PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #40

Bab 40

Pukul 10.15 WIB. Hari Senin.

Ruang tengah Blok Mawar terasa seperti sebuah ruang direksi sesaat setelah keputusan pailit diumumkan. Di atas lantai parket kayu, serpihan kaca dari layar iPad Pro seharga dua puluh juta rupiah berserakan, memantulkan cahaya matahari pagi yang menembus jendela raksasa.

Arini Prameswari duduk di sofa tunggalnya. Kakinya yang disilangkan memancarkan keanggunan yang tidak pada tempatnya. Napasnya sudah kembali teratur. Syok akibat telepon dari Clara, sang direktur agensi yang membatalkan kontrak enam ratus jutanya, hanya bertahan selama lima belas menit.

Bagi perempuan biasa, kehilangan kontrak ratusan juta dan didepak dari agensi elit adalah akhir dari dunia. Mereka akan menangis meraung-raung, meratapi nasib, dan mengemis belas kasihan. Tetapi Arini bukanlah perempuan biasa. Ia adalah seorang Digital Strategist. Otak ENTJ-nya adalah mesin yang dilatih untuk mencari celah dalam setiap krisis. Dalam terminologi perusahaan rintisan (startup), ketika produk utamamu gagal di pasar, kau tidak menutup perusahaan; kau melakukan Pivot (putar arah).

Brand "Janda Tangguh nan Elegan" memang telah mati, terbakar oleh tangisan histerisnya sendiri di video yang kini viral. Klien kosmetik premium menolaknya.

Namun, saat Arini membuka aplikasi TikTok dan Instagram di layar iPhone-nya, ia melihat sebuah pasar baru yang jauh lebih masif sedang terbuka lebar. Videonya telah menembus angka tiga juta views. Pengikutnya bertambah tujuh puluh ribu orang dalam dua jam. Kolom komentarnya berubah menjadi echo chamber (ruang gema) raksasa tempat jutaan perempuan melampiaskan amarah patriarki mereka.

Tiba-tiba, sebuah Direct Message (DM) masuk dari akun terverifikasi milik sebuah podcast selebriti terbesar di Indonesia—podcast yang terkenal sering mengundang korban perselingkuhan dan KDRT. “Mbak Arini, kami turut prihatin atas apa yang menimpa Mbak. Kalau Mbak berkenan, tim kami ingin mengundang Mbak untuk exclusive interview besok. Kami siap memberikan compensation fee sebesar Rp150 juta untuk hak tayang eksklusif kisah Mbak.”

Satu pesan lain masuk. Kali ini dari Brand Manager sebuah produk kecantikan lokal yang sedang naik daun melalui strategi hard-selling di TikTok. “Kak Arini, kami support Kakak 100%! Kami ingin menawarkan kontrak brand ambassador 'Women Empowerment' selama 6 bulan. Fee bisa kita diskusikan di angka 400 juta.”

Arini tersenyum. Senyum Umbridge-nya kembali merekah, kali ini jauh lebih mematikan.

Ia tidak jatuh miskin. Ia tidak hancur. Ia baru saja menemukan bahwa air mata dan status sebagai 'Korban Suami Manipulatif' adalah komoditas dengan Return on Investment (ROI) yang jauh lebih tinggi daripada menjadi istri pejabat SCBD. Algoritma tidak menghancurkannya; algoritma membebaskannya. Ia memonetisasi tangisannya sendiri. Feminisasi toksik telah memberinya mahkota yang baru.

Terdengar suara deru mesin mobil di pekarangan. Pintu utama rumah terbuka dengan bunyi klik mekanis yang sangat tenang.

Prasetya Wirawan melangkah masuk.

Arini bersiap melihat suaminya dalam wujud pria yang hancur. Ia mengira Prasetya akan masuk dengan jas kusut, wajah memerah, dan melontarkan caci maki karena kariernya tamat. Arini mengira pria itu akan mengemis agar video tersebut diturunkan demi menyelamatkan pekerjaannya.

Namun, yang berdiri di ambang pintu bukanlah pria yang kalah. Jas navy bespoke Prasetya masih terpasang rapi, licin tanpa lipatan. Postur tubuhnya setegak beton. Tidak ada kepanikan di wajahnya, hanya ada kekosongan absolut yang berlapis arogansi intelektual.

Prasetya berjalan melewati ruang tengah, melangkahi serpihan kaca iPad tanpa meliriknya sedikit pun. Ia duduk di sofa seberang meja, berhadapan dengan Arini. Ia melepas kacamata bacanya dan meletakkannya di atas meja kaca.

"Purnomo membatalkan promosi Vice President saya," ucap Prasetya. Suaranya mengalun sangat datar, seolah ia sedang membacakan indeks saham harian. "Saya juga dibebastugaskan dari portofolio klien utama selama tiga bulan. Hendra yang akan mengambil kursi itu."

Lihat selengkapnya