PERNIKAHAN BAHAGIA 1.0 - Bug Detected

PapaDi_YSELnury
Chapter #47

Bab 47

Pukul 09.58 WIB. Hari Sabtu.

Lantai dasar Pacific Place Mall di kawasan SCBD selalu memancarkan kemewahan yang terkalibrasi. Marmer impor dari Italia di bawah kaki memantulkan cahaya dari lampu kristal di langit-langit. Udara dipenuhi oleh perpaduan aroma biji kopi Arabika yang sedang dipanggang dari kafe-kafe premium dan wangi parfum niche dari para pengunjung yang berlalu-lalang.

Prasetya Wirawan duduk tegak di salah satu kursi rotan bergaya kolonial di area luar sebuah tea salon eksklusif. Di hadapannya, secangkir teh Earl Grey yang uapnya nyaris hilang belum disentuh sama sekali.

Ia mengenakan kemeja polo berbahan cashmere blend berwarna navy gelap dan celana chino krem yang disetrika tanpa satu pun lipatan mati. Jam tangan di pergelangan kirinya bukan lagi Omega Speedmaster yang telah ia likuidasi di masa lalu, melainkan sebuah jam tangan pintar Garmin high-end dengan layar sapphire yang selalu menyala menampilkan detak jantungnya yang stabil di angka 62 Beat Per Minute (BPM).

Prasetya menatap layar jam tersebut. Angka digital berpindah dari 09:59 menjadi 10:00.

Sesuai dengan Service Level Agreement (SLA) hak asuh anak yang disahkan oleh pengadilan agama tiga minggu yang lalu, Prasetya memiliki hak kunjungan setiap hari Sabtu mulai pukul sepuluh pagi, dan wajib mengembalikan "objek pengawasan"—yakni putra mereka, Reno—kepada Arini pada hari Minggu pukul lima sore.

Jadwal ini bukan sekadar rutinitas. Bagi Prasetya, ini adalah jadwal operasional yang mengikat secara hukum. Keterlambatan adalah sebuah pelanggaran kontrak.

Pukul 10:02 WIB.

Mata hitam Prasetya menangkap pergerakan dari arah eskalator lobi utama. Dua sosok yang sangat familiar melangkah mendekat.

Arini Prameswari tidak berjalan seperti seorang ibu yang sedang mengantarkan anaknya di akhir pekan. Ia berjalan layaknya seorang CEO yang sedang melakukan inspeksi di lantai bursa saham. Arini mengenakan blazer oversized berwarna putih gading dari desainer ternama, dipadukan dengan celana kulot lebar dan sepatu stiletto yang haknya berdenting berirama menghantam lantai marmer. Di wajahnya bertengger kacamata hitam berbingkai besar, menutupi sebagian ekspresinya. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah gelas plastik berisi iced matcha latte—sebuah properti wajib untuk estetika kamera—sementara tangan kirinya sibuk membalas pesan di iPhone terbarunya dengan kecepatan kilat.

Di samping Arini, berjalanlah Reno. Bocah berusia tujuh tahun itu mengenakan kemeja berkerah yang dimasukkan rapi ke dalam celana pendek katun. Di tangan kanannya, Reno menarik sebuah koper kabin berukuran kecil (trolley bag) berwarna perak.

Prasetya berdiri. Ia tidak menyunggingkan senyum, tidak pula melambaikan tangan layaknya seorang ayah yang merindukan anaknya. Ia hanya merapikan kerah polonya.

Arini dan Reno tiba di depan meja Prasetya tepat pada pukul 10:03 WIB.

"Kamu terlambat tiga menit dari jadwal Hand-over (Serah Terima) yang tertera di dokumen legal kita, Arini," sapa Prasetya sebagai kalimat pembuka, suaranya mengalun datar, dingin, dan sangat mekanis. Tidak ada sapaan "Apa kabar?". Tidak ada basa-basi.

Arini tidak melepas kacamata hitamnya. Ia hanya menggeser pandangannya dari layar ponsel ke arah dada Prasetya. Sudut bibirnya yang dipoles lipstik berwarna nude matte tertarik sedikit ke atas, membentuk senyum pasif-agresif yang sangat presisi.

"Jalan Jenderal Sudirman ditutup satu lajur karena ada acara lari maraton yang disponsori oleh bank pelat merah pagi ini," jawab Arini tanpa nada bersalah sedikit pun. "Secara hukum korporat, itu masuk dalam kategori Force Majeure (Keadaan Kahar). Kamu tidak bisa menghitungnya sebagai penalti keterlambatan, Vendor."

Kata 'Vendor'. Arini menggunakannya dengan sangat fasih. Mereka bukan lagi mantan suami istri. Mereka adalah dua penyedia jasa yang terikat kontrak untuk memastikan kelangsungan hidup sebuah entitas bernama Reno.

Prasetya menerima alasan logis tersebut dengan anggukan tunggal. "Diterima. Mari kita proses inventarisnya."

Lihat selengkapnya