Pukul 14.30 WIB. Hari Rabu.
Layar iPhone 17 Pro milik Prasetya Wirawan menyala di atas nakas marmer hitam. Sebuah notifikasi pesan WhatsApp dari Surya, pengacara korporatnya, muncul di layar yang terkunci.
Surya (Lawyer): Ketukan palu sudah dijatuhkan oleh majelis hakim sepuluh menit yang lalu, Pak Prasetya. Putusan Verstek. Anda dan Ibu Arini resmi bercerai secara hukum. Salinan putusan dan akta cerai akan saya kirimkan ke tempat Anda minggu depan. Selamat menikmati lembaran baru.
Prasetya menatap layar itu hingga kembali meredup dan mati. Tidak ada reaksi dramatis. Ia tidak mengembuskan napas lega yang panjang, tidak pula menitikkan air mata penyesalan. Ia hanya menggeser layar, mengarsipkan pesan tersebut ke dalam folder Legal & Compliance, lalu meletakkan ponselnya kembali.
Secara administratif, delapan tahun hidupnya baru saja dihapus dari catatan sipil negara. Pernikahannya telah resmi menjadi sunk cost—biaya masa lalu yang telah tertanam, tidak bisa ditarik kembali, dan tidak relevan lagi untuk dihitung dalam pengambilan keputusan di masa depan.
Prasetya mengalihkan pandangannya, mengedarkan observasi visual ke sekeliling tempat tinggal barunya.
Ia kini berada di sebuah unit Co-Living Premium eksklusif di kawasan Senopati, berjarak hanya dua kilometer dari gedung kantornya yang kini tak bisa ia masuki akibat status cuti tanpa tanggungan. Biaya sewa unit ini adalah dua puluh lima juta rupiah per bulan. Sebuah angka yang sangat rasional bagi Prasetya.
Di tempat ini, efisiensi mencapai bentuk tertingginya.
Ruangan seluas empat puluh lima meter persegi ini dirancang dengan gaya minimalis industrial yang sangat dingin. Lantainya dilapisi vinyl motif kayu ash grey, dindingnya dicat putih steril, dan perabotannya sepenuhnya fungsional. Tidak ada pernak-pernik tidak berguna. Tidak ada pot tanaman hias yang membutuhkan perawatan. Tidak ada tumpukan bantal estetik yang biasa Arini beli hanya untuk kebutuhan feed Instagram.
Lebih dari itu, sistem Co-Living ini memberikan Prasetya sebuah prediktabilitas finansial yang absolut. Uang sewa dua puluh lima juta itu sudah termasuk biaya listrik tak terbatas, air, internet broadband khusus gaming, layanan kebersihan harian, hingga penggantian seprai tiga hari sekali.
Prasetya tidak perlu lagi menghitung depresiasi mesin cuci karena laundry sudah termasuk dalam paket. Ia tidak perlu lagi menghitung biaya beban kompresor kulkas atau argon gas karena kulkas mini di sudut ruangan itu adalah milik pengelola. Biaya operasional (Operating Expense / OPEX) hidupnya kini bersifat Fixed Cost (Biaya Tetap). Tidak ada lagi Variable Cost (Biaya Variabel) yang fluktuatif akibat ulah istri yang boros.
Ini adalah utopia logis bagi seorang Risk Manager. Sistem pertahanan finansial yang tak tertembus.
Prasetya bangkit dari sofa tunggal berlapis kulit sintetis dan berjalan menuju koper Rimowa aluminiumnya yang terbuka di lantai. Ia memulai ritual unpacking (membongkar barang) dengan tingkat presisi yang setara dengan seorang dokter bedah yang sedang menata instrumen operasinya.
Ia mengeluarkan tiga pasang sepatu kulit Oxford dan Derby-nya. Ia memasukkan shoe tree berbahan kayu cedar ke dalam masing-masing sepatu agar bentuknya tetap sempurna dan material kulitnya menyerap aroma pinus yang mahal. Ia menyusun ketiga pasang sepatu itu di rak bawah dengan jarak simetris, masing-masing terpisah tepat lima sentimeter.
Selanjutnya, ia menata kemeja kerjanya. Kemeja putih, biru muda, dan navy digantung dengan gradasi warna yang berurutan. Ujung lengan kemeja disamaratakan jatuhnya.
Sambil tangannya bergerak mekanis, mesin kalkulator di dalam otak Prasetya terus berputar, mengkalkulasi neraca kemenangannya dalam perpisahan ini.
Aku memenangkan aset, batin Prasetya.