PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #46

Bab 46

Pukul 22.30 WIB. Hari Jumat.

Waktu yang bergulir di dalam unit Co-Living Premium di kawasan Senopati itu terasa seperti waktu yang berjalan di dalam ruang isolasi laboratorium. Udara disaring oleh HEPA filter berskala industri, memastikan tidak ada debu atau polutan Jakarta yang masuk. Suhu ruangan terkunci mati pada angka 20 derajat Celcius. Cahaya dari lampu LED di plafon memendarkan warna putih netral 4000 Kelvin—suhu cahaya yang secara saintifik terbukti paling optimal untuk mempertahankan fokus.

Di atas lantai vinyl bermotif kayu ash grey yang dibersihkan setiap pagi oleh layanan housekeeping, Prasetya Wirawan sedang berlutut.

Ia masih mengenakan kemeja kerja berwarna biru muda, namun lengannya telah digulung rapi hingga tepat di bawah siku. Celana bahan wolnya sedikit meregang di bagian paha saat ia mempertahankan posisi berlututnya. Di tangan kanannya, Prasetya memegang sebuah penggaris baja antikarat ( stainless steel ) sepanjang tiga puluh sentimeter.

Di depannya, berjajar empat pasang sepatu kulit formal. Sepasang Oxford Cap-toe berwarna hitam pekat, sepasang Derby berwarna cokelat mahoni, sepasang Monk Strap dengan gesper perak, dan sepasang Loafer kulit suede berwarna navy. Setiap sepatu telah dimasukkan shoe tree dari kayu pinus agar bentuknya tidak berubah. Setiap permukaan kulitnya telah dipoles hingga mampu memantulkan cahaya lampu LED di atasnya.

Namun, fokus Prasetya malam ini bukanlah pada kebersihan sepatu-sepatu tersebut. Fokusnya berada pada sebuah metrik yang jauh lebih absolut: Spasi.

Prasetya meletakkan ujung penggaris baja itu di sisi luar sol sepatu Oxford hitam sebelah kiri, lalu mengukurnya hingga ke sisi dalam sol sepatu kanannya. Matanya memicing, menatap garis milimeter pada penggaris baja tersebut dengan intensitas seorang ahli penjinak bom.

"Empat koma dua sentimeter," gumam Prasetya pelan. Suaranya memecah keheningan ruangan yang kedap suara itu.

Itu adalah margin kesalahan. Jarak standar yang ia tetapkan malam ini untuk spasi antarsepatu adalah tepat 5.0 sentimeter. Tidak boleh 4.9. Tidak boleh 5.1.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Prasetya menggeser sepatu Oxford kanannya sejauh delapan milimeter ke arah kanan. Bunyi gesekan pelan sol kulit bertemu lantai vinyl terdengar ritmis. Ia kembali meletakkan penggaris bajanya. Ia menyejajarkan pandangannya dengan lantai, memastikan angka '5' pada penggaris baja itu sejajar sempurna dengan tepi sol.

Sempurna.

Ia beralih ke pasang sepatu berikutnya. Sepasang Derby cokelat mahoni. Prasetya mengulangi proses yang sama. Ia mengukur. Ia menemukan deviasi sebesar tiga milimeter. Ia menggesernya. Ia memverifikasi ulang.

Di masa lalu, saat ia masih tinggal di rumah Blok Mawar, rutinitas ini tidak pernah terjadi dalam level seklinis ini. Di sana, selalu ada kekacauan domestik yang mengganggu. Arini selalu melepaskan sepatu hak tingginya secara serampangan di dekat pintu masuk. Reno sering meninggalkan mainan robotnya di lorong. Dulu, tugas Prasetya adalah menceramahi mereka, menghitung biaya depresiasi atas kecerobohan mereka, dan memaksakan ketertiban. Prasetya hidup untuk mengendalikan entropi (kekacauan) yang diciptakan oleh keluarganya.

Sekarang? Tidak ada lagi entropi. Tidak ada variabel yang tidak bisa ditebak.

Arini telah pergi membawa drama podcast dan tangisannya. Reno telah pergi. Ibunya, Mama Nita, telah ia blokir akses komunikasinya. Kantornya telah menangguhkan tugasnya dan membiarkannya dalam status Cuti Tanpa Tanggungan.

Prasetya akhirnya memiliki apa yang selama delapan tahun selalu ia agung-agungkan di setiap perdebatan: Ketertiban Absolut. Absolute Order.

Ia menyelesaikan pengukuran pada pasang sepatu terakhir. Keempat pasang sepatu itu kini berdiri sejajar dalam formasi baris-berbaris yang tidak memiliki cacat matematis sedikit pun. Jarak antar-sepatu di dalam setiap pasang adalah 5.0 sentimeter. Jarak antar-pasangan sepatu adalah 10.0 sentimeter. Ujung sepatu menyentuh garis imajiner yang lurus sejajar dengan garis nat lantai vinyl.

Prasetya berdiri. Ia meletakkan penggaris baja itu di atas nakas dengan bunyi denting logam pelan.

Lihat selengkapnya