PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #39

Bab 39

Pukul 09.30 WIB. Hari Senin.

Basement B3 gedung perkantoran SCBD itu memiliki udara yang selalu berbau seperti campuran antara karbon monoksida, karet ban yang bergesekan dengan beton, dan debu pendingin ruangan. Bagi kebanyakan orang, itu adalah udara yang menyesakkan. Namun pagi ini, bagi Prasetya Wirawan, udara kotor di basement itu adalah oksigen pertama yang benar-benar ia hirup setelah delapan tahun lamanya ia bernapas menggunakan paru-paru buatan bernama ekspektasi korporat.

Langkah kaki Prasetya tidak lagi memancarkan ritme seorang eksekutif yang sedang terburu-buru mengejar target rapat. Langkahnya kini lambat, pelan, dan tanpa beban. Sepatu pantofel kulitnya mengetuk lantai beton dengan bunyi bergema yang kosong.

Ia berhenti di depan Honda HR-V putihnya. Mobil itu, yang kepemilikannya mati-matian ia jadikan alat negosiasi untuk menekan Arini minggu lalu, kini terlihat seperti seonggok rongsokan besi. Tidak ada lagi nilainya. Nilai adalah sesuatu yang diberikan oleh sistem kepada sebuah objek. Dan saat ini, sistem operasi di dalam kepala Prasetya telah runtuh sepenuhnya.

Prasetya membuka pintu kemudi dan masuk ke dalam kabin. Ia menekan tombol Start/Stop Engine. Mesin menderu halus. Lampu dashboard menyala, memendarkan cahaya putih kebiruan yang menyorot wajahnya yang sedatar kanvas kosong. Matanya menatap lurus menembus kaca depan, ke arah dinding beton abu-abu yang dipenuhi pipa-pipa air.

Dalam dunia komputasi, ketika sebuah server mengalami serangan malware yang sangat masif hingga merusak inti sistem (kernel panic), server tersebut akan melakukan shutdown paksa untuk mencegah kerusakan hardware yang lebih parah. Ketika dinyalakan kembali, ia akan masuk ke dalam Safe Mode. Semua program tambahan dimatikan. Semua interface yang cantik dihilangkan. Yang tersisa hanyalah kode biner dasar untuk satu fungsi: bertahan hidup atau melakukan Factory Reset (kembali ke pengaturan pabrik).

Prasetya sedang berada dalam fase Factory Reset itu.

Topeng "Dewa Logika"-nya telah robek oleh mesin penghancur kertas Purnomo. Identitasnya sebagai "Suami Eksekutif Sukses" telah dihabisi oleh video tangisan Arini yang ditonton jutaan kali oleh netizen. Ia tidak memiliki apa-apa lagi untuk dilindungi. Fasadnya telah hancur rata dengan tanah.

Dan secara mengejutkan, ketiadaan fasad itu memberikan Prasetya sebuah sensasi yang sangat asing, namun luar biasa memabukkan: Kemerdekaan Absolut.

Prasetya menggeser tuas transmisi ke posisi 'D' dan menginjak pedal gas. HR-V itu bergerak keluar dari basement, merayap naik menyongsong cahaya matahari pagi Jakarta yang menyilaukan.

Di Jalan Sudirman, kemacetan belum sepenuhnya terurai. Prasetya berada di jalur tengah, dikelilingi oleh ribuan kendaraan lain. Ia menoleh ke arah mobil di sebelahnya—sebuah Toyota Alphard hitam. Di balik kaca jendelanya yang tidak terlalu gelap, Prasetya bisa melihat seorang pria berdasi sedang menelepon dengan wajah tegang, sesekali memijat pelipisnya.

Seminggu yang lalu, Prasetya adalah pria itu. Terjebak dalam matriks, mati-matian menjaga agar saldo bank tidak defisit, menjaga agar reputasi di mata bos tetap sempurna, menjaga agar sang istri tidak memberontak. Prasetya hidup dalam penjara metrik dan Key Performance Indicators (KPI).

Betapa bodohnya aku selama ini, batin Prasetya.

Ia pikir ia bisa mengukur dan mengendalikan seorang manusia (Arini) menggunakan tabel Excel. Ia lupa bahwa manusia pada dasarnya adalah virus yang berevolusi. Arini tidak hanya berevolusi untuk melawan Excel-nya; Arini bermutasi menjadi monster digital yang meledakkan seluruh motherboard kehidupannya.

Ponsel Prasetya yang tergeletak di konsol tengah tiba-tiba bergetar, memecah keheningan kabin. Ia melirik layar yang menyala.

Lihat selengkapnya