PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #38

Bab 38

Pukul 07.45 WIB. Hari Senin.

Lobi gedung perkantoran Grade A di kawasan SCBD itu selalu memiliki ritme yang sama setiap Senin pagi: derap langkah sepatu kulit Italia, aroma kopi espreso yang mahal, dan denting kartu akses yang menyentuh palang pintu putar otomatis. Bagi Prasetya Wirawan, tempat ini adalah altar pemujaannya. Selama delapan tahun, ia selalu berjalan melewati lobi ini dengan postur seorang penakluk. Ia adalah Senior Risk Manager. Orang-orang menunduk saat berpapasan dengannya. Resepsionis tersenyum dan menyapanya dengan hormat.

Namun pagi ini, udara di dalam lobi terasa mengubah wujudnya menjadi gel padat yang mencekik paru-paru.

Prasetya melangkah masuk dengan setelan jas navy bespoke yang disetrika tanpa cacat. Rambutnya tersisir rapi, klimis sempurna. Tidak ada tanda-tanda bahwa pria ini baru saja melewati akhir pekan yang terasa seperti kiamat domestik. Fasad fisiknya adalah benteng terakhir yang ia miliki.

Tetapi Fasad Beton itu tidak bisa menutupi radiasi dari ledakan digital kemarin.

Saat Prasetya menempelkan kartu aksesnya di turnstile (pintu putar), ia bisa merasakan tatapan mata dari para staf junior yang sedang mengantre kopi di Starbucks lobi. Tatapan itu bukan lagi tatapan segan. Itu adalah tatapan rasa ingin tahu yang sangat menjijikkan, tatapan mengasihani yang bercampur dengan cemoohan. Dua orang staf HRD yang berdiri di dekat lift seketika berhenti berbicara dan memalingkan wajah saat Prasetya mendekat.

Video tangisan Arini yang meraup jutaan views itu telah melakukan tugasnya dengan sangat efisien. Di mata semua orang di gedung ini, Prasetya bukan lagi Dewa Logika yang ditakuti. Ia telah tereduksi menjadi karikatur pria patriarki yang menghitung biaya argon gas kulkas, dan badut finansial yang kehilangan lima puluh juta rupiah di pasar judi Kripto.

Prasetya masuk ke dalam lift eksekutif. Pintu baja itu tertutup, mengisolasinya dari dunia luar. Ia menatap pantulan wajahnya di pintu lift yang mengkilap. Matanya merah dan cekung karena tidak tidur sedetik pun tadi malam, namun otot rahangnya tetap mengeras kaku. Ia sedang bersiap menghadapi eksekusi terakhirnya.

Lift berdenting di lantai 32. Lantai jajaran direksi.

Prasetya melangkah keluar menyusuri koridor berkarpet tebal yang meredam suara langkah kakinya. Di ujung koridor, pintu ganda kayu mahoni ruang direktur utama berdiri kokoh. Di depannya, duduk sekretaris Purnomo Wijaya yang langsung berdiri dengan wajah tegang saat melihat Prasetya mendekat.

"Pagi, Siska. Pak Purnomo sudah di dalam?" tanya Prasetya datar.

"Pagi, Pak Prasetya. Bapak sudah ditunggu," jawab sekretaris itu, bahkan tidak berani menatap langsung ke mata Prasetya. Ia menekan tombol interkom. "Pak Pur, Pak Prasetya sudah tiba."

Pintu kayu itu terbuka secara otomatis dengan bunyi klik pelan. Prasetya melangkah masuk ke dalam ruangan yang sangat luas, dihiasi oleh furnitur kayu klasik dan pemandangan cakrawala Jakarta yang sedikit tertutup asbut pagi.

Purnomo Wijaya tidak duduk di balik meja kebesarannya. Pria paruh baya itu berdiri menghadap jendela kaca raksasa, kedua tangannya bertaut di belakang punggung. Di atas meja kerja Purnomo, tidak ada tumpukan dokumen audit seperti biasanya. Hanya ada sebuah iPad yang layarnya menyala, dan sebuah map biru tua berlogo firma.

"Selamat pagi, Pak Purnomo," sapa Prasetya. Suaranya diatur pada frekuensi bariton yang stabil. Damage control (pengendalian kerusakan) dimulai sekarang.

Purnomo tidak langsung berbalik. Ruangan itu hening selama sepuluh detik yang terasa sangat menyiksa. Saat Purnomo akhirnya berputar, wajah bos besar itu tidak menunjukkan kemarahan yang meledak-ledak. Wajah itu memancarkan kekecewaan absolut—sebuah ekspresi yang bagi Prasetya jauh lebih mematikan daripada amarah.

"Duduk, Pras," perintah Purnomo singkat.

Prasetya duduk di kursi tamu berlapis kulit di seberang meja. Posturnya tetap lurus.

Purnomo berjalan mendekati meja, mengambil iPad-nya, lalu memutarnya hingga layar itu menghadap langsung ke arah Prasetya. Di layar tersebut, terpampang video TikTok Arini yang sedang di- pause tepat pada momen saat wajah Arini berurai air mata. Di bawah video itu, angka analitik yang terpampang sangat mengerikan: 3,4 juta tayangan. Seratus dua puluh ribu komentar. Tiga puluh ribu kali dibagikan.

"Istri saya tidak bisa tidur semalaman," suara Purnomo membelah kesunyian, berat dan lambat. "Dia tergabung dalam tiga grup arisan sosialita tingkat tinggi di Jakarta Selatan. Sejak Minggu siang kemarin, ponselnya tidak berhenti berbunyi. Semua teman-temannya mengirimkan tautan video ini. Mereka bertanya, 'Jeng, ini Arini yang suaminya kerja di firma Pak Pur, kan? Yang kemarin baru makan malam ulang tahun di Hotel Mulia?'"

Prasetya menelan ludah. Kerongkongannya terasa seperti dilapisi amplas.

Lihat selengkapnya