Taman bermain Global Nusantara International School didesain untuk merangsang kreativitas dan kebahagiaan. Rumput sintetisnya selalu hijau dan empuk, alat permainannya diimpor dari Swedia, dan udara di kawasan elit Jakarta Selatan ini terasa sedikit lebih bersih karena dikelilingi pepohonan rimbun. Di jam istirahat ini, puluhan anak berusia tujuh hingga delapan tahun berlarian, tertawa, dan saling berbagi bekal makanan impor mereka.
Namun, bagi Tika—guru wali kelas 2B yang baru berusia dua puluh enam tahun—pemandangan idilis itu akhir-akhir ini terasa memiliki bayangan gelap yang mengganggu.
Tika berdiri di bawah naungan pohon rindang sambil memegang papan jalan (clipboard), mengawasi murid-muridnya. Pandangannya tidak tertuju pada anak-anak yang sedang bermain perosotan atau berkejaran. Mata Tika terkunci pada satu sosok murid laki-laki yang duduk sendirian di gazebo kayu di sudut paling sepi taman.
Reno Wirawan.
Tika mengingat dengan sangat jelas insiden "Jasa Mediasi" beberapa minggu yang lalu, saat Reno memeras uang jajan dua temannya yang sedang bertengkar memperebutkan mainan. Sejak kejadian itu, Tika telah memanggil ibunda Reno, Ibu Arini, via telepon. Ibu Arini berjanji akan mengurusnya. Tika juga mengetahui dari berita gosip yang meledak di media sosial bahwa orang tua Reno sedang dalam proses perceraian yang sangat brutal dan penuh skandal publik.
Berdasarkan teori psikologi perkembangan anak yang Tika pelajari di bangku kuliah, anak dari keluarga yang hancur (broken home) biasanya akan menunjukkan dua jenis reaksi ekstrem: menjadi sangat agresif (pemarah, suka memukul) atau menjadi sangat tertutup (depresi, menangis di kelas, nilai akademis anjlok).
Reno tidak menunjukkan kedua gejala tersebut. Nilai Matematika dan bahasa Inggrisnya tetap sempurna. Ia tidak pernah memukul temannya. Ia tidak pernah menangis mencari ibunya. Reno datang ke sekolah setiap hari dengan seragam yang tersetrika licin, duduk tenang di bangkunya, dan merespons pertanyaan guru dengan artikulasi yang sangat presisi.
Namun, ketenangan itulah yang membuat bulu kuduk Tika berdiri. Ketenangan Reno bukanlah ketenangan anak yang tangguh; itu adalah ketenangan sebuah mesin pemangsa yang sedang menunggu mangsanya lengah.
Dalam dua minggu terakhir, Tika mulai menyadari keanehan-keanehan kecil—anomali sistemik—yang terjadi di dalam ekosistem kelas 2B.
Anomali pertama: Kenzo, anak salah satu pejabat kementerian yang biasanya selalu memamerkan alat tulis mahal merek Smiggle, tiba-tiba menggunakan pensil kayu murahan dan penghapus bekas.
Anomali kedua: Dafa, anak pengusaha startup yang selalu membawa bekal daging Wagyu atau sushi kelas atas, selama tiga hari berturut-turut terlihat memberikan kotak bekalnya kepada Reno, sementara Dafa sendiri hanya memakan roti isi selai kacang yang dibeli dari kantin.
Anomali ketiga: Tika menemukan beberapa anak menangis diam-diam di toilet, bukan karena di- bully secara fisik, melainkan karena mereka bergumam tentang "tenggat waktu" dan "bunga yang menumpuk".
Tika menarik napas dalam-dalam. Insting pendidiknya menyala. Ia memutuskan untuk turun tangan.
Dengan langkah pelan dan senyap, Tika menyusuri pinggiran taman bermain, menghindari jalur lari anak-anak lain. Ia mendekati gazebo kayu tempat Reno berada. Tika bersembunyi di balik semak tanaman hias yang cukup tinggi untuk menutupi tubuhnya, namun memberikannya celah pandang dan pendengaran yang sempurna ke dalam gazebo.
Di dalam sana, Reno sedang duduk bersila layaknya seorang eksekutif senior. Di pangkuannya terdapat sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam. Di tangannya, sebuah pulpen Parker perak (yang Tika tahu harganya mencapai jutaan rupiah) sedang diputar-putar dengan elegan.
Di hadapan Reno, berdiri seorang murid laki-laki bertubuh gempal bernama Bastian. Bastian terlihat sangat gugup, tangannya meremas ujung seragamnya hingga kusut. Wajahnya memerah karena cemas.
"R-Reno..." suara Bastian terdengar bergetar. "Aku... aku belum bisa mengembalikan spidol warna emas milikmu hari ini. Ibuku lupa membelikannya di mall kemarin. Tugasku untuk kelas kesenian besok belum selesai."
Reno tidak langsung menjawab. Bocah itu menghentikan putaran pulpennya, membuka buku catatan hitamnya, dan membalik halamannya dengan gerakan pelan yang sangat mengintimidasi.
"Bastian," suara Reno mengalun tenang, dingin, tanpa ada nada kekanak-kanakan sama sekali. "Mari kita tinjau kembali Terms and Conditions (Syarat dan Ketentuan) dari perjanjian pinjam-pakai kita minggu lalu. Kamu meminjam spidol Copic warna emas milikku yang berstatus Limited Edition (Edisi Terbatas) untuk menyelesaikan lukisan pemandanganmu. Benar?"
"I-iya, benar," Bastian menunduk.
"Sesuai kesepakatan verbal kita di depan saksi Dafa, masa sewa ( leasing ) spidol tersebut adalah tiga hari kerja," Reno menunjuk deretan tulisan di buku catatannya dengan ujung pulpen. "Hari ini adalah hari keempat. Artinya, kamu telah mengalami gagal bayar (default)."