PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #37

Bab 37

Pukul 08.20 WIB. Hari Minggu.

Dalam teori manajemen risiko tingkat lanjut, ada sebuah istilah yang disebut Cascading Failure (Kegagalan Beruntun). Ini adalah sebuah fenomena di mana kegagalan satu komponen kecil dalam sebuah sistem yang kompleks memicu matinya komponen-komponen lain secara berantai, hingga akhirnya menyebabkan kelumpuhan total (total collapse).

Prasetya Wirawan sedang menyaksikan fenomena itu terjadi secara real-time di ruang tengah rumahnya sendiri.

Suara teriakan Clara dari speaker ponsel Arini—yang memaki tentang dua juta views, algoritma yang mengamuk, dan doxing netizen—masih berdengung di telinga Prasetya layaknya tinnitus yang menyakitkan. Ponsel iPhone Pro Max milik istrinya tergeletak di atas meja kaca, layarnya mati setelah sambungan diputus sepihak oleh sang direktur agensi.

Di seberang meja, Arini berdiri mematung. Wajah perempuan yang biasanya memancarkan arogansi tak tertembus itu kini sepucat mayat. Mulutnya sedikit terbuka, napasnya tersengal, dan matanya melebar memancarkan kengerian murni. Arini tampak seolah baru saja disiram dengan cairan nitrogen cair; beku, rapuh, dan siap hancur berkeping-keping.

Otak analitis Prasetya bekerja dengan kecepatan superkomputer yang sedang mengalami overheating (kepanasan).

Video itu tidak ada di draf. Video itu sudah tayang. Dua juta penonton dalam kurang dari satu jam.

Prasetya mencoba menelan ludah, namun tenggorokannya terasa seperti diisi oleh pasir kering. Ia tahu persis apa isi video tersebut karena Arini baru saja mendeskripsikannya dengan penuh kebanggaan lima menit yang lalu. Sebuah video pengakuan penuh air mata yang membongkar aib terbesarnya: judi Kripto lima puluh juta menggunakan uang asuransi anak, dan perhitungan matematis tagihan listrik kulkas yang dibingkai sebagai KDRT psikis.

Bagi seorang suami biasa, viralnya video semacam itu mungkin hanya akan menghasilkan rasa malu di depan tetangga atau keluarga. Namun bagi seorang Senior Risk Manager di sebuah firma konsultan finansial top tier di SCBD, video itu adalah surat hukuman mati.

Firma tempat Prasetya bekerja tidak menjual barang; mereka menjual Kepercayaan dan Stabilitas. Klien menyetorkan dana ratusan miliar karena mereka percaya para manajer di firma tersebut memiliki integritas dan kemampuan mitigasi risiko yang absolut.

Tiba-tiba, keheningan di ruang tengah itu dirobek oleh suara mekanis yang berasal dari atas tumpukan dokumen kerja Prasetya.

Bzzzt. Bzzzt. Bzzzt.

Ponsel pintar milik Prasetya menyala dan bergetar hebat. Bukan hanya satu getaran. Ponsel itu bergetar secara konstan, terus-menerus, hingga bergeser beberapa sentimeter di atas kertas dokumen akibat intensitas motor getarnya.

Prasetya menatap ponsel itu layaknya menatap sebuah granat aktif yang pinnya sudah dicabut.

Dengan tangan yang mendadak terasa sedingin es, Prasetya meraih perangkat tersebut. Layar kuncinya dipenuhi oleh air terjun notifikasi.

14 Missed Calls dari Dimas (Staff). 8 Missed Calls dari nomor tak dikenal. WhatsApp: +150 pesan baru di Grup "Senior Managers SCBD". WhatsApp: 12 pesan dari Hendra.

Prasetya membuka pesan dari Dimas, anak buah kepercayaannya, yang dikirimkan dengan huruf kapital penuh kepanikan.

Dimas: PAK! Bapak di mana? Tolong angkat Pak! Dimas: Pak, nama Bapak trending nomor satu di X (Twitter). Ada akun-akun anonim yang sudah spill nama firma kita dan nge-tag akun resmi kantor! Dimas: Orang-orang HRD di grup internal sudah panik Pak. Tolong segera buat klarifikasi atau kunci akun LinkedIn Bapak sekarang juga!

Dada Prasetya terasa seperti dihimpit oleh beton seberat dua ton. LinkedIn. Jaringan profesionalnya. Etalase dari delapan tahun kerja keras, lembur tanpa henti, dan penjilatan sistematis kepada para atasan. Kini, etalase itu sedang dilempari kotoran oleh jutaan orang tak dikenal yang diprovokasi oleh tangisan palsu istrinya.

Belum sempat Prasetya memproses pesan Dimas, layar ponselnya kembali berubah. Sebuah panggilan masuk mengambil alih seluruh layar.

Nama yang tertera di sana membuat darah di pembuluh nadi Prasetya berhenti mengalir: Hendra (VP Candidate).

Lihat selengkapnya