-dindingnya dirancang untuk menahan suara napas penghuninya.

Arini Prameswari duduk bersila di tengah lantai walk-in closet berlantai parket kayu ek. Ia telah melepaskan gaun sutra midnight blue-nya, menghapus riasan wajahnya secara total dengan cleansing balm, dan kini hanya mengenakan kaus katun longgar berwarna putih. Kalung safir sewaan dari Prasetya telah ia masukkan kembali ke dalam kotak beludru hitamnya, diletakkan jauh di atas meja rias, menunggu untuk dikembalikan esok hari.

Tawa renyah di dalam kabin mobil Honda HR-V satu jam yang lalu masih menyisakan residu ganjil di benak Arini. Tawa itu adalah sebuah anomali. Sebuah bug berbahaya yang nyaris menyusup ke dalam firewall pertahanan emosionalnya. Berbagi momen sinis dengan Prasetya memang selalu memabukkan—mereka berdua adalah pemuja keangkuhan intelektual—tetapi Arini tidak boleh membiarkan kelengahan sekecil apa pun membahayakan proses likuidasi ini.

Rabu depan, putusan cerai itu harus ditandatangani. Kontrak enam ratus juta dari agensi Clara tidak bisa menunggu.

Untuk mensterilkan otaknya dari sisa-sisa kehangatan palsu tadi, Arini memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sangat mekanis: Audit Memori.

Di sekelilingnya, terdapat tiga buah kontainer plastik besar transparan. Masing-masing kontainer telah ia tempeli label dengan printer Dymo. Kontainer pertama: Aset Liquid (Untuk Dijual). Kontainer kedua: Properti Pribadi (Untuk Dibawa Pindah). Kontainer ketiga: Depresiasi Nol (Untuk Dibuang).

Arini menarik sebuah kotak besar dari rak paling atas lemarinya. Kotak itu dilapisi bahan linen putih yang sudah mulai menguning di bagian ujungnya. Ia membuka tutup kotak tersebut. Di dalamnya, tergeletak sebuah album foto pernikahan berukuran raksasa dengan sampul kulit asli seberat tiga kilogram.

Ia membuka halaman pertama. Foto Prasetya dan dirinya berdiri di pelaminan dengan latar belakang dekorasi bunga impor yang menghabiskan dana ratusan juta. Di foto itu, mereka tersenyum sempurna.

Otak Arini langsung bekerja, mengkonversi gambar itu menjadi angka-angka spreadsheet.

Biaya vendor fotografi dan videografi saat itu: lima puluh lima juta rupiah. Hasil yang didapat: empat ribu delapan ratus likes di Instagram, liputan di majalah pernikahan bergengsi, dan validasi absolut dari keluarga besar Prasetya. Arini menutup album itu dengan bunyi gedebuk yang tertahan. Pernikahan itu adalah kampanye Public Relations (PR) pertamanya yang paling sukses. Secara Return on Investment (ROI), pesta itu sudah balik modal sejak tahun ketiga mereka menikah melalui koneksi dan endorsement yang mengalir. Album ini tidak lagi memiliki nilai guna. Membawanya ke apartemen baru hanya akan memakan ruang (space) penyimpanannya yang berharga.

Arini mengangkat album seberat tiga kilogram itu dan memasukkannya ke dalam kontainer berlabel Depresiasi Nol. Tempat sampah sejarah.

Ia kemudian beralih ke tumpukan kotak berwarna oranye terang yang sangat familiar: Hermès.

Selama delapan tahun pernikahan, Prasetya bukanlah pria yang romantis. Suaminya itu tidak pernah menulis puisi, tidak pernah memberi kejutan bunga di hari kerja, dan tidak pernah memeluknya tanpa alasan. Namun, setiap kali Prasetya merasa bersalah—atau lebih tepatnya, setiap kali Prasetya baru saja mengambil keputusan sepihak yang merugikan otoritas Arini—pria itu akan menebusnya dengan menyodorkan kotak oranye.

Arini membuka kotak pertama. Sebuah tas Hermès Kelly ukuran 25 berwarna Étoupe dengan perangkat keras keemasan. Ini adalah "kompensasi" Prasetya empat tahun lalu ketika pria itu memaksa Reno masuk ke sekolah internasional pilihannya tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan Arini.

Jari Arini mengusap permukaan kulit Epsom yang bertekstur itu. Tas ini dibeli dengan harga mendekati tiga ratus juta rupiah.

Lihat selengkapnya