PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #32

Bab 32

Pukul 07.00 WIB. Hari Minggu.

Cahaya matahari pagi menembus kisi-kisi jendela Blok Mawar, menciptakan garis-garis siluet yang geometris di atas lantai kayu. Arini Prameswari menuruni anak tangga dengan langkah ringan. Ia mengenakan robe sutra berwarna emerald, rambutnya digelung rapi dengan jepit badai. Wajahnya terlihat segar, hasil dari tidur delapan jam tanpa mimpi yang terputus.

Audit memori tadi malam bekerja layaknya proses defragmentation pada hard drive yang penuh. Membuang barang-barang sentimental yang tak lagi bernilai guna membuat kapasitas emosional Arini kembali lega.

Pagi ini, agendanya sangat jelas dan efisien: turun ke dapur, menyeduh matcha latte, lalu menagih dua dokumen paling krusial dari Prasetya—draf amnesti pajak dan surat pelepasan hak milik Honda HR-V. Setelah itu, ia bisa duduk manis menunggu hari Rabu tiba untuk meresmikan status jandanya dan mengamankan kontrak enam ratus juta dari agensi Clara.

Namun, langkah Arini terhenti secara mendadak di anak tangga terakhir.

Di ujung lorong, tepat di depan pintu utama yang mengarah ke luar, kantong plastik sampah hitam berkapasitas seratus liter yang ia siapkan tadi malam masih teronggok diam. Posisinya sedikit miring, menghalangi sebagian akses jalan layaknya sebuah monumen penolakan.

Mata Arini menyipit.

Sesuai dengan Service Level Agreement (SLA) domestik yang telah mereka sepakati sejak awal pernikahan dan dipertegas kembali pada masa sengketa ini, Prasetya bertanggung jawab atas manajemen limbah. Membuang sampah ke tempat penampungan depan sebelum pukul enam pagi adalah kewajiban absolut pria itu.

Arini berjalan melewati lorong, mengabaikan kantong sampah itu, dan berbelok menuju dapur.

Di sana, Prasetya Wirawan sedang duduk di kursi island marmer. Pria itu mengenakan kaus polo hitam dan celana jogger, rambutnya sedikit basah sehabis mandi. Di depannya terdapat secangkir kopi hitam yang masih mengepul dan iPad miliknya yang sedang menampilkan grafik indeks saham. Prasetya tampak sangat rileks, aura arogansinya kembali utuh seolah tendangan stiletto Arini di bawah meja tadi malam tidak pernah terjadi.

"Pagi, Mas," sapa Arini dengan nada datar. Ia berjalan menuju kabinet, mengambil bubuk matcha. "Aku lihat ada bug (kesalahan sistem) di lorong depan. Kantong sampahku belum dibuang."

Prasetya tidak mengalihkan pandangannya dari layar iPad. Ia menyesap kopinya dengan pelan, lalu membalik halaman digital sahamnya.

"Itu bukan bug, Arini. Itu adalah penolakan otorisasi," jawab Prasetya dengan suara rendah dan tenang.

Arini menghentikan gerakannya mengaduk matcha. Ia menoleh, menatap punggung suaminya. "Penolakan otorisasi? Tolong jelaskan menggunakan bahasa manusia biasa, Mas."

Prasetya akhirnya meletakkan cangkirnya. Ia memutar kursinya secara perlahan hingga berhadapan langsung dengan Arini. Wajahnya sedatar beton, namun ada kilat provokasi yang sangat tajam di kedalaman mata hitamnya.

"SOP pembagian tugas domestik kita, Pasal 4 ayat 2, menyebutkan secara eksplisit bahwa saya bertanggung jawab atas 'limbah operasional rumah tangga harian'," Prasetya melipat kedua tangannya di depan dada, mengutip aturan fiktif yang mereka buat sendiri. "Limbah dapur, plastik kemasan, atau kardus paket. Itu adalah limbah operasional."

Prasetya mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Namun tadi pagi, saat saya hendak mengangkat kantong plastik hitam raksasa itu, plastiknya sedikit robek di bagian ujung. Dan tahukah kamu apa yang saya lihat di dalamnya, Arini?"

Lihat selengkapnya