PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #34

BAB 34

Pukul 08.15 WIB. Hari Minggu.

Lima belas menit setelah ia mengunci diri di dalam studionya, Arini Prameswari menuruni anak tangga Blok Mawar dengan langkah yang terukur dan berwibawa. Ia sengaja membiarkan wajahnya bebas dari riasan, namun matanya memancarkan aura dominasi yang sangat kelam dan mengintimidasi. Jubah satin emerald-nya berkibar ringan di setiap langkahnya.

Di tangannya, iPad Pro yang ia yakini sebagai penjara bagi draft video "senjata nuklir"-nya tergenggam erat.

Arini merasa seperti seorang negosiator ulung yang baru saja mendapatkan kode peluncuran rudal dari markas musuh. Rasa panas, terhina, dan emosi tak terkendali yang sempat meledak akibat insiden "kantong sampah hitam" satu jam yang lalu telah menguap bersih, digantikan oleh kedinginan yang amat sangat kalkulatif.

Ia tidak akan pernah membuang sampah itu. Ia tidak akan sudi tunduk pada patriarki murahan seorang Prasetya Wirawan. Rencananya sudah solid: Ia akan menyodorkan layar iPad-nya ke wajah pria itu, menunjukkan video pengakuan skandal Kripto 50 juta dan rincian KDRT psikis soal biaya argon gas kulkas. Ia akan membiarkan Prasetya melihat betapa meyakinkannya tangisan Arini di video tersebut, lalu memaksa Sang Dewa Logika untuk menandatangani surat amnesti pajak dan pelepasan BPKB HR-V saat itu juga.

Ini adalah Skakmat terakhir, batin Arini, ujung bibirnya membentuk senyum tipis yang mematikan.

Arini menemukan Prasetya di ruang tengah. Pria itu sudah berganti pakaian dengan kemeja kasual berwarna biru muda yang rapi, sedang duduk bersilang kaki di sofa kulit mahal sambil membaca seberkas dokumen cetak dari kantornya. Secangkir kopi baru yang masih mengepul terletak di atas meja kaca di depannya. Prasetya tampak begitu damai, begitu stabil, seolah ia benar-benar yakin telah mengunci Arini di sudut ring yang tak memiliki jalan keluar.

"Mas Prasetya," panggil Arini. Suaranya membelah keheningan ruang tengah dengan ketajaman silet bedah.

Prasetya tidak mengangkat wajahnya dari dokumen. Ia hanya membalik halaman kertasnya dengan gerakan yang pelan dan teratur.

"Kalau kamu belum membuang kantong sampah di lorong itu ke tempat pembuangan depan gerbang, kita tidak punya bahan untuk didiskusikan, Arini. Saya sarankan kamu segera melakukannya sebelum truk sampah kompleks lewat," jawab Prasetya tanpa menoleh, suaranya datar seperti mesin anjungan tunai.

Arini berjalan perlahan memutari meja kopi, lalu berdiri tepat menghalangi cahaya lampu berdiri yang menyorot dokumen Prasetya, menjatuhkan bayangan gelap di atas wajah suaminya.

"Aku rasa kamu harus mengevaluasi ulang posisi tawarmu, Mas," Arini menyilangkan tangannya di depan dada, senyum sinisnya mengembang. "Kamu pikir menahan amnesti pajak dan menyandera BPKB mobil itu adalah langkah brilian? Kamu pikir kamu bisa menggunakan birokrasi negara untuk menyuruhku menjadi kuli angkut sampah di rumahku sendiri?"

Prasetya akhirnya mendongak. Ia melepaskan kacamata bacanya dengan gerakan lambat dan meletakkannya di atas meja. Matanya menatap lurus ke arah Arini dengan kedinginan yang sama.

"Itu bukan menyuruh, Arini. Itu adalah transaksi proporsional," Prasetya membalas dengan artikulasi yang sangat bersih. "Itu adalah kompensasi tenaga atas jasaku menyusun ulang pembukuan agensimu dan membersihkan nama kotormu dari daftar hitam Satgas Direktorat Jenderal Pajak. Kamu butuh jasaku, kamu bayar harganya. Sesederhana itu."

