PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #36

Bab 36

Pukul 08.15 WIB. Hari Minggu.

Langkah kaki Arini Prameswari menuruni anak tangga kayu Blok Mawar terdengar ritmis dan terukur. Sentuhan kain jubah satin emerald-nya yang menyapu betis memberikan sensasi kemewahan yang menenangkan. Ia baru saja keluar dari studionya setelah meluapkan seluruh emosi, tangisan, dan skenario kehancuran Prasetya ke dalam sebuah rekaman video berdurasi tiga menit.

Di tangannya, iPad Pro yang ia yakini sebagai brankas penyimpan draf video "senjata nuklir" tersebut tergenggam erat.

Arini merasa seperti seorang panglima perang yang baru saja memenangkan pertempuran sebelum pedang sempat ditarik. Rasa terhina akibat insiden kantong sampah hitam tadi pagi telah sepenuhnya menguap. Digantikan oleh euforia kekuasaan yang absolut. Ia tidak perlu membuang sampah itu. Ia tidak perlu tunduk pada arogansi Prasetya.

Rencananya sudah mengkristal di dalam kepalanya: Ia akan melangkah ke ruang tengah, menyodorkan layar iPad ini ke wajah suaminya, dan memutar draf video itu. Ia akan membiarkan Prasetya melihat betapa meyakinkannya tangisan Arini, betapa menjijikkannya aib Kripto lima puluh juta itu jika dibingkai dengan narasi KDRT psikis. Setelah Dewa Logika itu memucat ketakutan, Arini akan memberikan ultimatum pamungkasnya: Tanda tangani surat amnesti pajak dan serahkan hak milik mobil HR-V detik ini juga, atau video ini akan tayang di internet.

Itu adalah strategi pemerasan yang elegan, bersih, dan tanpa celah.

Arini menemukan Prasetya di ruang tengah. Suaminya itu sudah berganti pakaian dengan kemeja kasual yang rapi, duduk menyilangkan kaki di sofa kulit mahal sambil membaca seberkas dokumen kerja. Secangkir kopi mengepul di atas meja kaca. Prasetya tampak begitu damai, begitu stabil, seolah ia adalah raja di kastil ini.

"Mas Prasetya," panggil Arini. Suaranya membelah keheningan ruang tengah dengan ketajaman silet.

Prasetya tidak mengangkat wajahnya dari dokumen. "Kalau kamu belum membuang kantong sampah di lorong itu, kita tidak punya bahan diskusi, Arini."

Arini berjalan memutari meja kopi, berdiri tepat menghalangi cahaya lampu yang menyorot dokumen Prasetya. Ia meletakkan iPad Pro-nya di atas meja kaca dengan bunyi brak yang tertahan, sebuah deklarasi invasi teritorial.

"Aku rasa kamu harus mengevaluasi ulang posisi tawarmu, Mas," Arini melipat tangannya di dada. Senyum kemenangan—senyum Umbridge yang paling sempurna—terukir di bibirnya. "Kamu pikir menyandera BPKB mobil dan amnesti pajak adalah langkah Skakmat? Di dalam perangkat ini, Mas, aku sudah merekam sebuah mahakarya."

Prasetya akhirnya mendongak, melepaskan kacamata bacanya perlahan.

"Sebuah video pengakuan," lanjut Arini, menikmati setiap detik perhatian suaminya. "Detail tentang Senior Risk Manager di SCBD yang menggelapkan uang asuransi pendidikan anak kandungnya di meja judi Kripto. Detail tentang tagihan argon gas kulkas sebesar lima belas ribu rupiah. Video itu sangat emosional, Mas. Sangat menyentuh. Algoritma akan memujanya."

Mata Prasetya tidak berkedip, namun Arini bisa melihat otot rahang pria itu menegang keras.

"Tentu saja, aku belum mengunggahnya. Video mematikan itu masih aman di folder Draft TikTok-ku," Arini mencondongkan tubuhnya ke depan, menurunkan nada suaranya menjadi bisikan mematikan. "Sekarang, tanda tangani persyaratanku. Kalau kamu menolak, aku akan menekan tombol Post. Video itu akan viral, dan Purnomo Wijaya akan muntah melihat wajahmu. Tidak akan ada promosi Vice President."

Arini menarik napas panjang. Paru-parunya dipenuhi udara kemenangan. Ia menunggu Prasetya membuka mulut, menunggu pria itu menyerah dan memohon.

Namun, sebelum satu suku kata pun keluar dari mulut sang Dewa Logika, sebuah rentetan suara mekanis dari dalam saku jubah satin Arini memecah ketegangan absolut itu.

Bzzzt. Bzzzt. Bzzzt.

Ponsel pribadi Arini bergetar. Bukan getaran pendek pesan WhatsApp biasa, melainkan getaran panjang dan beruntun yang brutal.

Bzzzt. Ting. Ting. Ting. Bzzzt.

Lihat selengkapnya