PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #41

Bab 41

Pukul 21.00 WIB. Hari Senin. Malam terakhir di Blok Mawar.

Koper Rimowa Classic Cabin berbahan aluminium itu tergeletak terbuka di atas ranjang kamar tamu. Prasetya Wirawan melipat kemeja-kemeja kerjanya dengan presisi matematis, memastikan kerahnya tidak tertekuk dan lengannya sejajar sempurna. Ia memasukkan shoe tree (ganjalan sepatu) dari kayu cedar ke dalam sepatu Oxford-nya sebelum menyusunnya ke dalam kompartemen koper.

Semua barang pribadinya—pakaian, jam tangan yang tersisa, dokumen legal, dan perangkat elektronik—telah rapi dikemas. Besok pagi, ia akan resmi meninggalkan rumah ini. Ia telah menyewa sebuah unit di Co-Living Premium di kawasan Senopati dengan harga dua puluh juta rupiah per bulan. Uangnya masih banyak. Ia tidak jatuh miskin. Ia hanya sedang melikuidasi lokasi geografisnya.

Di lantai dua, tepat di atas kamar tamu ini, Prasetya bisa mendengar suara langkah kaki Arini yang mondar-mandir. Terdengar juga sayup-sayup suara Arini yang sedang berbicara dengan nada dramatis, diselingi jeda untuk membaca komentar.

Prasetya mendengus pelan. Mantan istrinya itu pasti sedang melakukan Live Streaming di TikTok atau Instagram. Arini sedang menikmati dividen pertamanya dari hasil menjual status "Janda Teraniaya". Arini sedang memupuk validasi dari ribuan pengikut barunya, mempersiapkan panggung untuk podcast berbayar ratusan juta esok hari. Arini merasa ia telah menang dan merdeka. Arini merasa ia adalah entitas independen yang tak lagi membutuhkan suaminya.

Namun, saat Prasetya menghentikan aktivitas mengepaknya dan menatap lampu LED biru yang berkedip di router internet sudut ruangan, sebuah pemikiran yang sangat analitis dan mematikan muncul di kepalanya.

Merdeka?

Prasetya tersenyum sinis. Arini tidak merdeka. Sang Jenderal Digital itu mungkin memiliki jutaan followers, tapi kerajaan digitalnya saat ini dibangun di atas infrastruktur yang dibayar dan dikendalikan sepenuhnya oleh Prasetya.

Rumah Blok Mawar ini adalah sebuah mahakarya Smart Home (Rumah Pintar). Delapan tahun lalu, saat mereka baru pindah, Prasetya membangun ekosistem teknologi di rumah ini dari nol. Jaringan fiber-optic berkecepatan 1 Gbps, sistem pencahayaan pintar Philips Hue, sistem keamanan smart lock di setiap pintu, hingga thermostat sentral untuk AC, semuanya terhubung dalam satu hub utama.

Dan siapa Super Admin (Administrator Tertinggi) dari seluruh ekosistem ini? Prasetya Wirawan.

Di era modern, kedaulatan bukan lagi ditentukan oleh siapa yang memegang sertifikat tanah, melainkan siapa yang memegang password Wi-Fi dan akses root dari sistem operasional.

Prasetya berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil iPad Pro miliknya (yang layarnya masih utuh sempurna, tidak seperti milik Arini yang telah ia hancurkan pagi tadi). Ia membuka aplikasi Control Center rumah Blok Mawar. Layar menampilkan peta topologi digital dari rumah tersebut. Ia bisa melihat dua belas perangkat sedang terhubung ke jaringan internet rumah. Tiga di antaranya adalah milik Arini: iPhone Pro Max, MacBook Air, dan Smart TV di kamar utama.

Prasetya duduk di kursi ergonomisnya. Jari-jarinya bersiap di atas layar sentuh. Ia tidak akan berteriak. Ia tidak akan menggedor kamar Arini untuk menghentikan Live Streaming perempuan itu. Itu adalah cara kaum barbar yang tidak berpendidikan. Sebagai seorang Dewa Logika, Prasetya akan menunjukkan apa artinya 'Kemerdekaan' yang sesungguhnya. Ia akan melakukan Technological Blackout (Pemutusan Sistem).

Fase pertama: Jaringan Komunikasi.

Prasetya masuk ke pengaturan Router utama. Ia menggulir ke daftar Connected Devices (Perangkat Terhubung). Ia menemukan alamat IP dan MAC Address (Identitas Fisik) dari iPhone dan MacBook milik Arini. Layar menunjukkan indikator bandwidth yang sedang tersedot deras oleh perangkat Arini—bukti bahwa wanita itu sedang melakukan siaran langsung dengan resolusi tinggi.

Kau ingin independen, Arini? Belilah kuota internetmu sendiri.

Dengan satu ketukan pelan yang mematikan, Prasetya menekan opsi 'Block Device' pada ketiga gawai milik Arini.

Dalam hitungan milidetik, koneksi internet di lantai dua terputus absolut. Siaran langsung Arini di depan puluhan ribu penonton pasti terhenti dengan layar loading berputar (buffering), sebelum akhirnya terputus total. Prasetya juga mengganti password Wi-Fi rumah dari kombinasi angka lama menjadi string acak 16 karakter yang hanya ia ketahui.

Lihat selengkapnya