"Simpan omong kosong birokrasimu, Prasetya," desis Arini, ia tidak lagi menggunakan panggilan 'Mas'. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mengambil iPad Pro-nya dan meletakkannya di atas meja kaca dengan bunyi brak yang tertahan.

"Kamu tahu apa bedanya kita berdua?" Arini menatap lurus ke dalam pupil mata Prasetya. "Kamu menghitung kerugian dalam bentuk angka, tabel Excel, dan mutasi saldo. Sementara aku... aku menghitung kerugian dalam bentuk reputasi dan opini publik."

Arini mengetuk layar iPad-nya yang masih gelap dengan telunjuknya.

"Di dalam perangkat ini," Arini memulai deklarasi kemenangannya, suaranya bergetar oleh euforia kekuasaan yang tak terbendung, "aku sudah merekam sebuah mahakarya. Sebuah video pengakuan berdurasi tiga menit yang menceritakan secara detail—lengkap dengan air mata dan isak tangis yang sangat meyakinkan—tentang bagaimana seorang Senior Risk Manager di firma SCBD ternyata menggelapkan uang asuransi pendidikan anak kandungnya sendiri di meja judi Kripto."

Mata Prasetya tidak berkedip, namun Arini bisa melihat otot di rahang pria itu menegang sepersekian milimeter.

Arini terus menekan pisaunya lebih dalam. "Aku juga menceritakan kepada audiensku bagaimana kamu menyiksaku secara mental. Menghitung harga argon gas di kulkas, menghitung penyusutan mesin cuci, dan menjadikanku sandera finansial. Video itu sangat emosional. Sangat menyentuh. Algoritma akan memujanya."

Prasetya bersandar ke sofanya. "Kamu menggertak. Kamu tidak akan berani mempublikasikannya karena itu akan menghancurkan brand safety (keamanan citra merek) kontrak enam ratus jutamu. Agensimu akan memecatmu jika kamu menjadi figur problematik."

"Kamu sangat pintar, Prasetya," puji Arini, tawanya meluncur pelan. "Itu benar. Karena itulah aku belum mengunggahnya. Video mematikan ini masih tersimpan aman di folder Draft TikTok-ku."

Arini menarik napas panjang, menikmati wajah suaminya yang masih mencoba mempertahankan topeng logikanya meski Arini tahu, di dalam kepala pria itu alarm peringatan sedang meraung-raung.

"Sekarang, mari kita bahas negosiasi baruku," Arini menurunkan nada suaranya menjadi bisikan ancaman yang mematikan. "Kamu tanda tangani draf amnesti pajak itu sekarang juga, tanpa syarat. Kamu serahkan surat pelepasan HR-V itu padaku. Kalau kamu menolak, atau kalau kamu berani macam-macam di sidang mediasi hari Rabu besok... aku akan menekan tombol Post."

Arini mengangkat tangannya, mensimulasikan gerakan menekan tombol.

"Satu ketukan, Prasetya. Video itu akan viral dalam hitungan menit. Reputasimu akan tamat. Bos Purnomo Wijaya yang sangat konservatif itu akan muntah melihat wajahmu di layar ponselnya, dan kamu tidak akan pernah mencicipi kursi Vice President itu seumur hidupmu."

Keheningan yang memekakkan telinga merajai ruang tengah Blok Mawar. Prasetya menatap Arini dengan sorot mata yang tak terbaca, mencoba mencari kelemahan dalam postur istrinya, mencari celah dalam gertakan tersebut.

Arini membalas tatapan itu dengan senyum lebar. Ia merasa telah menang telak. Ia berhasil memaksa Prasetya masuk ke dalam arena Mutually Assured Destruction versinya sendiri, namun kali ini Arini yang secara absolut memegang kendali detonatornya.

Prasetya membuka mulutnya perlahan, bersiap untuk memberikan balasan logisnya, mencoba membedah probabilitas keberanian Arini menekan tombol tersebut.

Lihat selengkapnya