Pukul 22.15 WIB. Hari Jumat.
Apartemen sewaan di lantai 28 kawasan Mega Kuningan itu memiliki luas tujuh puluh meter persegi. Interiornya bergaya minimalis modern dengan dominasi warna putih gading dan emas. Jauh lebih kecil dibandingkan rumah Blok Mawar, namun biaya sewanya mencapai delapan belas juta rupiah per bulan. Ini adalah benteng kemerdekaan baru bagi Arini Prameswari.
Arini berdiri di depan cermin wastafel kamar mandi yang dilapisi marmer putih. Ia baru saja selesai membersihkan sisa-sisa makeup tebal dari sesi pemotretannya tadi sore. Ia mengenakan robe sutra tipis, rambutnya diikat longgar. Wajahnya terlihat sangat lelah, namun matanya tidak memancarkan emosi apa pun. Kering, dingin, dan kosong.
Tiba-tiba, sebuah bunyi peringatan memecah kesunyian apartemen.
Tit. Tit. Tit.
Suara itu berasal dari kotak panel meteran listrik prabayar yang terletak di dinding lorong dekat pintu masuk. Bunyi itu berulang setiap lima belas menit. Indikator bahwa kuota kWh (Kilowatt-hour) listrik apartemen tersebut sudah berada pada batas minimum dan akan segera mati.
Arini berjalan keluar dari kamar mandi, menghampiri panel tersebut. Layar digital kecil berwarna kuning itu berkedip-kedip menampilkan angka 02.40.
Selama delapan tahun hidup bersama Prasetya, Arini tidak pernah sekalipun menyentuh panel seperti ini. Di rumah Blok Mawar, seluruh tagihan utilitas—listrik pascabayar, air, internet, asuransi, hingga pajak kendaraan—dibayar secara otomatis (autodebet) dari rekening pusat yang dikelola oleh Prasetya. Suaminya yang gila kontrol itu mungkin sering mengomel soal biaya argon gas kulkas, tetapi Prasetya tidak pernah membiarkan rumah mereka kehabisan daya listrik sedetik pun. Prasetya mengelola infrastruktur hidup mereka layaknya dewa mesin.
Kini, Arini harus menghadapinya sendiri. Inilah dividen dari kemerdekaannya.
Arini kembali ke kamar tidur, mengambil iPhone Pro Max-nya dari atas kasur. Ia membuka aplikasi mobile banking barunya. Dengan cepat, ia membeli token listrik senilai satu juta rupiah. Uang bukan masalah baginya sekarang. Saldo rekeningnya baru saja mendapat suntikan dana seratus lima puluh juta dari podcast kemarin.
Layar ponselnya menampilkan deretan dua puluh digit angka token.
Arini kembali berjalan ke lorong. Ia menatap panel meteran di dinding. Panel itu memiliki tombol-tombol karet abu-abu bernomor 0 sampai 9 yang terlihat kaku dan usang.
Arini mengangkat ponselnya, melihat dua puluh digit angka itu, lalu menatap keypad di panel. Ia mengangkat telunjuk kirinya, bersiap menekan tombol pertama.
Namun, jarinya berhenti di udara. Berjarak dua sentimeter dari permukaan tombol karet tersebut.
Tiba-tiba saja, sebuah sensasi kelumpuhan yang aneh merayapi sistem saraf Arini. Menekan dua puluh digit angka di panel listrik yang berdebu ini adalah sebuah pekerjaan fisik yang sangat sepele. Anak SMP pun bisa melakukannya. Tetapi bagi Arini, deretan angka itu dan tombol karet murahan itu merepresentasikan realitas administratif yang sangat brutal. Realitas bahwa ia benar-benar sendirian. Realitas bahwa tidak ada lagi 'Sistem Prasetya' yang menopang fondasi kehidupannya.