Pukul 16.55 WIB. Hari Minggu.
Lobi apartemen mewah di Mega Kuningan itu memiliki desain high-ceiling (langit-langit tinggi) dengan pilar-pilar berlapis marmer hitam Nero Marquina. Udara di dalam lobi beraroma lemongrass dan teh hijau yang dipompa perlahan melalui sistem ventilasi tersembunyi. Bagi orang luar, tempat ini adalah surga kaum elit ibu kota.
Namun bagi Arini Prameswari yang sedang duduk di salah satu sofa lounge Chesterfield, tempat ini hanyalah titik koordinat untuk sebuah transaksi logistik.
Arini menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa kulit tersebut. Matanya terpejam. Otot-otot di sekitar rahang dan tulang pipinya terasa sangat kaku, nyaris kram. Rasa sakit itu bukan disebabkan oleh penyakit fisik, melainkan efek samping dari memalsukan ekspresi wajah selama empat puluh delapan jam tanpa henti.
Akhir pekannya dihabiskan sebagai mesin pencetak uang yang beroperasi penuh. Ia melakukan dua sesi Live TikTok sambil menceritakan "perjuangan beratnya", satu sesi pemotretan produk kolagen dengan tema "Janda Bangkit", dan puluhan update Instastory di mana ia harus terlihat elegan namun menyiratkan luka batin yang dalam.
Pekerjaan barunya sebagai representasi "Korban Patriarki yang Berdaya" ternyata menuntut Key Performance Indicator (KPI) yang jauh lebih melelahkan daripada menjadi istri Prasetya Wirawan. Arini dibayar untuk memproduksi validasi. Audiensnya, layaknya dewan direksi yang tak pernah puas, menuntut laporan penderitaan dan kebangkitannya setiap hari.
Tiba-tiba, alarm halus dari iPhone-nya bergetar di atas meja kaca. Pukul 16:59 WIB.
Arini membuka matanya. Ia memperbaiki letak kacamata hitamnya dan merapikan setelan blazer kasualnya. Ia tidak akan membiarkan Prasetya melihatnya kelelahan.
Tepat saat angka di layar ponselnya berubah menjadi 17:00, pintu putar kaca lobi utama bergerak. Dua sosok melangkah masuk menembus pendingin udara lobi. Prasetya dan Reno.
Arini berdiri dari sofanya. Ia mengamati mantan suaminya itu dengan tatapan analitis. Prasetya mengenakan kemeja polo navy dan celana chino. Penampilan fisik pria itu tidak berubah, masih rapi dan presisi tanpa cacat. Namun, ada yang mati di dalam diri Prasetya. Cara pria itu berjalan tidak lagi memancarkan arogansi menantang layaknya seorang penakluk SCBD. Prasetya berjalan seperti sebuah cangkang kosong yang dikendalikan oleh autopilot. Ia berjalan hanya karena fisika menuntut kakinya untuk melangkah.
Mereka tiba di depan meja Arini.
"Waktu Serah Terima (Handover) telah tiba," ucap Prasetya membuka percakapan. Suaranya datar, tanpa emosi, murni seperti suara mesin penjawab otomatis. "Sesuai Service Level Agreement (SLA) dari pengadilan, saya mengembalikan objek pengawasan kepada Anda tepat pada pukul tujuh belas nol-nol. Tidak ada penalti keterlambatan."
Arini tidak membalas sapaan itu. Ia hanya melipat tangannya di dada dan mengarahkan pandangannya pada Reno.
"Halo, Sayang," sapa Arini. Ia mencoba memberikan senyum keibuan, namun otot wajahnya yang sudah kelelahan berakting seharian hanya mampu membentuk seringai kaku. "Bagaimana akhir pekanmu bersama Papa?"
Reno mendongak. Di wajah bocah tujuh tahun itu, tidak ada senyum. Tidak ada cerita riang tentang makan es krim atau menonton film. Reno justru merogoh saku celananya dan mengeluarkan secarik kertas yang dilipat rapi, persis seperti yang ia lakukan pada hari Sabtu kemarin.
"Akhir pekan berjalan sesuai parameter yang diizinkan, Mama," jawab Reno dengan intonasi yang begitu jernih dan mekanis. Bocah itu menyodorkan kertas tersebut kepada Arini. "Ini adalah Laporan Audit Singkat (Summary Audit Report) dari Reno. Konsumsi kalori harian tidak melebihi dua ribu kalori, asupan gula ditekan di bawah dua puluh gram sesuai permintaan Mama, dan screen-time iPad tidak lebih dari dua jam."