Pukul 15.00 WIB. Hari Jumat.
Ada fenomena fisika dasar yang terjadi ketika sebuah rumah kehilangan seluruh furnitur dan penghuninya: perubahan akustik. Tanpa adanya sofa kain yang menyerap suara, tanpa karpet wol tebal dari Turki, dan tanpa pigura kanvas di dinding, gelombang suara akan memantul bebas menghantam permukaan beton dan kaca.
Setiap langkah sepatu heels Christian Louboutin setinggi sembilan sentimeter yang dikenakan Arini Prameswari menciptakan bunyi ketukan tajam yang bergema ke seluruh penjuru rumah Blok Mawar. Tuk. Tuk. Tuk. Suara itu terdengar sangat nyaring, hampa, dan sedikit menakutkan.
Arini berdiri di tengah ruang keluarga yang kini telah kosong melompong. Dindingnya bersih tanpa cacat, lantai marmernya telah dipoles ulang oleh jasa pembersih profesional yang ia sewa pagi tadi. Rumah miliaran rupiah ini telah dikembalikan ke status default-nya: sebuah komoditas properti yang siap ditawarkan ke pasar.
Ia menengok ke arah dapur bersih. Island marmer tempat Prasetya biasa menyemir sepatu kulitnya kini bersih tanpa noda. Tidak ada lagi mesin pembuat kopi seharga belasan juta. Tidak ada lagi sisa-sisa aroma Vetiver milik mantan suaminya.
Arini melirik jam tangan Cartier Tank di pergelangan tangan kirinya. Pukul tiga lewat lima menit.
Terdengar suara derit gerbang depan yang digeser. Dua sosok pria berjalan melintasi pekarangan yang rumputnya baru saja dipotong rapi. Yang pertama adalah Prasetya Wirawan, mengenakan kemeja linen putih lengan panjang yang digulung rapi hingga siku. Di belakangnya, mengekor seorang pria muda berpakaian rapi dengan lanyard ID Card agen properti elit mengalung di lehernya.
Arini memutar tubuhnya, memasang postur paling elegan yang ia miliki. Ia mengenakan dress selutut berwarna beige dari lansiran rumah mode Eropa, dipadukan dengan kacamata hitam yang bertengger manis di atas kepalanya. Ia tidak terlihat seperti seorang janda yang baru saja kehilangan rumah. Ia terlihat seperti seorang investor yang siap melikuidasi asetnya.
Pintu utama terbuka. Prasetya dan agen properti itu melangkah masuk.
"Selamat sore, Ibu Arini," sapa sang agen properti dengan nada yang terlalu riang dan gugup, berusaha keras memecah kebekuan udara di ruangan itu. Ia mengulurkan tangan. "Saya Rayhan, dari Prestige Property. Pak Prasetya sudah menunjuk saya untuk menangani listing penjualan rumah ini."
Arini menjabat tangan pemuda itu singkat. "Sore, Rayhan. Pastikan kamu menjualnya di atas harga appraisal (penilaian bank). Pencahayaan rumah ini sempurna untuk keluarga muda."
"Tentu, Bu. Tentu saja," Rayhan tersenyum canggung. Pemuda itu pasti tahu siapa Arini. Pemuda itu pasti memiliki aplikasi TikTok di ponselnya dan telah menonton video tangisan Arini yang viral itu berulang kali. Namun, sebagai profesional yang mengincar komisi ratusan juta, Rayhan memilih untuk berakting buta dan tuli.
Prasetya melangkah maju. Ia tidak menyapa Arini. Ia hanya mengeluarkan sebuah map plastik bening dari dalam tas dokumennya, lalu menarik selembar kertas formulir.
"Ini adalah Berita Acara Serah Terima (BAST) pengosongan properti," ucap Prasetya dengan nada yang lebih mirip seperti seorang inspektur gedung daripada seorang mantan suami. Ia menyerahkan sebuah pena ke arah Arini. "Sesuai kesepakatan pengadilan, kamu wajib mengosongkan properti ini selambat-lambatnya hari ini. Kamu sudah memindahkan semua barangmu?"
"Semua yang memiliki valuasi dan nilai guna sudah dipindahkan ke apartemenku di Mega Kuningan oleh vendor logistik tadi pagi," jawab Arini dengan senyum Umbridge-nya. "Yang tertinggal hanyalah beberapa barang dengan depresiasi nol yang sudah aku buang ke tempat sampah di luar."
"Bagus. Mari kita lakukan inspeksi final," kata Prasetya klinis.
Mereka bertiga melakukan prosesi yang sangat ganjil. Arini, Prasetya, dan Rayhan berjalan beriringan dari satu ruangan ke ruangan lain. Memeriksa engsel pintu walk-in closet, mengecek saluran air di kamar mandi utama, dan memastikan tidak ada kaca jendela yang retak.